Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Prof. Agustinus Murdjoko: Menjaga Rumah Besar Papua: Kekayaan Hayati, TEK, dan Tantangan Pengelolaan Hutan di Era Modern

Dilaporkan oleh Paulus Laratmase)*

“Rankuman  pemaparan Prof. Dr. Agustinus Murdjoko, S.Hut., M.Sc. Guru Besar  Fakultas Kehutanan, Universitas Papua pada Seminar Nasional IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Sabtu 15 November 2025.”

Papua, bagi banyak orang, hanyalah sebuah nama yang tertera di peta: lengkung tanah besar yang menjorok ke Samudra Pasifik, sunyi dalam jarak dan megah dalam stereotip. Namun bagi mereka yang bersentuhan langsung dengan denyutnya, Papua adalah “rumah besar” sebuah ruang luas yang tidak saja dihuni, tetapi dijaga, dirawat, dan diwariskan. Di sinilah salah satu kantong kekayaan hayati paling memesona di dunia berdiam dalam keheningan purba; di sinilah pula masyarakat adat membangun hubungan batin dengan hutan, sebuah hubungan yang tidak bisa diterjemahkan hanya dengan angka-angka statistik atau kerangka regulasi negara. Dalam seminar nasional IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Sabtu 15 November 2025, Prof. Dr. Agustinus Murdjoko menghadirkan kembali pesan kuno itu: bahwa memahami Papua adalah memahami jantung kehidupan yang berdetak dari akar pepohonan hingga narasi manusia yang tumbuh bersama tanahnya.

Prof. Dr. Agustinus Murdjoko, S.Hut., M.Sc. Fakultas Kehutanan Universitas Papua (urut dua dari kanan)

Papua, menurutnya,  lanskap hijau yang dapat diukur dengan hektare. Ia adalah organisme raksasa, berdiri di jantung keanekaragaman hayati global. Hutan-hutannya memuat rahasia evolusi, menyimpan jejak-jejak alam yang telah bekerja tanpa henti selama ribuan tahun. Penelitian yang dilakukan di Pegunungan Bintang, misalnya, bukan hanya menghasilkan daftar 80 famili dan 185 spesies pohon. Lebih dari itu, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa hutan Papua memiliki ritme dan logikanya sendiri: sebuah ritme regenerasi alami yang tampak dalam kurva J-terbalik yang menjadi ciri khas hutan sehat. Dari semai kecil yang baru mengenal cahaya, hingga tiang-tiang muda yang perlahan menggeliat mendobrak kanopi, semuanya saling menopang dalam simfoni ekologis yang nyaris tidak tersentuh tangan manusia.

Demikian pula penelitian di Papua Selatan, yang menemukan tidak kurang dari 194 spesies tumbuhan dari berbagai tipe kehidupan. Angka itu, bagi Prof. Murdjoko, bukan saja ribuan  data; itu adalah bukti bahwa Papua adalah halaman pertama dari kitab besar biodiversitas dunia. Di dalamnya, terdapat palem-palem yang anggun, paku-pakuan yang tumbuh lembut di bawah bayangan kanopi, herba-herba kecil yang menyembunyikan khasiat tradisional, dan ratusan jenis pohon besar yang telah menyaksikan generasi manusia lahir dan pergi tanpa mengubah keteguhan mereka menjaga bumi.

Namun, kekayaan ini menyimpan paradoksnya sendiri. Di balik keteduhan rimbun dan megahnya variasi spesies, terkandung kerentanan yang tersembunyi. Prof. Murdjoko mengingatkan bahwa beberapa spesies bernilai konservasi tinggi telah terdaftar dalam kategori terancam punah menurut IUCN Red List. Merbau (Intsia bijuga), yang keras dan kokoh, justru rapuh dari perspektif kelestarian. Anisoptera curtisii dan beberapa spesies Memecylon serta Syzygium bahkan berada di ambang kepunahan. Untuk menyadari betapa gentingnya keadaan hutan Papua, seseorang hanya perlu memahami satu hal: betapa mudah sebuah ekosistem yang tampaknya besar dan kuat dapat runtuh oleh intervensi kecil yang terus-menerus.

Namun Papua tidak hanya kaya karena spesies yang tumbuh dari tanah, melainkan juga karena pengetahuan yang tumbuh dari manusia. Pengetahuan Ekologi Tradisional lain disebut TEK—adalah warisan tak tertulis yang melintasi generasi. Ia adalah kebiasaan atau tradisi,  sebuah sistem pengetahuan yang dijahit dari pengalaman hidup, pengamatan detail terhadap alam, dan intuisi ekologis yang terasah. Prof. Murdjoko menghadirkan satu contoh yang sangat kuat: etnis Wandamen. Komunitas ini memiliki cara-cara khas memetakan hutan dan memaknai masa depannya. Mereka membedakan hutan primer, hutan sekunder, dan kebun tidak dari buku-buku botani, melainkan dari ingatan kolektif tentang bagaimana tanah bekerja, bagaimana tumbuhan merespons gangguan, bagaimana hutan menyembuhkan dirinya sendiri.

Praktik Apiaimi, meninggalkan beberapa pohon tertentu tetap tumbuh untuk pakan satwa liar dan mempertahankan siklus ekologi adalah contoh konkret dari manajemen konservasi yang lahir jauh sebelum kata “konservasi” dikenal luas di ruang akademik. Di sinilah letak keindahan sekaligus pelajaran dari masyarakat adat Papua: mereka tidak mengelola hutan demi profit, tetapi demi kesinambungan kehidupan.

Namun dunia modern dan tekanan ekonomi tidak memberikan ruang cukup untuk harmoni lama itu bertahan tanpa luka. Perladangan berpindah, meskipun bagian dari budaya, tetap memiliki efek ekologis. Penelitian menunjukkan bahwa hutan sekunder yang ditinggalkan sembilan tahun setelah dibuka masih kehilangan separuh kekayaan spesies dibandingkan hutan primer. Kandungan bahan organik tanah, sumber kehidupan bagi setiap tunas baru, membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk kembali pulih. Efek yang jauh lebih besar muncul dari pembalakan selektif oleh industri kayu. Bahkan setelah lima belas tahun, struktur dan komposisi pohon tidak kembali mendekati kondisi semula. Ini bukan hanya kerusakan; ini adalah kehilangan waktu ekologis yang tidak dapat dibeli kembali dengan uang atau  menanam bibit baru.

Di balik tantangan ekologis, Papua juga menghadapi tantangan pengetahuan. Tanah Papua adalah salah satu wilayah yang paling sedikit memiliki Petak Ukur Permanen (PSP) dalam sistem riset nasional. Ini membuat banyak wilayah bagaikan halaman kosong dalam buku kehutanan Indonesia belum diteliti, belum dipetakan, belum dipahami. Herbarium masih berjuang dengan minimnya spesimen voucher, sementara pencatatan spesies kerap hanya menggunakan nama lokal, menyulitkan peneliti untuk memastikan identifikasi ilmiah. Lapisan tantangan lain datang dari ketidakpastian pendanaan, lemahnya koordinasi riset, dan rendahnya budaya berbagi data yang sebenarnya sangat penting untuk penelitian kolaboratif.

Tantangan-tantangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial dan politik pada tingkat yang lebih luas. Ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur bergerak cepat, sering kali lebih cepat daripada kemampuan masyarakat adat untuk mempertahankan ruang hidup mereka. Lahan ulayat yang berubah menjadi kawasan industri adalah kehilangan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga epistemologis: ketika tanah pergi, pengetahuan pun ikut kabur.

Dalam seluruh bentang persoalan dan harapan itu, Prof. Murdjoko menyampaikan satu tesis yang teguh: masa depan hutan Papua tidak bisa dibangun hanya oleh ilmu pengetahuan modern, dan tidak pula dapat hanya mengandalkan kearifan tradisional. Harus ada pertemuan, perjumpaan epistemologis, antara data ilmiah yang ketat dan TEK yang terbukti adaptif. Ilmu memberikan angka; TEK memberikan makna. Ilmu mengukur; TEK merawat. Jika keduanya digabungkan dalam kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan sosial, maka Papua tidak hanya akan terjaga, tetapi akan terus menjadi rumah besar yang menyediakan kehidupan bagi generasi yang belum lahir.

Dan pada akhirnya, menjaga hutan Papua bukan hanya urusan ekologis. Itu adalah urusan moral. Urusan keberlanjutan martabat manusia. Sebab di bawah naungan pohon-pohon yang tumbuh perlahan selama berabad-abad, tersimpan cerita tentang kita semua: tentang bagaimana manusia bertahan karena alam, dan bagaimana alam bertahan jika manusia menghormatinya. Hutan Papua adalah warisan dunia, tetapi lebih dari itu, ia adalah cermin bagi masa depan kita. Menjaganya adalah menjaga kemungkinan bahwa dunia esok masih memiliki ruang untuk hidup yang utuh, adil, dan bermartabat.

*(Paulus Laratmase adalah Dosen Filsafat Pendidikan pada STKIP Biak Papua, Pimpinan Umum Media suaraanaknegerinews.com, Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia.