Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Prof. Zita: Pemanfaatan Pangan Lokal Papua untuk Peningkatan Gizi dan Kesehatan, Perspektif Teknologi Pangan Berkelanjutan

Laporan: Paulus Laratmase

Pada Seminar Nasional IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya yang berlangsung pada 15 November 2025, publik akademik kembali disapa oleh sosok perempuan ilmuwan yang selama ini menjadi salah satu pilar penelitian pangan di Tanah Papua: Prof. Dr. Zita Letviany Sarungallo. Dengan makalah berjudul Pemanfaatan Pangan Lokal Papua untuk Peningkatan Gizi dan Kesehatan: Perspektif Teknologi Pangan Berkelanjutan, Prof. Zita menghadirkan sebuah narasi kuat tentang bagaimana pangan lokal dapat menjadi sumber penyembuhan sosial, pemulih ketahanan gizi, sekaligus pintu menuju pembangunan berkelanjutan. Paparannya yang jernih, terukur, dan menyentuh lapisan-lapisan terdalam problem pangan Papua membuat ruang seminar dipenuhi dialog yang hidup dan penuh harapan.

Dalam presentasinya, Prof. Zita mengawali dengan membentangkan kondisi ketahanan pangan Papua melalui data peta pangan 2019, menegaskan bahwa kawasan ini masih berada dalam zona rentan. Stunting, anemia, serta keterbatasan akses pada sumber pangan bergizi diidentifikasi sebagai tantangan mendasar. Namun, lewat sudut pandang teknologi pangan, ia menampilkan cara pandang baru: persoalan gizi Papua bukan mustahil diatasi, sebab tanah ini memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Sagu, ubi jalar, buah merah, rumput kebar, hingga flora endemik lainnya bukan hanya bahan makanan, tetapi fondasi kedaulatan pangan yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Kekuatan presentasi Prof. Zita terletak pada kemampuannya merangkai kearifan lokal dengan inovasi ilmiah. Ia memaparkan pengembangan teknologi pengolahan sagu, mulai dari tepung instan, brownies sagu, hingga bioplastik dari limbah sagu, yang semuanya merupakan bagian dari riset berkelanjutan yang dirintis oleh Tim Peneliti Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), Universitas Papua (UNIPA). Dijelaskan pula Teknologi pirolisis untuk menghasilkan asap cair pengawet ikan dari kulit kayu sagu, serta pemanfaatan limbah cair ekstraksi sagu sebagai media mikroalga penghasil biodisel, memperlihatkan bahwa pangan lokal Papua tidak hanya dapat menyehatkan tubuh, tetapi juga membantu menghadirkan energi bersih dan industri berkelanjutan.

Tidak berhenti pada inovasi, Prof. Zita mengaitkan seluruh gagasannya dengan cita-cita besar SDGs. Menurutnya, pangan lokal dapat menjadi pintu masuk utama untuk mencapai Zero Hunger (SDG 2), peningkatan kesehatan masyarakat (SDG 3), dan tata produksi bertanggung jawab (SDG 12). Ia menekankan bahwa teknologi pangan bukan produk penelitian laboratorium, melainkan instrumen moral untuk menghadirkan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis. Dari sudut pandang itu, peran dosen dan akademisi, termasuk dalam komunitas IKDKI, menjadi sangat strategis: mereka adalah jembatan antara pengetahuan modern dan keberpihakan pada martabat manusia.

Prof. Dr. Zita Letviany Sarungallo adalah peneliti, pendidik yang membaktikan hidupnya untuk membangun generasi baru ilmuwan pangan Papua. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Hasanuddin (1989–1994), melanjutkan studi magister dan doktoral pada bidang Ilmu Pangan di Institut Pertanian Bogor (1998–2002; 2009–2014). Kiprahnya di Universitas Papua (UNIPA) dimulai sejak 2016 sebagai dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, hingga kemudian dipercaya menjabat Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (2015–2023).