April 20, 2026
Puasa dalam Rasa, Kebebasan dalam Merasa

Yusuf Achmad

Hari ini dan seterusnya, suci yang berkuasa,
Ramadhan, embun malam yang menyapa.
Kita berpuasa, iman tebal dalam jiwa,
Namun ada kelonggaran, bagi mereka yang berhak, penuh bijaksana.

Perempuan dan pengelana diberikan kelonggaran suci,
Lewat kitab yang berfirman dengan bijak.
Tak semua merasa iri hati,
Namun ada yang kebablasan dalam dalihnya.

Makan, minum, merokok tanpa batasan,
Dengan alasan tak mengimani, sah menurut firman-Nya.
Namun, mengapa harus ada yang murka?
Hatiku heran, penuh dengan tanya.

Mengapa merasa lebih mulia dari yang tak berpuasa?
Apakah kita lupa akan esensi dari berpuasa?
Puasa dari rasa, dari batin yang terbuka,
Berbeda antara si kecil dan dewasa.

Aku terdiam, seribu bahasa,
Karena puisi ini juga tidak berpuasa.
Seperti embun yang turun perlahan,
Mengajarkan kita untuk penuh kesabaran.

Menahan diri dari nafsu, amarah juga nestapa,
Menjaga hati tetap tenang dalam berkah.
Puasa adalah perjalanan rasa,
Meraih makna dalam kata dan jiwa.

Hari demi hari rasa dan batin berpuasa,
Meniti titian iman di dada,
Menjaga diri dalam puasa,
Puasa adalah cermin kuatnya jiwa, raga, karsa, dan rasa.

Surabaya, 5-3-2025

catatan: Puisi Ini pernah dimuat di PPIPM