May 10, 2026

“Puasa Langit”: Kumpulan Puisi [PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]

Lenny

Ilustrasi "Puasa Langit": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA), Editor: Leni Marlina. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-300 (Assisted by AI).

Editor: Leni Marlina

/1/

Puasa Langit

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Langit juga berpuasa,
menahan hujan di balik lipatan awannya.
Matahari berpuasa,
menahan panasnya agar bumi tak terbakar.
Bintang-bintang berpuasa,
menyimpan cahayanya untuk malam-malam tertentu.

Hanya manusia yang tergesa-gesa,
ingin berbuka sebelum saatnya,
ingin memahami sebelum waktunya,
ingin menguasai sebelum layak.

Jika engkau ingin belajar berpuasa,
belajarlah pada langit.
Ia tahu kapan harus menahan,
dan kapan harus memberi.

Padang, Sumatera Barat
2017

/2/

Terima Kasih, Syakban

Puisi oleh Saunir Saun

[PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar]

Jumat ini,
hari terakhirmu,
tahun 1446 Hijriyah
Seolah-olah hari-hari segera akan kau serah
Tentang kelanjutan dari hari-hari
Yang kami gunakan untuk hidup kami

Seolah-olah seseorang telah kau suruh
Untuk berdiri di pintumu yang kukuh
Untuk kau suruh bukakan sebentar lagi
Agar semua kami dapat lewati

Jarak pintu Ramadan yang menanti
Dengan pintumu yang segera kami lewati
Keduanya sangat rapat sekali
Sehingga kami tidak perlu melompati

Begitu pintumu sebentar lagi kamu buka
Maka sudah berada di Ramadan kami semua
Sudah makin terasa kami gembira
Karena kami akan memulai puasa

Pada waktu itu kami ucapkan “marhaban yaa Ramadan”
Tanda suatu ungkapan kegembiraan
Ungkapan selamat datang Ramadan
Bulan mulia yang penuh dengan keampunan

Ia juga bulan penuh rahmat Tuhan
Serta dari api neraka juga terbebaskan
Asalkan berpuasa sesuai perintah Tuhan
Tidak hanya menahan minum dan makan

Akhirnya,
kini aku sangat paham
Bahwa kau dan Ramadan erat berteman
Mungkin bergandengan tangan,
walau bagiku tak kelihatan
Diatur rapi oleh Tuhan
Kau bulan ke delapan dan Ramadan bulan ke sembilan

Terima kasih, Syakban
Karena telah mengantarkan aku ke Ramadan
Insyaa Alloh,
kalau Dia mengizinkan.

Aamiin.

Rumahku, Padang
Sumatera Barat
28 Februari 2025 M
29 Syakban 1446 H

—————————————-
Saunir Saun merupakan seorang penulis dan juga pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua” dan novel “Lelaki yang Berhijrah”. Selain itu ia sudah menulis
7 buku kumpulan puisi berjudul 55 Puisi-Puisi Berhikmah (jilid 1-7) dan masih ada ratusan judul puisi yang belum dibukukan.

/3/

Berlindung Dari Jiwa yang Rakus

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kita menahan diri dari nasi, roti,
dan segala yang bisa menghilangkan lapar,
tapi tidak dari keinginan-keinginan mubazir yang tak perlu.
Kita menahan diri dari air dan semua pelepas dahaga,
tapi tidak dari dendam yang mengeringkan jiwa.
Kita menahan diri dari bicara,
tapi tidak dari prasangka yang terus berbicara di kepala.

Jika puasa kita hanya menahan lapar dan haus,
kita hanyalah batu yang dipanaskan matahari—
kering,
gosong,
kosong.

Jika puasa kita hanya menahan perut,
tapi tidak menahan hati,
maka kita telah berbuka sejak awal,
tanpa pernah benar-benar berpuasa,
kita berlindung kepada Allah dari tubuh yang berpuasa tapi jiwanya rakus
kita memohon kepada Allah untuk mampu ikhlas menjalankan puasa di Ramadhan ini,
mampu ikhlas memperbaiki diri.

Padang, Sumatera Barat
2017

/4/

Hari Keenam-mu ya Ramadhan

Puisi oleh Anto Narasoma

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumsel, Kreator Era AI]

hari keenam Kau peluk,
segala nasihat di dalam benakku pun terbuka sebab, segala kemurkaan-Mu
atas semua yang mewarnai perjalanan darahku,
akan mengaliri daya ucap dan sikap

tatkala doa-doaku tersuruk ke dalam sujud,
air mataku memercik membasahi uraian kata hatiku

o ya Ramadan, kehadiran-Mu selalu mendekap erat pada puncak penyerahan jiwaku, ketika lapar harus menasihati segala aspek
kebersihan hati yang bertabur kembang setaman

maka,
di hari keenam ini
segala nasihat dan permohonan di dalam aroma napasmu,
akan menuntun segala perilaku ke aras-Mu,
ya Ramadan

Palembang,
Sumatera Selatan
6 Maret 2025

——————————————–
Anto Narasoma merupakan penyair nasional, jurnalis senior, mentor senior komunitas PPIPM, anggota Poetry-Pen International Community.
Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.

/5/

Ketika Puasa Berbicara

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Pernahkah kau mendengar puasa berbicara?
Ia berbisik dalam diam,
mengajarkan bahasa yang tidak bisa diucapkan.

Kesabaran adalah bahasa pertamanya.
Keheningan adalah bahasa keduanya.
Dan penyerahan adalah bahasa terakhirnya.

Jika kau benar-benar berpuasa,
kau akan memahami bahwa diam lebih nyaring dari suara,
bahwa kehilangan lebih kaya dari kepemilikan,
dan bahwa menahan lebih mendekatkanmu kepada kehidupan.

Padang, Sumatera Barat
2017

/6/

Tadarus Nyanyian Qurani

Puisi oleh Zulkifli Abdy

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]

Puasa, menahan hawa nafsu berserah diri
Tadarus, nyanyian Qur’ani penyejuk hati
Lailatulqadar, semilir angin surgawi,
yang berhembus di malam sepi
Ramadhan sungguh syahdu
Tadarus merdu merindu
Lailatulqadar misteri,
tabir rahasia Ilahi
Iktikaf seraya
kumenanti
datang
fajar,
Oh.

Ambang Senja, Aceh
3 Maret 2023

——————————-
Zulkifli merupakan penulis/penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.

/7/

Waktu Juga Berpuasa

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Waktu juga berpuasa – menahan dirinya,
menunggu momen untuk jatuh seperti embun.
Ia tidak pernah tergesa,
tidak pernah mendahului takdir.

Detik berlalu menjadi penantian,
menit berlalu menjelma doa yang belum terjawab.
Waktu berpuasa dari kepastian,
karena jika ia mempercepat segalanya,
dunia akan selesai sebelum waktunya.

Maka bersabarlah.
Jika waktu saja menahan dirinya,
siapakah kita yang ingin segalanya terjadi sekarang juga?

Padang, Sumatera Barat
2017

/8/

Purnama Jiwa

Puisi oleh Dilla, S.Pd.

[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]

Di setiap sujud ada doa
Di setiap langkah diiringi berkah
Ramadan karim, simfoni jiwa berbalut cahaya
Bulan mulia menghiasi purnama
Rindu pada-Mu tercurah
Di mihrab suci, semua kan kembali

Diantara bintang, bisikan takwa berlimpah
Berlabuh pada tasbih bergemuruh
Nyalakan lentera iman bagi jiwa yang rapuh
Dalam sunyi malam, munajat terucap lirih
Menyentuh langit membawa sunyi
Lampu masjid berpendar, cahaya merindu
Menuntun langkah, menuju pintu ampunan.

Bukittinggi, Sumatera Barat,
3 Maret 2025

——————————————
Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi, pada tanggal 8 Juni 1981. Beralamat di Jl. H. Abdul Manan No. 49, Simpang Guguk Bulek, Bukittinggi. Saat ini mengajar di SMPN 2 Bukittinggi. Telah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi. Aktif menulis di berbagai media Massa cetak dan online dalam dan luar negeri. Penulis bisa dihubungi melalui email, dillaspd6@gmail.com, facebook: Espede Dilla, Instagram: @dilla.spd dan telegram: dilla S.Pd blog: www.dillaspd.my.id

/9/

Cahaya yang Ikut Berpuasa

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Cahaya juga ikut berpuasa,
Ia tahu kapan harus menahan dirinya.
Lihatlah matahari,
ia tidak menyerahkan seluruh sinarnya sekaligus,
karena ia tahu,
bahkan cahaya yang berlebihan dapat membutakan.

Maka belajarlah dari cahaya.
Jadilah seperti bulan—
memantulkan sinar dengan kelembutan,
tidak memaksakan diri untuk bersinar sendiri.

Jadilah seperti fajar—
datang perlahan,
tanpa gegabah menembus malam.

Dan jika harus berbuka,
berbukalah seperti matahari terbenam—
tidak tergesa-gesa,
tetapi penuh ketenangan.

Padang, Sumatera Barat
2017

/10/

Waktu yang Berbunyi

Puisi oleh Safdayanti

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]

Pagi redup tak bermentari
Kegalauan saat duduk sendiri
Iri pada waktu yang berbunyi
Terus berjalan tiada henti

Bermenung penuh mimpi
Tak satupun tergapai jari
Hidup kembali sunyi
Jauh dan tak berpelangi

Kupandang bunga teratai
Terpajang tak bertepi
Indah namun tetap sunyi
Hanya waktu yang berbunyi

Atap kosong tak berwarnai
Ruang gelap yang akan ku daki
Lentera pun jauh di tepi
Tetap hanya waktu yang berbunyi

Ibu, ayah dan sanak famili
Di bulan yang berkah ini
Ku satukan semua jari
Meminta maaf setulus hati

Biarkan aku terus berlari
Lebih cepat dari jam berbunyi
Mengejar semua mimpi
Walau sedikit yang kudapati

Sang Ilahi pencerah hati
Hapus luka dalam diri
Manusia biasa ini selalu menyakiti
Mohon dimaafkan sebelum mati dan waktu berhenti

Padang, Sumatera Barat
1 Maret 2025

—————————————-
Safdayanti (Isar) terlahir di Jakarta, 25 Mei 1987, dari rahim seorang ibu pejuang, tumbuh dalam kesederhanaan di mana sekolah sering bergantung pada uang hasil jualan siang. Kuliah terasa mustahil, tapi takdir berkata lain—ia kini seorang guru berdedikasi di SDN 19 Pulai, Padang, Sumatera Barat.

Di antara hiruk-pikuk kelas, ia adalah ibu dari dua anak, istri Yuliandi sejak 21 Desember 2012, dan penjaga kata yang dulu hanya berbisik di sudut hati. Puisi adalah ruang sunyinya, tempat ia merajut keberanian, menaklukkan ketakutan.

Hidup telah mengajarinya arti jatuh dan bangkit. Pernah hampir menyerah, kini ia menjadi suara bagi mereka yang lelah. Bagi Isar, takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk diterima dan ditulis ulang dengan tekad—dengan syukur, dengan cinta, dengan puisi.

/11/

Puasa Dari Diri yang Lama

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ada puasa yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar.
Ada puasa yang tidak dimulai saat fajar,
dan tidak berbuka saat senja.

Puasa dari kesombongan,
puasa dari menghakimi,
puasa dari rasa ingin dipuji.

Ada yang berpuasa dengan menutup mulutnya,
tetapi hatinya masih berbicara keras.
Ada yang berpuasa dengan menahan perutnya,
tetapi matanya masih rakus terhadap dunia.

Puasa yang sesungguhnya,
adalah puasa dari diri yang lama,
dan kelahiran diri yang baru.

Padang, Sumatera Barat
2017

/12/

Tangis Lapar di Wajah Buram Negeri

Puisi oleh Ahkam Jayadi

[PPIPM-Indonesia; Poetry-Pen IC, Satu Pena Makassar, Kreator Era AI]

Di tanah ini, benih harapan ditanam,
Tapi tumbuh layu di tanah kelam,
Airnya tercemar dusta dan tipu,
Akar kejujuran pun mati membeku.

Tangan-tangan besi menggenggam kuasa,
Berbaju rapi, bertopeng mulia,
Namun di balik senyum yang manis,
Ada kelicikan yang sulit terkikis.

Mereka menyulap hukum jadi sandiwara,
Menukar keadilan dengan angka,
Di meja-meja megah mereka tertawa,
Sementara rakyat menelan nestapa.

Gedung tinggi berdiri megah,
Dibangun dari harapan yang punah,
Sementara di sudut desa dan kota,
Tangis lapar menggema tanpa suara.

Negeri ini butuh keberanian,
Bukan sekadar janji di atas kertas,
Karena korupsi takkan musnah,
Jika semua hanya diam dan pasrah.

Makassar, Sulawesi Selatan
2025

————————————-
Ahkam Jayadi merupakan akademisi hukum tinggal di Makassar, anggota Satupena Makassar.

/13/

Ramadhan Tahun Ini

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ramadhan tahun ini,
Kita berjalan di lorong sunyi,
di mana doa menetes dari langit
dan gemuruh takdir bergema di dinding kalbu.

Jangan kita ukur diri dengan murka,
tapi dengan cahaya yang kita biarkan menyala
Maka lepaskan genggaman amarah,
karena yang sejati bukanlah yang menggempur,
tetapi yang menggenggam dunia dalam diamnya.

Bukankah air yang mengalir selalu menang?
Bukankah langit yang tak bertiang adalah takhta yang paling teguh?

Maka jadilah kita bintang di malam yang gelap,
dan biarkan cahaya kita meresap dalam luka dunia,
kita berpuasa bukan untuk dilihat manusia,
tapi untuk menjadikan kita lebih manusiawi,
dari diri kita selama ini,
untuk meraih ridho Ilahi.

Padang, Sumatera Barat, 2017

/14/

Puasa Dalam Merasa, Kebebasan Dalam Rasa

Puisi oleh Yusuf Achmad

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]

Hari ini dan seterusnya, suci yang berkuasa,
Ramadhan, embun malam yang menyapa.
Kita berpuasa, iman tebal dalam jiwa,
Namun ada kelonggaran, bagi mereka yang berhak, penuh bijaksana.

Perempuan dan pengelana diberikan kelonggaran suci,
Lewat kitab yang berfirman dengan bijak.
Tak semua merasa iri hati,
Namun ada yang kebablasan dalam dalihnya.

Makan, minum, merokok tanpa batasan,
Dengan alasan tak mengimani, sah menurut firman-Nya.
Namun, mengapa harus ada yang murka?
Hatiku heran, penuh dengan tanya.

Mengapa merasa lebih mulia dari yang tak berpuasa?
Apakah kita lupa akan esensi dari berpuasa?
Puasa dari rasa, dari batin yang terbuka,
Berbeda antara si kecil dan dewasa.

Aku terdiam, seribu bahasa,
Karena puisi ini juga tidak berpuasa.
Seperti embun yang turun perlahan,
Mengajarkan kita untuk penuh kesabaran.

Menahan diri dari nafsu, amarah juga nestapa,
Menjaga hati tetap tenang dalam berkah.
Puasa adalah perjalanan rasa,
Meraih makna dalam kata dan jiwa.

Hari demi hari rasa dan batin berpuasa,
Meniti titian iman di dada,
Menjaga diri dalam puasa,
Puasa adalah cermin kuatnya jiwa, raga, karsa, dan rasa.

Surabaya, Jawa Timur
5 Maret 2024

———————————-
Yusuf Achmad merupakan seorang penulis aktif dan saat ini juga merupakan Kepala SMK SAINTREN Al -Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis dikenal dengan buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.

/15/

Puasa: Nyala Sunyi Mematuhi Perintah Tuhan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Jangan kau kira puasa sekadar menahan,
ia adalah perjalanan rahasia—
di mana tubuh belajar menjadi tanah
dan ruh mencari jalannya kembali ke langit.

Lapar bukan kekosongan,
tetapi cahaya yang menyingkap kabut dunia,
seperti fajar yang tak pernah meminta
selain kesediaan malam untuk berlalu.

Dahaga bukan siksaan,
tetapi sungai yang mengalir di dada,
menyelami kedalaman jiwa
hingga kita temukan mata air
yang selama ini kita cari di luar.

Terkadang kita ini batu,
keras dan penuh keangkuhan,
lalu puasa datang sebagai hujan,
mengetuk kita dengan kesabaran,
hingga perlahan,
kita menyerah,
bukan karena kalah,
tetapi karena sadar—
bahwa yang lembutlah
yang akhirnya mengalahkan segalanya.

Kita ini daun teh dalam cawan waktu,
tenggelam dalam gelombang kesunyian,
perlahan melepaskan warna,
perlahan menyerahkan rasa,
hingga kita tak lagi pahit,
hingga kita menjadi wangi
yang dinikmati semesta.

Wahai jiwa yang terbakar keinginan,
lepaskan genggamanmu pada dunia,
sebab hanya tangan yang kosong
yang bisa digenggam oleh Tuhan.

Lihatlah cahaya,
ia tidak berjuang untuk menjadi terang,
ia hanya melepaskan bayangan,
seperti kita yang akhirnya mengerti—
bahwa kehilangan adalah jalan pulang,
dan kepulangan adalah nama lain dari menemukan.

Selamat menunaikan ibadah puasa,
semoga kita tidak sekadar menahan,
tetapi benar-benar menjadi—
seperti nyala sunyi
yang mematuhi perintah Tuhan.

Padang, Sumatera Barat
2017

————————————-
Kumpulan puisi Leni Marlina di atas (puisi no. 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15), awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2017. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https: shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)