April 15, 2026

Resensi: Anna Keiko
——Rizal Tanjung Poetic Retelling

“Cinta sejati tak pernah soal memiliki tubuh,
melainkan soal memelihara jiwa masing-masing——
Seperti ombak yang tak pernah lelah mencium pantai,
meski akhirnya akan surut ke kedalamannya sendiri.”

——Cerita Rakyat Kepulauan Tanimbar

*I. Laut yang Merangkul Duka*

Di ujung timur Kepulauan “Nusaina”, di mana ombak berbicara bagai lonceng, karang bernyanyi ditiup angin, dan Kepulauan Tanimbar bagai mutiara yang bertaburan di leher seorang dewi. Kisah ini lahir di sini——dari rahim cahaya rembulan dan perut ombak, tentang seorang gadis yang bukan manusia maupun laut: Gadis Kepiting.

Pulau Yamdena, mutiara terbesar di kepulauan itu, hutannya merangkai doa dengan kicauan burung, dan pantainya menyimpan rahasia yang tak terucapkan. Di bawah pohon lemon laut kuno, hiduplah nelayan tua Ama Tepa dan putranya Luo Yin, yang matanya bagaikan senja laut. Ia mencintai laut, seperti seorang penyair yang mencintai kesunyian.

Pada suatu malam dengan bulan purnama, Luo Yin melihat keajaiban di pantai Kalme: seekor kepiting raksasa, secemerlang mutiara, menari sendirian di puncak ombak. Namun saat ia mendekat, kepiting raksasa itu berubah menjadi seorang gadis dengan kulit asin dan rambut hitam, dan matanya adalah jurang dari ribuan pelayaran.

*II. Gadis dari Karang yang Kesepian*

“Akulah Sura,” suara gadis itu sejelas ombak pagi, “putri laut, cucu ombak, penjaga Karang Tanimbar, anak yang dirindukan bulan.”

Lu Yin bingung dan tidak dapat mengatakan apakah ini mimpi atau takdir. Setiap malam setelah itu, ia pergi ke pantai. Sura terkadang menjadi kepiting raksasa berbaju zirah emas, dan terkadang menjadi gadis yang menyanyikan lagu-lagu laut yang tak dapat dipahami manusia. Cinta mereka bagai dua arus laut yang rindu untuk bertemu.

Namun cinta ini adalah bunga yang tumbuh di antara bebatuan – indah sekaligus menyakitkan. Insura tak dapat meninggalkan laut, dan Loin tak dapat meninggalkan pulau.

*Tiga, kutukan langit biru*

Legenda kuno Tanimbar mencatat bahwa gadis kepiting adalah makhluk setengah manusia yang dikutuk oleh langit biru. Karena mengkhianati sumpah leluhur lautan, ia akan selalu mengembara di antara wujud, waktu, dan ruang. Ketika Ama Tepa mencoba mengusir Sura, ia hanya berkata: “Cinta bukanlah kutukan. Menolak cinta yang luar biasa adalah malapetaka dunia.”

*Empat, malam laut menangis*

Pada suatu malam yang ganas ketika angin utara menerjang kapal, Sura menghilang. Loin berseru dengan hati pilu di atas pasir basah hingga gelombang suara menelan suaranya. Hanya sepasang kepiting kecil yang masuk ke dalam laut berdampingan, seolah-olah mereka adalah bisikan dari dunia dalam.

Sebagian orang mengatakan bahwa ia kembali ke negeri laut, sementara yang lain percaya bahwa ia berubah menjadi roh karang yang bersinar, dan hanya pecinta sejati yang dapat melihat tarian baju zirah emasnya.

*Lima, penantian garam dan lagu*

Loin tidak pernah menikah dan menjadi penjaga pantai yang mengukir perahu nelayan dan menenun jaring ikan. Setiap bulan purnama, ia selalu meletakkan bunga laut di karang dan menyanyikan balada yang hanya ia dan Sura yang mengerti – penduduk pulau menyebutnya “Gantang-Gantang” (Nyanyian Kepiting), sebuah lagu cinta tentang keberanian daratan dan lautan.

*Bab Terakhir, Pasang Surut Kenangan*

Saat ini, Tanimbar masih beredar: Jika Anda berjalan sendirian di pantai pada malam bulan purnama dan memanggil “Sura” dengan tulus, kepiting emas akan muncul dan menari di kaki Anda. Ini menunjukkan bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati – ia hanya akan menjelma seperti wanita kepiting dan menjadi puisi abadi di tubuh laut.

——Diadaptasi dari Kumpulan Dongeng Rakyat Tanimbar Tahun 2025

Baca juga: romantic-poem-of…-the-crab-maiden/