May 10, 2026

Oleh: Leni Marlina (Redaktur suaraanaknegerinews.com)

PADANG, 01/08/2025: Suaraanaknegerinews.com. |Dalam suasana dunia yang terus berubah dan sering kali terpecah oleh berbagai perbedaan, puisi tetap hadir sebagai ruang sunyi yang menautkan rasa dan makna. Hal inilah yang menjadi inti dari sebuah acara diskusi buku bertajuk “Sakti”: Kumpulan Puisi Tiga Bahasa Karya Sastri Bakry — sebuah kegiatan literasi dan sastra yang tidak hanya mengulas karya, namun juga membangun pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman budaya dan bahasa.

Acara diskusi buku ini diselenggarakan secara daring pada tanggal 1 Agustus 2025 dan menjadi momen bermakna bagi dunia sastra, khususnya di Sumatera Barat, Indonesia. Kegiatan ini mengangkat karya puisi dari Ibu Sastri Bakry, seorang penyair perempuan Indonesia, yang dituangkan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Spanyol. Lebih dari 40 peserta dari berbagai penjuru tanah air turut hadir, bersama sejumlah pembicara dari Indonesia, Puerto Riko, Bangladesh, dan Australia.

Melalui kegiatan ini, buku Sakti diposisikan sebagai jembatan yang mempertemukan suara-suara dari latar belakang berbeda dalam satu ruang diskusi yang inklusif dan saling menghargai. Puisi-puisi di dalamnya menjadi titik temu, menghadirkan dialog yang lembut namun mendalam antara budaya dan bahasa, sekaligus menegaskan bahwa sastra mampu menjadi penghubung di tengah keragaman dunia.

Tampilan Layar Acara Online Bedah Buku “Sakti” Karya Sastri Bakry. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.

Tanggal 1 Agustus 2025, Indonesia, Sumatera Barat khususnya diwarnai sebuah peristiwa sastra yang hangat dan penuh inspirasi terselenggara secara daring. Diskusi buku Sakti, kumpulan puisi tiga bahasa karya penyair perempuan Indonesia, Sastri Bakry, melibatkan lebih dari 40 peserta dari berbagi daerah di Indonesia, ditambah pembicara dari beragam belahan dunia meliputi Indonesia, Puerto Rico, Bangladesh, dan Australia. Lewat puisi-puisi yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Spanyol, buku kumpulan puisi Sakti karya Sastri Bakry menjadi jembatan budaya yang memungkinkan suara dari berbagai sudut dunia bertemu dan berdialog dalam keselarasan.

Acara yang digagas oleh SatuPena Sumbar bersama International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) dan World Poetry Movement (WPM) ini menghadirkan pembicara sekaligus tokoh-tokoh sastra dan budaya ternama. Di antaranya Luz María López, penyair sekaligus penerjemah asal Puerto Rico; Aminur Rahman, penyair dan konsultan sastra dari Bangladesh; Profesor Ismet Fanany, akademisi dan penerjemah, budayawan kelahiran Indonesia berdomisili di Australia; serta Zamawi Imron, penyair senior Indonesia yang sudah tak asing lagi. Moderasi yang hangat dan profesional dilakukan oleh Siska Saputri, sekretaris World Poetry Movement-Indoensia, alumni Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, yang berhasil membangun ruang diskusi penuh makna dan nuansa kemanusiaan.

Luz María López, penyair asal Puerto Rico sekaligus Pembicara AcaraOnline Bedah Buku “Sakti” Karya Sastri Bakry. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.
Aminur Rahman, penyair dan konsultan sastra dari Banglades, sekaligus Pembicara Bedah Buku “Sakti”. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.
Profesor Ismet Fanany, akademisi dan penerjemah, budayawan kelahiran Indonesia berdomisili di Australi, sekaligus Pembicara Bedah Buku “Sakti”. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.

Dalam acara ini hadir Sekretaris Umum SatuPena Sumbar, Armaidi Tanjung,  Pecinta puisi, pensiunan akademisi dan seniman Sumbar: Mindasari. Hadir juga Birokrat – Fahira Idris, dan sejumlah delegasi dari Satu Pena, World Poetry Movement-Indonesia.  Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat (PPIM-Indonesia) dan Poetry-Pen International Community juga mengirimkan dua orang delegasi mahasiswa (atas nama Fadel dan Fildzah). Kehadiran seorang penyair Australia asal vietnam, Maiwhite (Vo Thi Nhur Mai) menghadirkan momentum spesial. Ia juga merupakan jurnalis disamping sebagai seorang guru di Western Australia. Para peserta diskusi pada umumnya merupakan penulis, penyair dan pecinta puisi yang berasal dari berbagai latar belakang pengalaman, kegiatan dan prestasi.

Tangkapan Layar Luz María López (Pembicara, Penyair Spanyol), Ismet Fanany (Pembicara, akademisi Australia), Leni Marlina (peserta, penyair & akademisi UNP Padang) di Acara Bedah Buku Puisi “Sakti” Karya Sastri Bakry.
Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.

Dalam sesi diskusi, Luz María López memukau peserta dengan analisis mendalamnya tentang simbolisme puisi Sastri. Ia melihat bagaimana bunga, luka, dan ambang pintu dalam karya Sastri membawa pesan universal tentang ingatan dan kasih ibu yang melintasi sejarah dan budaya. Aminur Rahman mengaitkan karya Sastri dengan tradisi sastra besar dunia dan menegaskan bahwa puisi-puisi itu bukan sekadar untuk mengagumkan, melainkan jujur mengungkapkan kekuatan batin dan perjuangan wanita.

Refleksi Profesor Ismet Fanany menambah warna dengan membahas tema hubungan ibu-anak yang kompleks dan penuh kasih, meski terkadang ditampilkan lewat ketegasan dan disiplin. Ia menyarankan agar tema-tema universal semacam ini bisa menjadi bahan studi komparatif lintas budaya dalam dunia sastra global, dan memuji “Sakti sebagai kontribusi penting dalam wacana tersebut.

Salah satu momen menarik datang dari Leni Marlina, penulis L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity), penyair Indonesia asal Sumbar, dosen Prodi Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang,  yang menyatakan betapa puisi memiliki kekuatan menghubungkan jiwa tanpa batas ruang dan waktu. Menurutnya, fenomena ini adalah keajaiban seni yang sejati. Leni juga menyoroti simbol tikar pandan di buku “Sakti”, motif khas Minangkabau, yang sarat makna dan dapat diterima secara luas sebagai simbol keramahtamahan dan memori kolektif. Ia sangat menikmati diskusi buku yang disampaikan oleh semua pembicara terutama saat Prof. Ismet Fanany mempresentasikan tentang Cross-cultural Comparison in Poetry Book of Sakti by Sastri Bakry.

Sekilas Tentang Penulis Buku Kumpulan Puisi Sakti: Sastri  Bakry

Lahir di Pariaman, Sumatera Barat, pada 20 Juni 1958, Sastri Bakry adalah sosok yang menggabungkan seni, aktivisme, dan birokrasi dalam perjalanan hidupnya. Sejak masa sekolah menengah, ia sudah aktif menulis dan menerbitkan karya di media lokal seperti Haluan dan Singgalang. Selama puluhan tahun, ia melahirkan berbagai buku penting, termasuk Perempuan dalam Perempuan, Ungu Pernikahan, dan novel laris Kekuatan Cinta yang bahkan diadaptasi ke layar lebar.

Sastry Bakri: Perempuan Penyair Multitalenta Indonesia, Penulis Buku “Sakti”. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.

Karya Sastri tak hanya dikenal luas di Indonesia, tetapi juga mendapat pengakuan internasional dengan terjemahan ke berbagai bahasa seperti Inggris, Rusia, Arab, dan Tionghoa. Beberapa puisinya bahkan diaransemen menjadi musik dan memenangkan penghargaan nasional. Ia juga pernah aktif di pemerintahan sebagai Sekretaris DPRD Padang dan Inspektur Kementerian Dalam Negeri sebelum memasuki masa pensiun beberapa tahun lalu.

Sebagai Ketua SatuPena Sumbar dan CEO International Minangkabau Literacy Festival, Sastri berhasil membawa sastra Minangkabau ke panggung dunia. Festival yang didirikannya sejak 2023 telah menjadi pertemuan internasional yang mempertemukan lebih dari 20 negara dalam merayakan kekayaan budaya dan sastra Minangkabau melalui pembacaan puisi, diskusi budaya, dan peluncuran buku.

Prestasi internasional Sastri mencakup penghargaan bergengsi seperti Srikandi Tun Fatimah (Malaysia, 2007), Anugrah Tokoh Budaya Nusantara (Indonesia, 2023), dan ISISAR Peace Award (2025). Melalui karya dan perannya, ia mengusung misi literasi yang tidak hanya hak individu, tapi juga kekuatan budaya kolektif yang membentuk masa depan Indonesia dan dunia.

Puisi Sebagai Jembatan Empati dan Penguatan Identitas

Sastri Bakry sendiri hadir secara virtual dari wilayah Indonesia bagian barat. Ia menegaskan bahwa meski secara fisik berjauhan, para peserta dan para penikmat sastra  serta pembicara di belahan dunia yang berbeda “terhubung dengan adanya kekuata ndan momentum sastra”. Pernyataan ini mengakhiri diskusi dengan rasa hangat dan optimisme akan kekuatan sastra sebagai pengikat antar manusia.

Tangkapan Layar Siska Saputri (moderator), Sastry Bakry (Penulis Buku “Sakti”), Ismet Fanany (Pembicara) di Acara Bedah Buku “Sakti”. Sumber Gambar: SatuPena Sumbar.

Sesi diskusi dipandu dengan penuh kehangatan oleh Siska Saputri yang tak hanya mengelola jalannya acara, tetapi juga memberi ruang bagi semua suara agar didengar. Meski ada satu profesor yang tidak dapat hadir, Siska tetap menyampaikan apresiasi atas berbagai wawasan dan refleksi yang mengalir. Profesor Ismet Fanany memberikan komentar yang sarat makna, membahas betapa cinta seorang ibu yang kadang ditampilkan dalam bentuk tegas adalah ekspresi kasih sayang yang universal dan mendalam.

Peserta lain seperti Nanik Muis dan dari Sumbar Talenta turut mengisi suasana dengan apresiasi hangat, menjadikan acara ini bukan sekadar diskusi, melainkan sebuah perayaan kemanusiaan dan solidaritas budaya. Para peserta lainnya yang terdiri dari penulis, penyair, akademis, pemerhati budaya, jurnalis, dsb menyimak dan mengikuti acara diskusi buku Sakti dengan antusias sampai akhir acara.

Diskusi buku puisi ini menegaskan bahwa sastra bukan hanya soal kata-kata indah, tetapi alat yang menghubungkan hati dan pikiran lintas budaya. Sakti  membawa pesan bahwa pengalaman hidup manusia, terlepas dari perbedaan budaya dan bahasa, adalah satu—penuh cinta, perjuangan, dan harapan.

Diskusi Sakti membuka mata kita bahwa puisi adalah jembatan yang menghubungkan manusia di seluruh dunia, mengatasi batas bahasa dan budaya. Melalui karya Sastri Bakry, kita diingatkan bahwa cinta, penderitaan, dan identitas adalah pengalaman universal yang menyatukan kita semua. Di tengah dunia yang terkadang terpecah, Sakti dan perbincangan ini mengajak kita kembali pada satu kebenaran: sastra dan seni mampu membangun solidaritas, memperdalam empati, dan merayakan keberagaman sebagai kekuatan.

Diskusi buku Sakti membuktikan bahwa puisi bukan hanya seni yang indah, tetapi juga alat penyembuh, pengingat, dan penghubung. Ia membawa pesan bahwa di tengah konflik global, disrupsi teknologi, dan krisis identitas, kita masih memiliki ruang untuk saling memahami melalui bait-bait kata. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terfragmentasi, Sakti hadir sebagai penanda penting: bahwa puisi tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia tetap menjadi bahasa hati, pelita jiwa, dan fondasi untuk membangun solidaritas antar manusia.