April 24, 2026

Suaraanaknegerinws.com – Yusuf Achmad Bilintention

Pernah puisiku berwajah wedang Nyamplungan,
beraroma jahe, kayu manis, dan rindu yang mengendap di sudut sukma.
Ia menjelma sambosa dan roti kambing hangat—
wajah Jawa–Arabku bersenyawa dalam secangkir rasa yang sejiwa.

Teringat saat ia bersua ksatria berblangkon,
bertutur tentang batik dan peluh wisatawan,
kutersesat dalam anyaman aksara:
pujangga Jogja mengikat udara jadi mantra.

Kumasuki bingkai aksara yang mula,
menyusuri sela-sela kegagalan,
yang dulu kusebut “sukses yang tertunda.”
Kini kutahu,
penyair sejati tak gentar pada jeda—
sebab luka ialah pintu menuju makna yang mula.

Lalu kuarak puisi dalam jelajah panjang:
bukan sekadar gema di lorong-lorong Malioboro,
tapi menyeberang samudra rasa dan benua makna,
menjadi pelukan bagi Jawa–Arabku yang tak lelah setia.

Ia bersua Palembang–Turki dalam satu metafora,
berbalas Padang–India lewat irama aksara.
Identitas daerah lebur jadi sayap makna,
dipandu ilmuwan Papua–Belanda dalam tembang yang bijak merdu.

Kami menyulam niat, menjahit tubuh nusantara,
tak terpaku silsilah, kasta, atau tunggal bahasa.
Tak dipusingkan gelar, warna, atau suara—
hanya berserah pada damai, pada cinta yang menyala.

Dan puisiku pun menjelajah Maluku, Tanimbar, dan Biak,
membawa pelita di ujung tiap larik.
Karena ia tahu—
kata adalah sampan terakhir
yang mengantar manusia
pulang ke akar, ke makna,
dan ke rumah yang tak pernah pergi.

6 agustus 2025