April 20, 2026
Illustration of the poem Ragu Mencintamu, set in Indonesia (1)

Yusuf Achmad

Aku adalah pria bisu di hadapan cinta,
Mulutku kelu, seakan dirantai keragu-raguan.
Namun pena ini adalah lidahku, menulis rasa,
Mengungkap perasaan yang tersembunyi di relung jiwa.

Aku ragu menyebut namamu,
Cinta ini membeku di balik tembok sunyi,
Namun detak jantungku menari, berdentam tak beraturan.
Berada dalam ruang kebisuan, aku terkurung.

Sejenak aku terhenti, terpaku pada bayangmu,
Melambung dalam angan penuh rindu,
Menyelami samudra bisu, renungan jadi perahu.
Huruf-huruf menciptakan simfoni lugu,
Hanya satu inisial, membara di altar batinku.

Bukan ungkapan manis, bukan puisi sempurna,
Namun ribuan makna tersembunyi di jiwa nan lara.
Rintihan cinta menggema di lembah sunyi,
Doa melayang pada langit hening,
Sayang tertuang menjadi melodi kehidupan.

Harus kulalui badai yang memecah bayang-bayang,
Menembus malam yang penuh kabut dan sunyi.
Rintangan itu adalah langkah menuju cahaya,
Bayangan itu menjadi jembatan mimpi dan cita.
Aku ingin meraih cinta yang tak berujung kelabu,
Menjaga nyala api di lentera kenangan, hingga akhir waktu.

Cita adalah cinta yang menari di langit harapan,
Kenangan adalah pelukan pada senja yang meranum.
Aku berlari, menyongsong cinta yang abadi.
Karena dari tiap keraguan yang menusuk,
Tumbuh keberanian mencintai hingga langit tersenyum.

Surabaya, 6-11-2023