“RAMADHAN MELEBUR KARAT DUNIA”: Antologi Puisi Spesial – Editor Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA)
Editor Leni Marlina
/1/
RAMADHAN MELEBUR KARAT DUNIA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita,
dahulu hanya bayangan,
di tanah dunia,
bergerak tanpa bentuk,
hidup tanpa cahaya.
Tetapi Ramadhan datang,
seperti wahyu yang membelah waktu,
seperti ayat yang menghantam gunung—
dan kita terbakar,
terbakar,
terbakar.
Asap dosa naik dari pori-pori kita,
keringat maksiat menguap di dalam sujud.
Hingga yang tersisa hanya arang hitam—
hati yang telah terbakar hingga ke akarnya.
Dan ketika embun takwa turun dari langit,
ia menemukan tanah yang telah siap ditanami.
Kita bukan lagi bayangan,
tetapi ladang yang menunggu biji iman bertumbuh,
berharap Ramadhan yang melebur karat dunia,
berharap sepenuh hati akan ampunan kepada
Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/2/
LAILATULQADAR
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Manakala kupetik tasbih satu
demi satu dari bilangan nafas
Dalam senandung zikir kala
hening di malam bisu syahri
Ramadhan
Malam yang lebih baik dari
seribu bulan
Ingin kubasahi sajadah dengan
bulir airmata menyebut kalimat
taubah
Allah janjikan rahmat dan
ampunan, serta tersingkap
pula pintu surga
Malam merangkak kian jauh
sementara rembulan sembunyi
di balik daun-daun kering
Deru angin seakan terkurung
di belenggu pesona malam
Menyapa kehendak hamba
menyambut Lailatulqadar.
Banda Aceh, 2025
————————————-
Zulkifli Abdy merupakan penulis dan penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/3/
Malam yang Lebih Purba dari Cahaya
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum bintang-bintang mengenal sinarnya,
sebelum waktu menjadi aliran,
malam ini telah tertulis di Lauhul Mahfudz,
sebagai rahasia yang hanya ditemukan
oleh mereka yang terjaga.
Langit membuka matanya,
malaikat-malaikat turun tak berjejak,
memeluk bumi yang menangis,
menaburkan firman seperti embun
ke dalam hati yang remuk.
Seribu bulan hanyalah bayang,
karena yang turun malam ini
adalah Sang Cahaya yang tak terpadamkan,
menghidupkan yang mati dalam jiwa,
menghapus yang sia-sia dalam waktu.
Dan di ujung fajar,
segala nama telah ditulis,
segala takdir telah ditetapkan,
dan hanya yang berserah
akan mengenal keabadian.
Padang, Sumatera Barat, 2023
/4/
Gurindam Ramadhan
Puisi oleh Saunir Saun
[PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kalau kau seorang penganut Islam,
Pasti tahu ada kewajiban di bulan Ramadan
Kalau kau seorang penganut Islam,
Pasti tahu makna puasa Ramadan
Kalau kau seorang penganut Islam,
Pasti sudah sering dengar ayat yang mewajibkan puasa Ramadan
Kalau kau seorang penganut Islam,
Mungkin tahu di surat mana terdapat ayat puasa Ramadan
Kalau kau sering mendengarkan uraian puasa Ramadan,
Pasti tahu ayat yang mulai dengan “Kutiba alaikumush-shiyaam”
Kalau kau sering dengar ayat “Kutiba alaikumush-shiyaam”,
Pasti tahu artinya “diwajibkan kepadamu berpuasa (Ramadan)”
Kalau kau sudah tahu makna “diwajibkan”,
Pasti kau takut meninggalkan
Kalau kau tahu tujuan diwajibkan puasa Ramadan,
Pasti kau senang mengerjakan satu bulan, tanpa paksaan
Kalau kau tahu puasa Ramadan untuk mencapai ketakwaan,
Pasti kau mengerjakannya dengan penuh kesungguhan
Kalau kau tahu takwa itu derajat paling tinggi di sisi Tuhan Yang Maha Esa
Pasti kau bersungguh-sungguh mengejarnya
Kalau kau tahu puasa juga diwajibkan kepada umat terdahulu
Pasti kau tidak ada ragu terhadap Tuhan-mu
Kalau kau masih mau meninggalkan puasa
Berarti kau telah melawan ketentuan Alloh Subhaanahu wa Taala
Kalau kau tahu tujuan puasa Ramadan,
Pasti kau takut meninggalkan
Kalau kau tahu bulan Ramadan itu adalah bulan penuh berkah
Tentu kau tidak mau berlengah-lengah
Kalau kau tahu di dalamnya ada malam istimewa
Tentu kau akan ikut mengejarnya dengan gembira
Kalau kau tahu amalan fardhu diganjar sama seperti 70 amalan fardhu pada hari lainnya,
Pasti kau gunakan bulan Ramadan ini untuk beramal sepenuhnya
Kalau kau tahu bulan Ramadan adalah bulan kesabaran berbalas surga,
Tentu kau akan melatih dirimu bersabar sebaik-baiknya
Kalau kau tahu bulan Ramadan itu penuh rahmat, ampunan, dan bebas dari api neraka
Pastilah kau tak ingin menyia-nyiakannya
Kalau kau sadari bulan istimewa seperti Ramadan hanya satu tahun sekali
Tentu kau ingin memanfaatkannya baik sekali karena kau tak ingin rugi
Kalau kau mengerti apa yang telah kau baca,
Tentu kau akan senang dan bahagia melakukan puasa.
Rumahku, Sumatera Barat
27 Februari 2025
———————————–
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi yang menjalankannya.
Mohon maaf lahir dan batin.
—————————————-
Saunir Saun merupakan seorang penulis dan juga pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua” dan novel “Lelaki yang Berhijrah”. Selain itu ia sudah menulis. 7 buku kumpulan puisi berjudul 55 Puisi-Puisi Berhikmah (jilid 1-7) dan masih ada ratusan judul puisi yang belum dibukukan.
/5/
KEMBALINYA RAMADHAN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ramadhan datang kembali,
dan Iblis terbelenggu,
tapi mengapa resah ini tetap tinggal?
Jangan-jangan rantai ini buatan kita sendiri?
Ditempa di tungku ketakutan,
ditempeli malam-malam tanpa doa?
Kita ambil tasbih—
satu butir, satu napas—
dan kita titipkan beban kita pada dzikir,
hingga lengan kita ringan
dan pikiran kita merdeka.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/6/
Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan
Puisi oleh Oka Swastika Mahendra
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Yogyakarta, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Bulan suci
Penuh berkah
Jelas kumandang
Terdengar panggilan
Merdu dan agung
Baca Al-Qur’an
Wahai jiwa
Haus dan lapar
Menangkap hikmat
Syukur nikmat
Pahala cahaya-Nya
Semayam tenang
Tentram hati
Pahala berlipat
Hitungan ganda
Memberi warta
Jalan jiwa
Menuju cahaya
Setiap huruf
Rangkai kalimat
Bernilai pahala
Sepuluh kebaikan
Teruskan saja
Meski terbata
Lafal meliuk
Tetap tawaduk
Penuh semangat
Suara bersahaja
Bagi pembaca
Pahala ada
Tetap berlipat
Hitung ganda
Tiada banding.
Setan terpelanting
Cepat menyingkir
Menjauh rumah
Merdu firman
Bacaan Qur’an
Saat Ramdhan
Ayat makna
Tenangkan hati
Terus lantunkan
Jangan biarkan
Rumah hampa
Tanpa suara
Menjadi sepi
Bacalah segera
Al-Qur’an nur
Yaa karim
Jika taat
Datang safaat
Saat kiamat
Al-Qur’an bacaan
Doa mendoakan
Saling dukung
Ukhuwah berkah
Para Qori
Dalam bakti
Tajwid benar
Penuh pujian
Lantunkan hari
Pengisi malam
Bulan ramadhan
Ketenangan hati
Obat manfaat
Segala lara
Tentram jiwa
Selalu setia
Kompas arah
Tanda petunjuk-Nya
Qur’an kehidupan
Rahmat dan tobat
Terutama sekali
Bagi hati
Resah lelah
Tubuh rapuh
Rumah jiwa
Dibacakan Al-Qur’an
Tak akan goyang
Halau kegelapan
Jauhkan kesedihan
Malaikat pun
Memohon ampun
Doa senantiasa
Tak terputus
Menjaga mereka
Tetap istiqomah
Yogyakarta, 10 Maret 2025
———————————
Oka Swastika Mahendra (lahir di Yogyakarta, 22 November 1958) adalah seniman yang menekuni teater, sastra, dan seni rupa. Sejak 1979, ia aktif di Teater Alam, serta bergabung dengan Gores Warna, Royal House Cultural Activity, dan Satupena DIY.
Karyanya meliputi naskah drama seperti Lesungan, Ki Bagus Rangin, Roro Jonggrang, Ontran-Ontran Balung Buto, Intrik di Sangiran, dan Menjaga Warisan, serta puisi yang terangkum dalam Demonstrasi, Aku Melihat Bumi Dari Langit, Membaca Bali, Membaca Banyuwangi, dan Membaca Indramayu (dalam proses).
Pernah menimba ilmu di Fakultas Sastra UGM, ia kemudian menyelesaikan studi di FKIP Geografi UNY dan mengikuti pelatihan kepenulisan di Penang, Malaysia. Setelah pensiun sebagai guru di SMA Negeri 6 & 1 Yogyakarta, ia kini kembali fokus berkarya dalam seni dan sastra.
/7/
Saat Lailatul Qadr Turun
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di luar Ramadhan,
kita pernah menjadi seperti kitab yang rusak.
Halaman kita terobek oleh waktu,
tulisan kita pudar oleh lalai.
Tetapi di bulan ini,
Lailatul Qadr turun dengan kalam-Nya.
Ia menghapus tinta hitam yang mengeras di dada kita,
menuliskan keimanan dengan cahaya.
Setiap rakaat menajamkan aksara-Nya.
Setiap dzikir merajut kembali lembaran yang koyak.
Hingga di akhir bulan suci ini,
kita bukan lagi kisah yang hilang,
tetapi wahyu yang terukir di langit hati dan jiwa.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/8/
Ramadan itu Kenangan
Puisi oleh Chania Ditarora
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Lombok, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kenangan berputar-putar saat akhir pekan
menjelma genangan memori yang pampat
ekspektasi berlebihan kepada makhluk
kehidupan semestinya mengalir mengikuti alur
menelusup celah-celah yang menghidupi
sepanjang yang diewati
semakin jauh mengalir semakin bening menyuburkan tak sekadar harapan
tapi menumbukan keinsafan
perihal ramadan yang sudah berbuah kenangan manis
berisi memori berjuta megabita seputar
kepasrahan pada khalik semata.
Lombok Tengah,
22 Ramadan 1446H
22 Maret 2025
———————————
Chania Ditarora merupakan nama pena dari seorang penulis dengan nama asli Darwan Kania. Penulis merupakan seorang Bapak Guru Madrasah di Lombok Tengah. Aktif menulis puisi, cerpen, dan artikel opini. Aktif mengirimkan artikel di koran/media lokal. Penulis buku puisi Ratapan Anak Negeri 2017 Penerbit FAM Publishing.
/9/
SUJUD KITA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di luar Ramadhan,
kita sering hidup seperti, benang-benang putus—
kusut,
lemah,
tercerai di antara waktu.
Tetapi di dalam malam-malam ini,
tangan Tuhan menjadikan kita tenunan.
Sujud kita adalah helai-helai benang yang menyatu.
Doa kita adalah simpul-simpul yang menguatkan.
Dan ketika fajar pertama Syawal menyentuh kita,
kita bukan lagi helaian yang mudah sobek,
tetapi kain yang telah dipintal oleh keheningan malam—
sebuah pakaian yang siap dikenakan oleh takwa.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/10/
Bulan Penuh Cinta
Puisi oleh Dilla, S.Pd.
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di gerbang senja hilal merangkai doa
Lentera ramadan perlahan berpijar
Merdu berbisik
Ramadan karim,
Bulan Mulia
Bulan rahmat segera tiba
Tabir malam tersingkap
Nyalakan sukma yang sudah gelap
Ramadan karim, bulan penuh cinta
Hati yang resah kini tercurah rahmat
Kebahagiaan hakiki di bulan suci
Saksi abadi simbol harapan
Bukittinggi, Sumatera Barat
5 Maret 2025
——————————————
Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi, pada tanggal 8 Juni 1981. Beralamat di Jl. H. Abdul Manan No. 49, Simpang Guguk Bulek, Bukittinggi. Saat ini mengajar di SMPN 2 Bukittinggi. Telah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi. Aktif menulis di berbagai media Massa cetak dan online dalam dan luar negeri. Penulis bisa dihubungi melalui email, dillaspd6@gmail.com, facebook: Espede Dilla, Instagram: @dilla.spd dan telegram: dilla S.Pd blog: www.dillaspd.my.id
/11/
PUNCAK YANG KEMBALI MERUNDUK
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum Ramadhan,
mungkin kita mendaki bukit kesombongan.
Kita membangun istana dari pujian,
mengukir nama kita di batu ego.
Tetapi di bulan ini,
kita dihantam oleh lapar dan haus.
Dinding-dinding keangkuhan runtuh,
atap keanginan tersapu angin doa.
Dan di puncaknya,
hanya ada sajadah yang terbuka,
menunggu dahi kita kembali menyentuh bumi.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/12/
Senandung Harmoni di Tanah Air
Puisi oleh Ahkam Jayadi
(PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Makassar, Kreator Era AI)
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di sebuah desa di tepian sungai,
masjid dan gereja berdiri sejajar,
ditemani vihara yang tak jauh dari sana,
menjadi saksi perjalanan waktu
bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh.
Di bulan Ramadan, jemaat gereja menyiapkan takjil,
membantu tetangga yang berpuasa,
di Hari Natal, pemuda Islam menjaga gereja,
agar doa mengalun tanpa takut dan was-was.
Di Waisak, lonceng vihara bergetar damai,
dengan doa yang tak saling meniadakan.
Mereka hidup dalam irama yang sama,
berbeda kitab, berbeda jalan,
namun tangan tetap bertautan
dalam janji suci bernama persaudaraan.
Di tanah ini, perbedaan bukan jurang,
tetapi jembatan yang mempertemukan hati.
Makassar, Sulawesi Selatan, 2025
———————‐——————
Ahkam Jayadi merupakan akademisi hukum tinggal di Makassar, anggota Satu Pena Makasar.
/13/
RANTING KERING YANG BERPUASA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum Ramadhan, mungkin
kita hanyalah ranting kering,
retak oleh dosa, rapuh oleh nikmat yang berlebihan.
Tetapi puasa datang sebagai akar yang merangkul tubuh kita.
Ia menyerap kesombongan, membasahi ruh dengan takwa.
Hari-hari kita menjadi daun yang lebih hijau.
Malam-malam kita menjadi bunga yang mekar dalam sujud.
Dan di akhir bulan, kita berbuah—
bukan dengan harta, bukan dengan pujian,
tetapi dengan hati yang matang dalam iman.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/14/
LAILA DI TITIAN TAKDIR
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kuhilirkan malam ke lembah
dimana hati ini berdiam di
palung sunyi
Tiba-tiba percakapan terhenti
pada nyanyian bisu
Hanya ada aku dan bayanganmu
yang menghiasi labirin malam
Lelah jiwa ini menjelajahi kembara
dimana aku menantimu
Diantara arak-arakan kafilah yang
mungkin akan singgah
Ingin kutambatkan temali doa di
tiang malam
Sementara kecambah harap pun
mulai berbunga
Oh, ternyata perjalanan malam ini
terasa begitu indah
Tidak terlalu menurun dan tidak
pula mendaki
Hanya mengitari suatu titik dimana
hanya ada noktah
Noda kehidupan yang terkikis
tangis dan air mata
Bias lentera semakin sayu dikepung
gelapnya malam
Bahtera terombang-ambing dilamun
ombak samudera
Yang akan mengantarkan aku ke
dermaga dimana kuharap kau telah
menanti di sana
Laila.., kekasihku..,
Aku merindukan lagi suatu malam
dimana kita pernah bersama
Dimalam ramadhan yang bertirai
rinai dalam bilangan ganjil
Malam ini akan kunantikan lagi
kehadiranmu dalam ketiadaan
Ketiadaan semu yang tak pernah
benar-benar kupercaya
Bukankah kehadiranmu sepasti
terbitnya mentari pagi
Boleh jadi kesemuan ini sesuatu
yang kau sengaja
Agar bola mataku tak sedetik pun
berpaling dari arah kemungkinan
kau akan tiba
Dimana pada suatu momen yang
syahdu kita dipertemukan di titian
takdir Ilahi
Laila.., kekasihku..,
Engkaulah sesungguhnya malam
kemuliaan yang kunantikan itu.
Z.A – Kutaradja, Banda Aceh, 26 April 2022
————————————-
Zulkifli merupakan penulis dan penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/15/
Menjadi Lautan yang Jernih
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di luar bulan ini,
mungkin kita laksana lautan yang keruh,
gelombang kita membawa kebencian,
dasar kita dipenuhi bangkai dosa yang membusuk.
Tetapi Ramadhan datang sebagai hujan.
Malam-malamnya turun sebagai air mata.
Dan setiap tetes yang jatuh,
membilas lumpur yang melekat di dasar hati kita.
Hingga di penghujungnya,
kita menjadi lautan yang jernih,
tempat cahaya Tuhan dapat memantul tanpa noda.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/16/
Ketika Hati Tak Bersyukur
Puisi oleh Lily Yovita
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ciptaan-Mu tak lagi sempurna
Ketika iman tak menyirami dada
Lelah raga mengumpulkan harta
Tuk ubah segala yang telah Engkau cipta
Demi kesempurnaan yang fana
Angin keserakahan tak berhenti berbisik
Hembuskan angan yang tak pernah habis
Pada hati yang tak pernah bersyukur
Ketika puja yang disanjung terlalu tinggi
Anugrah Ilahi diporakporandakan
Seakan ia pengukir sejati
Saat sanjung datang menghampiri
Keserakahan semakin menjadi jadi
Tak peduli raga yang tersakiti
Ia gores lagi dan lagi
Ketika yang tampak luar mulai memudar
Hanya bercak noda yang tertinggal
Kecantikan itupun kini pudar
yang tersisa hanyalah penyesalan
Deretan pemuja tak lagi mempedulikan
Tersisih dalam keramaian
Sendiri meratapi kepedihan
Terlambat untuk menyadari
Kebersihan hati sumber kecantikan abadi
Padang, Sumatera Barat,
15 Desember 2024
——————————————-
Lily Yovita, M.Pd., lahir di Bukittingi tahun 1976. Setelah menyelesaikan S‐1 pada jurusan Kependidikan Matematika FPMIPA Universitas Negeri Padang pada tahun 2000, penulis mengabdi sebagai guru bantu di SMP Negeri 32 Padang sejak tahun 2003. Status sebagai PNS baru pengarang dapatkan pada tahun 2006. Pada tahun 2010, penulis mendapatkan beasiswa S‐2 di Universitas Negeri Padang pada jurusan Teknologi Pendidikan dengan Prodi Pendidikan Matematika. Di SMP Negeri 32 Padang, Lily dipercaya sebagai wakil kurikulum sejak tahun 2015 -2023. Pada tahun 2020, ia terpilih mejadi salah seorang Guru Penggerak angkatan 1 dari Kota Padang. Kemudian pada tahun 2023 ia menjadi Pengajar Praktik Guru Penggerak Angkatan 93 Kota Padang. Tanggal 29 Desember 2023, penulis dilantik menjadi pengawas SMP Kota Padang. Karya penulis sebelumnya juga tergabung dalam 7 buku antologi bersama guru-guru di Indonesia dan 1 buah buku solo (Kumpulan Puisi) yang berjudul “Awal yang Mengakhiri”.
/17/
ANGIN LAILATUL QADR
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum Ramadhan,
kita mungkin hanyalah butiran pasir,
terserak di antara dunia,
terinjak, terlupakan.
Tetapi di malam itu,
angin Lailatul Qadr akan datang membawa kita ke langit.
Ia bergerak di antara sayap malaikat,
menaburkan kita ke dalam kitab takdir yang baru.
Dan ketika pagi datang,
kita telah menjadi bagian dari sejarah yang tak akan hilang.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/18/
ABAI
Oleh N’ceria Damanik
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tiba -tiba saja,
matahari sudah di ufuk Barat
Hari sudah senja,
aku terlambat
Waktu berlalu begitu cepat melesat,
Sedang siang pun,
tak mampu kuingat.
Bukankah tadi pagi aku masih melangkah kokoh
Menoleh ke kiri dan ke kanan dengan senyum merekah
Namun kini langkahku gontai, berdiri serasa mau roboh
Otot-otot terasa kendur, tulang- tulang kaku dan rapuh
Andai kutahu,
pagi tidak selama yang kusangka
Tak akan semua sahabat aku sapa
Tak akan kami bercengkerama terlalu lama
Akan kureka berapa waktu tersisa
Matahari pun mulai tenggelam
redup sinarnya semakin nyata,
kemudian terbenam
Bergegas kulangkahkan
kaki ke tangga malam
sebelum mata memaksa untuk terpejam
Padang, Sumatera Barat
20 Januari 2025
——————————————–
Enceria Damanik, (Nama Pena: N’ceria Damanik), panggilan Ence. Lahir di Simalungun, SUMUT, 23 Maret 1967. Setamat dari SMAN Sidamanik – Simalungun, kuliah di IKIP Negeri Padang Jurusan Bahasa Inggris. Mengajar sejak 1990 di SMP N 1 Bonjol; Menjadi pengawas sekolah 8 tahun di Kap Pasaman. Sejak tahun 2008, menduduki berbagai jabatan struktural di Pemda Kab Pasaman dan Prop. Sumatera Barat. Penulis pernah mengajar di perguruan tinggi seperti STAI Lubuksikaping, Universitas Terbuka Padang, dan Universitas Andalas. Terakhir Ence menjadi Dosen tetap di Departemen Administrasi Pendidikan, FIP Universitas Negeri Padang.
/19/
Lentera yang Menyala di Jalan menuju-Nya
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dulu kita hanyalah bayangan.
Kita berjalan di dunia tanpa cahaya sendiri,
mengekor gelap yang memanjang di belakang.
Tetapi puasa datang sebagai fajar.
Ia membakar ego kita,
menghanguskan keinginan yang berlebihan,
hingga yang tersisa hanyalah cahaya.
Dan kini, kita tidak lagi menjadi bayangan.
Kita adalah lentera yang menyala di jalan menuju-Nya.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/20/
Langit yang Terbuka
Puisi oleh Linda Rosalina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit tak pernah bertanya,
siapa yang menatapnya,
dari mana datangnya suara,
ke mana angin membawa makna.
Ia mendengar tanpa membendung,
menampung rintik, badai, dan terang,
membiarkan cahaya berpijar bebas,
tanpa takut kehilangan ruang.
Di bawahnya, tanah berbisik,
langkah-langkah berbeda berpadu,
bukan untuk menyeragamkan warna,
tapi merayakan keberagaman waktu.
Sebab yang besar, bukan yang membungkam,
melainkan yang membuka gerbang,
agar kata tak mati dalam sepi,
dan pikiran tumbuh tanpa batas.
Padang, Sumatera Barat
10 Maret 2025
————————————-
Linda Rosalina adalah seorang akademisi, dokter, dan penulis yang aktif di bidang kesehatan serta memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai humanisme. Ia merupakan dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) yang berkontribusi dalam berbagai penelitian ilmiah dan pengembangan ilmu kedokteran. Selain kiprahnya di dunia akademik dan medis, Linda juga memiliki ketertarikan besar pada sastra, khususnya puisi, yang ia gunakan sebagai medium refleksi dan ekspresi pemikiran. Baginya, puisi bukan sekadar karya seni, tetapi juga sarana untuk menyeimbangkan jiwa, menggali makna kehidupan, serta menyuarakan kepekaan terhadap realitas sosial dan kemanusiaan.
/21/
Malam yang Lebih Purba dari Cahaya
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum bintang-bintang mengenal sinarnya,
sebelum waktu menjadi aliran,
malam ini telah tertulis di Lauhul Mahfudz,
sebagai rahasia yang hanya ditemukan
oleh mereka yang terjaga.
Langit membuka matanya,
malaikat-malaikat turun tak berjejak,
memeluk bumi yang menangis,
menaburkan firman seperti embun
ke dalam hati yang remuk.
Seribu bulan hanyalah bayang,
karena yang turun malam ini
adalah Sang Cahaya yang tak terpadamkan,
menghidupkan yang mati dalam jiwa,
menghapus yang sia-sia dalam waktu.
Dan di ujung fajar,
segala nama telah ditulis,
segala takdir telah ditetapkan,
dan hanya yang berserah
akan mengenal keabadian.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/22/
MASUKLAH
Puisi oleh Bara Pattyradja
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat, PPIPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dari kamus yang bengal
Aku kirim puisi ini untukmu
Agar dapat kau lunasi
Rindumu pada kekata
Di lugu mata majasmu
Ada sebuah dunia
yang telah kubentangkan untukmu
Hanya untukmu
Masuklah!
Tapi jangan berharap
Menyaksikan wajahku
Sebab aku tak tergambar
Di dalamnya
Segala yang tak terduga
Akan mendatangimu
Serupa langit menemui bumi
Ketika hujan menguapkan buih lautan
Hikmati bunyi
Tik-tik pada jantung larik
yang bergema dalam aortamu
Peraslah rasa ingin tahumu
yang menyelubungi
Tepian-tepian makna
Karena darah dari desir puisiku
Tak menyodorkan warna peristiwa
Masuklah!
Aku menunggumu
Di balik pintu bahasa
Masih dengan debar yang sama
Flores, 2022
————————————‘
Bara Pattyradja lahir di Lamahala, Flores Timur tahun 1983. Menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2007). Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (2015). Karyanya yang telah terbit: Bermula dari Rahim Cinta (Yogyakarta, 2005), Republik Iblis (Yogyakarta, 2006), Samudra Cinta Ikan Paus (Bandung, 2013), Pacar Gelap Puisi (Jakarta, 2016), Aku Adalah Peluru (Jakarta, 2019), Geser Dikit Halaman Hatimu (Jakarta, 2019), Kepak Cinta Pengawal Langit (Jakarta. 2021), Melukat Liang Luka (Jakarta, 2021), Tarada Cinta Selain Kau (Jakarta. 2025). Bara diundang sebagai penyair tamu pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2020), Festival Puisi Internasional Tegal Mas Island (Lampung, 2021). Bersama Najwa Shihab menggelar agenda Literasi untuk Kebangsaan (Kupang & Lembata 2017). Founder Rumah Poetica Kupang (2007), Founder Puitik Natur (2022).
/23/
Ketika Malam Bertanya kepada Tuhan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malam ini, langit bertanya,
siapa yang menginginkan keabadian?
siapa yang masih mendekap dunia
ketika pintu langit terbuka?
Jibril menebarkan selimut cahaya,
menyelimuti tubuh-tubuh yang bersujud,
menghapus jejak-jejak kesalahan,
mencatat nama mereka yang kembali.
Sujud bukan sekadar sujud,
ia adalah perahu yang membawa jiwa
menyebrangi arus fana,
menemukan tangan Tuhan
yang telah lama menunggu.
Maka jangan berpaling sebelum fajar,
jangan biarkan langit menutup dirinya,
karena malam ini bisa menjadi
akhir dari ketidaktahuan,
atau awal dari keabadian yang dijanjikan.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/24/
Senyuman Bahagia Mentari Pagi
Puisi oleh Mira Salsabila
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kala kutatap indah dunia di pagi ini
Ku lihat mentari pagi tersenyum pada ku tanpa henti
Semangat ku tak boleh lenyap atau pun hilang lagi
Menatap dunia dibalik indahnya mentari pagi
Pada Mu lllahi Rabbi berucap syukur disetiap nafas yang tlah diberi
Nikmat ini membuat ku kuat hingga mampu hidup indah ini ku jalani
Pada Ilahi Rabbi lisan ini berucap zikir tanpa henti
Senyuman mentari pagi jadikan hangat diri ini untuk melangkah mencari keridhaan Illahi Rabbi
Ingin diri ini senantiasa dapat melihat senyuman mentari pagi agar kekuatan ku bertambah dan semangat hidup ku tak kan kubiarkan layu
Seindah senyuman mentari pagi seindah itu pula semangat membara ku dalam diri untuk bangkit melangkah menjalani hidup ini
Hidup yang selalu tercurah berkah
Padang, Sumatera Barat
13 Maret 2025
——————————————-
Mira Salsabila, M.Pd. adalah seorang akademisi dan penulis yang lahir di Padang tahun 1983. Berpijak pada dua dunia—agama dan sastra—ia membangun fondasi keilmuannya dengan menempuh dua gelar sarjana: S1 Bahasa dan Sastra Inggris di IAIN Imam Bonjol Padang (2007) serta S1 Pendidikan Agama Islam di STAI Yastis Padang (2015). Ketekunannya dalam studi agama membawanya meraih beasiswa AGPAII Sumatera Barat untuk melanjutkan S2 di Universitas Islam Sumatera Barat, yang ia selesaikan pada 2023. Saat ini, ia melangkah lebih jauh dengan menempuh S3 dalam bidang yang sama melalui jalur beasiswa alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dengan perkuliahan dimulai pada 2025.
/25/
Bias Cahaya di Bali Temaram Duka
Puisi oleh
Sri Wahyu Ningsih
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat, PPIPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Semua berjalan apa adanya,
tanpa direncana apalagi rekayasa.
Takdir itu akan menemui jalannya.
Ada cahaya dibalik bukit yang bersinar indah, memancarkan wangi senja.
Akankah ku mampu lalui segala?
Jalan yang ku yakin penuh liku dan terjal.
Memaksaku kuat dan bersahaja,
tak boleh lelah,
tak boleh mengalah,
harus tetap tegar meski ada luka.
Harus tetap sabar walaupun mulai didera.
Ku pasrahkan semua pada sang Pencipta.
Namun, dibalik cahaya disana,
tergurat duka di jiwanya.
Akankah mampu melangkah lagi seperti semula,
memulai semua dengan pasrah.
Apa mau dikata,
sang senja menjemput siangnya.
Ku yakin disana engkau kan bahagia,
bersama doa kami semua.
Payakumbuh,
Sumatera Barat
23 Februari 2025
——————————————-
Sri Wahyu Ningsih, S.Pd, merupakan Guru IPA di SMP Negeri 4 PAYAKUMBUH, Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh, Sumbar.
/26/
RAMADHAN TANPA DIRIMU, LIA
Puisi oleh Muslimin
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
tangis sang ayah mencabar permata
mencakar rembulan merobek sunyi malam
jerit sesal membelah dada gemetar
putri tercinta pergi menyusul sang bunda
di surga dengan senyum menoreh luka
jiwa terkapar mata hampa entah
sejak sehari semalam jadi panitia pemilu
setahun lalu
besok paginya pergi kerja di pabrik sepatu
tanpa istirah
tubuh lemah hati gundah
sakit tak terkira menimbun lara
rawat inap rawat jalan terbiasa
kemarin sang putri berkata: setelah Idul Fitri
aku akan bekerja lagi
membantu ayah dan adik tercinta
tapi tiba-tiba tubuhnya lemah tak berdaya
nyawa kembali menggunung derita
Ya Rabb, sang ayah mengiris luka hatinya
mengapa selama ini abai sang yatim putri tercinta
seharusnya ia tak perlu payah bekerja
sang ayah lebih perhatian egonya
sang putri terlunta tanpa daya
kini ia pergi selamanya
sang ayah hanya bisa memeluk pusara
sesal terlampau sepanjang hidupnya
Lamongan, Jawa Timur
12 Maret 2025
——————————————-
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan tahun 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/27/
LUKA DAN DOSA
Puisi oleh Yusuf Achmad
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Akulah buas di antara rimba manusia,
Binatang berbulu dosa yang menggulung jiwa.
Akulah si licik yang mengendap sunyi,
Lebih pengecut dari bayangan yang takut mentari.
Antagonis—bukan hanya di layar perak dunia,
Namun di catatan Nyamplungan, benda mati yang mencatat semuanya.
Sejak napas pertamaku hingga dewasa kini,
Dosaku terukir abadi, merajam nurani.
Terutama pada ayahanda, wahai pilar yang kulemahkan.
Aku durhaka, tenggelam di rawa kesalahan.
Lebih bodoh dari binatang yang hilang arah,
Kekakuanku bagai duri kaktus yang menjelma amarah.
Dosa ini, oh, menyebar seperti virus yang melata,
Tidak memilih satu, tapi menghantam seribu jiwa.
Dosa jariyah yang mengakar kuat,
Tidak terkikis bahkan oleh waktu yang berderap.
Oh Tuhan yang Maha Segala,
Adakah langit-Mu terbuka untuk jiwa hitam yang memohon reda?
Dapatkah taubatku melintasi samudera waktu,
Sementara aku tak pernah bersimpuh di pusaranya,
Malu pada Nyamplungan, yang terus memutar jari,
Menyalahkan aku—aku yang kini kehilangan aku.
Surabaya, Jawa Timur
21 Maret 2025
——————————-
Yusuf Achmad merupakan seorang penulis aktif dan saat ini juga merupakan Kepala SMK SAINTREN Al -Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis dikenal dengan buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.
/28/
TAK ADA RAMADHAN TANPA CINTA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tak ada Ramadhan tanpa cinta
sebab di dalamnya,
puasa adalah kesabaran yang melilit tubuh
seperti akar tua yang mencari cahaya,
sujud adalah rindu yang menjemput langit
dengan kelopak tangan yang gemetar.
Tak ada Ramadhan tanpa cinta
sebab di dalamnya,
doa bukan sekadar kata,
tetapi rumah bagi jiwa yang tersesat;
zikir bukan sekadar suara,
tetapi sungai yang mengalirkan luka
menuju muara ampunan.
Tak ada Ramadhan tanpa cinta
sebab malam-malamnya bukanlah sekadar gelap,
melainkan lembaran langit
yang disulam harapan;
fajar-fajarnya bukan sekadar pagi,
tetapi awal dari perjalanan pulang ke cahaya.
Ketika Ramadhan pergi tahun ini,
ia meninggalkan jejaknya di dada kita
seperti desir angin di padang sunyi,
seperti nyala lentera yang tak padam
meski jauh dari malam.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/29/
KEPERGIANMU RAMADHAN
Puisi oleh Anto Narasoma
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Palembang, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
di batas waktu inilah
aku sendiri
sebab dalam situasi cemas dan padat cerita
atas kepergianmu Kekasih,
liku-liku jalan pun masih
jauh panggang dari api
selama tiga puluh hari
setelah kita berpeluk mesra dengan segala doa dan ruang kesempatan,
Kau tinggalkan aku sendiri
entah,
yang keberapa kali
percikan air mata ini
hanyut ke dalam derasnya perasaan itu
sebab,
kehadiran dan kepergianmu yang begitu harum,
tercatat dari keringnya lapar haus keyakinanku
sebulan penuh
begitu surut kobaran api
tatkala keikhlasan itu tiba
pada momentum yang Kau ajarkan selama berpuasa
o aku merenung sendiri
di puncak kegelisahan
ketika Kau ajarkan hakikat tentang siapa
aku dan Dirimu
sebab,
jarak kepergianmu
yang jauh dari bulan
ke bulan,
selalu menebalkan kecemasan
apabila batas usiaku tiba
lebih duluan dibanding
kesucianmu;
Ramadhan
Senabung, Sumatera Selatan
26 April 2023
——————————————
Anto Narasoma merupakan penyair nasional, jurnalis senior, mentor senior komunitas PPIPM, anggota Poetry-Pen International Community. Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.
/30/
LUKA YANG DIMAAFKAN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Luka-luka datang seperti tamu tanpa undangan,
mengetuk pintu hati yang berkarat,
membawa ingatan seperti gurun,
yang menyimpan mata air pahit di dasar jiwanya.
Ramadhan tiba,
cahaya merayapi tembok-tembok lama,
mencari celah di antara retakan kenangan.
Bukankah ini bulan di mana
gelap melebur dalam sujud?
Bukankah ini musim
di mana dendam dikafankan?
dan dikembalikan ke tanah bersama
bayangan yang tak lagi berjaya?
Maka biarkan luka itu pulang,
bukan sebagai pedang yang menikam,
tetapi sebagai angin yang kehabisan kekuatan.
Biarkan ia menyelinap dalam doa,
meredup dalam sajadah,
luruh seperti debu yang hilang
ke berbagai penjuru arah.
Sebab pada akhirnya,
keikhlasan bukanlah perayaan,
melainkan sungai yang menghapus
batas antara pahit dan damai.
Di penghujung bulan suci ini,
kita bukan lagi puing-puing derita
yang mengendap dalam sunyi,
melainkan lautan yang telah memaafkan
semua sungai yang pernah membasahi
perjalanan kita dengan luka dunia.
Padang, Sumatera Barat, 2018
——————————————–
Kumpulan puisi no. 1, 3, 5,7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, 28, 30 awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2018. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)