RD. Dominics Baldawins Masriat: Senyum Damai dari Manila untuk Dunia
Oleh: joko
http://suaraanaknegerinews.com | MANILA, FILIPINA — Minggu pagi yang cerah, 25 Mei 2025, langit Central Seminary Universitas Santo Tomas (UST) Manila memancarkan cahaya hangat yang menembus keteduhan pepohonan halaman seminari.
Dalam ketenangan pagi itu, suara penuh hikmat dari seorang putra Tanimbar, RD. Dominics Baldawins Masriat, menggema membawa pesan damai dari balik tembok seminari tua bersejarah itu.
Sebagai Pastor Mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, RD. Dominics membagikan refleksi rohaninya yang diberi judul Sejenak Sabda, sebuah sapaan mingguan yang menggugah hati umat, bukan hanya di Filipina, tetapi juga bagi mereka yang mengikuti pelayanannya dari tanah air.
Dengan mengacu pada bacaan liturgi Minggu Paskah VI (Kis 15:1-2,22-29; Why 21:10-14,22-23; Yoh 14:23-29), ia mengajak umat untuk menyelami kembali makna kasih yang sejati bukan dari kata-kata, melainkan dari tindakan nyata.
Kasih yang Mengubah Hidup
“Bagaimana mungkin seseorang mengatakan bahwa dia mengasihi Yesus, tetapi tetap tinggal dalam perbuatan dosa?” tanya RD. Dominics membuka refleksinya.
Menurutnya, bukti nyata kasih kepada Kristus adalah dengan hidup dalam kebenaran dan mematuhi setiap firman-Nya.
Ia menekankan, kasih bukan sekadar perasaan atau slogan rohani, melainkan wujud komitmen konkret dalam tindakan sehari-hari.
“Dengan mengasihi dan melakukan perintah Yesus, kita akan dikasihi oleh Allah, dan oleh kasih itu, kita akan dihantar untuk tinggal bersama Allah,” ungkapnya.
Janji Roh Kudus yang Menguatkan
Tak hanya itu, RD. Dominics juga mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Dalam Yesus yang bangkit, Roh Kudus diberikan sebagai penolong, penghibur, dan pengajar kebenaran.
“Jangan gentar, jangan khawatir,” pesannya menguatkan. “Jika kita terbuka pada kuasa Roh Kudus, kita akan dibantu, dihibur, dan diselamatkan dalam segala hal.”
Senyum yang Membawa Damai
Poin yang paling menyentuh dari refleksi Minggu pagi itu adalah ajakan untuk menjadi pembawa damai.
Bukan hanya lewat hal besar seperti menyelamatkan dan membantu sesama, tetapi juga dalam hal yang paling sederhana: senyuman.
“Senyum itu sederhana, tetapi mampu membawa damai bagi orang lain,” katanya. “Hendaklah setiap perjumpaan kita menjadi perjumpaan senyuman, agar orang yang melihat kita merasa damai dan sukacita.”
Doa yang Menyentuh
Di akhir refleksi, RD. Dominics mengajak umat untuk berdoa bersama: “Ya Yesus, semoga kami mampu membawa damai seperti yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”
Dari bilik seminari di negeri orang, RD. Dominics menyapa dunia dengan pesan sederhana tapi dalam: kasih, Roh Kudus, dan damai bisa dimulai dari senyum tulus yang lahir dari hati yang mengasihi Tuhan.
Sebuah sapaan yang membuktikan bahwa walau jauh dari tanah kelahiran, pelita iman dari Tanimbar tetap menyala dan kini, menyinari banyak hati.