April 24, 2026
rizal cinta the second

Oleh: Rizal Tanjung

aku menulis rindu ini di atas kelopak senja,
dengan air mata yang jatuh tanpa suara,
membasahi hati yang retak perlahan,
karena tanpamu, dunia serasa kehilangan warna.

di mana kau kini, kasih?
apakah kau masih ingat bisikan manja di ujung malam?
atau genggaman jemari kita di lorong-lorong kenangan,
yang kini tinggal bayang di mata yang lelah menanti?

aku tersesat dalam sunyi yang kau tinggalkan,
menghitung detik dengan hati yang nyaris punah,
sebab waktu terasa begitu kejam,
menghukumku dengan penantian tanpa kepastian.

seandainya rindu bisa berbicara,
ia akan berteriak memanggil namamu,
seandainya rindu bisa menangis,
ia sudah tenggelam dalam lautan pilu.

aku menahan sesak yang tak bertepi,
karena rindu ini bukan lagi luka,
ia telah menjelma belati,
menusuk hatiku berkali-kali tanpa belas kasih.

malam-malam panjang kuhabiskan untuk menunggu,
menatap langit dan bertanya pada bintang,
apakah kau juga merasakan yang kurasa,
atau aku hanya sendiri dalam kesedihan ini?

andai kau tahu, kasih…
betapa setiap hembusan nafasku adalah namamu,
betapa setiap denyut nadiku adalah rindu untukmu,
betapa aku nyaris hancur dalam keinginan untuk bertemu.

tapi kau tak di sini…
hanya bayangmu yang menari dalam ingatan,
hanya suaramu yang bergema dalam kesunyian,
hanya kenangan yang menghangatkan malam-malam dingin.

aku ingin berlari mencarimu,
ingin meneriakkan semua yang terbendung di dada,
namun langkahku lumpuh oleh kenyataan,
bahwa kau mungkin tak akan pernah kembali.

namun, kasih…
biarlah rindu ini menjadi doaku,
biarlah ia menjadi angin yang membelai wajahmu,
sebab hanya itu yang kutahu,
mencintaimu dalam rindu yang tak akan mati…

2025.