May 10, 2026
Rizal Tanjung Rindu yang tak terjangkau

Oleh: Rizal Tanjung

Aku lahir di negeri yang jauh, di bawah langit Paris yang kelabu,
di antara menara-menara batu yang menjulang,
di bawah gemerlap lampu-lampu malam yang tak pernah padam.
Tapi jiwaku selalu berbisik pelan,
tentang tanah yang tak pernah ku pijak,
tentang rumah yang tak pernah kulihat,
tentang Papua—tanah tumpah darah bapaku.

Aku mendengar desau angin di Champs-Élysées,
tapi hatiku mendamba semilir angin dari hutan rimba,
hembusan lembut dari laut biru yang berbisik pada karang,
lagu ombak yang bernyanyi di pantai berpasir putih.
Aku melihat Seine mengalir tenang,
tapi sungai yang kurindukan adalah Baliem yang liar,
adalah kali-kali kecil yang mengalir di antara pegunungan hijau,
tempat di mana batu-batu besar menjadi saksi sejarah leluhurku.

Di sini, di negeri orang,
kulihat langit biru membentang tanpa batas,
tapi rinduku membayang pada langit Papua yang lebih biru,
tempat matahari terbenam di cakrawala emas,
dan senja menari dengan warna-warna yang tak dimengerti lukisan.

Aku adalah anak dari dua dunia yang bertaut,
separuh darahku mengalir dari negeri anggur dan roti,
separuh lagi berasal dari tanah yang ditumbuhi sagu dan pinang.
Tapi hatiku…
hatiku selalu pulang ke timur,
ke tempat di mana bapaku lahir,
ke desa-desa yang namanya kudengar hanya lewat cerita.

Mereka bertanya,
kenapa mataku menerawang jauh saat hujan turun?
Kenapa jari-jariku gemetar saat menyentuh tanah?
Aku ingin berkata—
aku rindu tanah yang tak pernah kupijak,
aku rindu suara burung Cendrawasih di pagi hari,
aku rindu sorak-sorai anak-anak berlarian di padang ilalang,
aku rindu api unggun yang menyala di tengah malam,
aku rindu rumah-rumah Honai yang berdiri kokoh melawan waktu.

Aku ingin mencium aroma hutan Papua,
membiarkan kakiku telanjang di tanah merah yang hangat,
membiarkan tanganku menyentuh pepohonan tua yang menyimpan kisah nenek moyang.
Aku ingin duduk di tepi danau Sentani,
melihat perahu-perahu kecil berlayar pelan,
mendengar riuh tawa nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan.

Di sini, di tanah Prancis, aku asing.
Bahasaku patah-patah saat mencoba menyebut namaku sendiri,
namun di dalam hatiku, aku tahu aku adalah anak Papua.
Aku adalah gadis yang merindukan sesuatu yang tak pernah ia miliki,
aku adalah burung yang terperangkap dalam sangkar emas,
melihat langit luas, tapi tak bisa terbang pulang.

Bapa, tunggulah aku di sana,
di tanah yang kau banggakan dalam cerita-ceritamu.
Aku akan datang,
akan kupijak tanah leluhurku,
akan kubiarkan air sungai Papua membasuh kakiku,
akan kuhirup udara yang membawa napas moyang kita.

Jika aku mati sebelum sempat pulang,
taburkan abu tubuhku ke laut Papua.
Biarkan aku kembali ke rumah,
biarkan aku menjadi bagian dari tanah ini,
biarkan aku pulang,
meski hanya sebagai angin yang berhembus di antara pegunungan.

Karena di sanalah rumahku.
Di sanalah jiwaku akan tenang.

16 Maret 2025.