May 3, 2026

“Rumah Tanpa Pintu”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar)

leni19

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina "Rumah Tanpa Pintu". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-8 Assisted by AI.

/1/

Rumah Tanpa Pintu

Puisi: Leni Marlina

[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kawan,
kemana kau mencari rumah,
kemana kau memanggil pulang,
jika dunia hanya serat bayang yang robek?

Pintu yang kau cari,
tak pernah terkunci,
tetapi jemarimu terlalu terbiasa
menggedor tembok harapan palsu.

Rumah bukan sekadar atap yang melindungimu
dari hujan dan panas,
ia adalah pelukan Tuhan
di tengah badai kehidupan.

Ketuklah hatimu, kawan.
Di sana ada tangga tak terlihat
menuju kedamaian yang tak tergantikan.
Di sana doa tak perlu suara,
hanya keheningan dan keikhlasan yang menjadi bahasa.

Rumah bukan ruang,
tetapi waktu yang berhenti,
tempat kau tak lagi berlari
dari bayang-bayangmu sendiri.

Clayton, Melbourne, Australia, 2011

/2/

Ladang Tanpa Tepi

Puisi: Leni Marlina

[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kawan,
ladang ini adalah sejarah.
Ia mengingat semua jejak cangkulmu,
menyimpannya dalam tubuh tanah yang lelah.

Namun tanah ini tak hanya menerima—
ia menilai,
apakah hatimu basah oleh doa
atau retak oleh ambisi.

Kau menanam benih harapan,
tetapi lupa menyiraminya
dengan sabar yang sederhana.
Langkahmu terpuruk ketika kau
menginjak bulir-bulir syukur
yang telah matang.

Di ladang ini,
nikmat tak tumbuh dari buru-buru.
Ia lahir dari pelukan tanah pada tanganmu,
dari bau bumi yang berubah
menjadi doa.

Kembalilah, bawa tanah ini,
simpan di dadamu yang mengering.
Biarkan ia menjadi oase bagi hatimu.

Clayton, Melbourne, Australia, 2011

/3/

Jalan Spiral

Puisi: Leni Marlina

[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kawan,
jalan ini bukan sekadar batu dan debu,
ia adalah spiral yang membawamu
kembali ke langkah pertama.

Di awal, syukur adalah benih.
Namun, benih tak akan tumbuh
tanpa akar yang menembus
tanah hati yang keras.

Langkahmu adalah doa,
tetapi apakah ia mendalam
atau hanya jejak kosong
di atas tanah basah?

Bahagia bukan tujuan, kawan,
melainkan pelajaran dari lingkaran.
Ia menuntunmu untuk berhenti melawan waktu,
untuk memaafkan dirimu sendiri.

Di tengah lingkaran itu,
kau akan berdiri sebagai saksi,
bukan hanya bagi dunia,
tetapi bagi dirimu yang dulu kau lupa.

Clayton, Melbourne, Australia, 2011

/4/

Malam yang Memilih Sunyi

Puisi: Leni Marlina

[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kawan,
malam ini bukan hanya gelap.
Ia adalah selimut bagi suara-suara
yang menunggu untuk didengar.

Bintang jatuh bukan karena lelah,
tetapi karena rindu pada doa
yang tak naik ke langit.

Di balik tirai langit,
ada lilin kecil yang menari,
berusaha melawan angin yang tak terlihat.
Lilin itu adalah hatimu, kawan,
dan angin adalah waktu
yang mencoba memadamkannya.

Sunyi adalah pintu
yang membawa kau kembali ke cahaya.
Dengarkan, jangan hanya bicara.
Di malam ini,
kau tak perlu mencari jawaban—
cukup biarkan hatimu menjadi doa.

Clayton, Melbourne, Australia, 2011

/5/

Pasang-Surut Laut di Hatimu

Puisi: Leni Marlina

[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kawan,
laut adalah puisi yang tak pernah selesai.
Ia menulis dirinya
di setiap pasang dan surut,
di setiap gelombang yang merayakan kebebasan.

Kau mencintai laut,
tetapi dayungmu terlalu kasar,
mencoba memotong arusnya.
Padahal, laut hanya meminta satu hal:
serahkan egomu,
dan biarkan laut membawamu.

Pasang adalah doa yang naik ke langit,
surut adalah air mata yang kembali ke bumi.
Di antara keduanya,
kau harus menjadi ombak—
tidak melawan, tidak tunduk,
tetapi menyatu dengan ritme alam.

Kawan,
laut tak ingin dijinakkan,
ia hanya ingin menjadi saksi
dari hatimu yang perlahan larut,
menemukan kebebasan
dalam menyerahkan,
ambisi yang bertentangan dengan nurani,
sehingga kau bisa menikmati lautan hidup ini.

Clayton, Melbourne, Australia, 2011

—————–

Biografi Singkat

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2011, saat penulis menjalani program master of Writing and Literature di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital bulan Januari 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni Marlina telah mendirikan sekaligus mengetuai sejumlah kecil komunitas sosial, bahasa, sastra, literasi dengan platform digital meliputi:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)