Saat Gereja Menjadi Tempat Koneksi Kasih
Oleh: joko | Sumber: Pdt. Sammy Sahulata
http://suaraanakmegerinews.com | Ambon_ Di tengah era digital yang serba terkoneksi, sebuah refleksi segar datang dari Pendeta Sammy Sahulata, M.Si., Staf Lembaga Pembinaan Jemaat, Gereja Protestan Maluku di Kantor Sinode GPM, Jln. D. I. Panjaitan. Nmr 1 (Unit Kerja LPJ GPM) Kompleks Gereja Maranatha, Lantai 2 Gedung PB AMGPM, AMBON, MALUKU. Sabtu (3/5/25).
Ia mengibaratkan gereja sebagai “server pusat iman”, tempat umat terhubung dengan kasih Tuhan dan sesama.
“Gereja itu seperti server pusat iman, tempat kita terhubung dengan kasih Tuhan dan sesama. Tapi kadang, sinyal itu terasa lemah, bukan karena Tuhan jauh, tapi karena kita lupa menjaga koneksinya”.tulis Pdt. Sammy.
Namun, menurutnya, koneksi itu tak selalu stabil, bukan karena Tuhan menjauh, melainkan karena umat sering lupa memperkuat sinyal rohaninya.
Dalam tulisannya yang menyentuh, Pdt. Sammy menggambarkan kasih Kristus sebagai jaringan tanpa batas, tersedia kapan saja dan untuk siapa saja.
Tetapi pertanyaannya, sejauh mana umat dan pelayan gereja mampu menjaga agar “jaringan” kasih ini tetap terbuka dan aktif bagi semua orang?
“Kalau iman adalah aplikasi kehidupan, maka gereja adalah tempat kita memperbarui sistem rohani,” tulisnya.
Sebuah analogi yang kuat dan relevan, mengingat begitu banyak orang merasa “lag” dalam menghadapi tekanan hidup, godaan dunia, dan kesibukan yang melenakan.
Tantangan terbesar, menurutnya, bukan pada kekuatan sinyal ilahi, melainkan pada komitmen umat untuk terus “online dalam kasih”, tidak hanya saat ibadah berlangsung, tetapi juga dalam keseharian mereka, dalam tindakan, relasi, dan kesaksian nyata.
Yesus, yang adalah Kepala Gereja, juga disebut sebagai penyedia kasih tak terbatas.
Gereja, kata Pdt. Sammy, seharusnya menjadi jaringan terbuka yang ramah, bukan tembok penghalang yang membuat orang enggan mendekat.
Pesan akhirnya jelas “mari menjadi gereja yang hidup, hangat, dan selalu terhubung, karena kasih Tuhan tidak mengenal hari, ruang, atau batas”.