Saat Senja Membakar Waktu
Oleh Yusuf Achmad
–
Kenikmatan bagai embun di ujung daun,
Mengusap manis, lalu lenyap tak berjejak.
Cinta adalah ombak yang mencumbu karang,
Menggoda, menguji, meremukkan hati yang lengah.
Kekuasaan bak bayang-bayang senja,
Megah sejenak, sebelum terhisap malam.
Dan kehidupan, sang penyair licik,
Menjanjikan cahaya, namun menjebak dalam kelam.
Di usia muda, bunga-bunga berbisik,
Kelopak merekah, angin membuai.
Remaja menari dalam mimpi-mimpi yang melayang,
Menukar masa dengan harap dan ilusi.
Dewasa datang dengan seribu badai,
Mengukir luka pada dada yang renta.
Namun mengapa senja tak seindah malam?
Mengapa tua tak seagung fana?
Memori, secarik kertas yang melayang,
Terbang jauh, terkoyak waktu.
Meski ada yang berkata ia abadi,
Bukankah bahkan bintang pun akhirnya padam?
Kesadaran, apa artinya bagi si pemimpi?
Materi, apa gunanya bagi sang pertapa?
Dan bekal, apa yang dikejar si pengelana?
Kutapaki jejak para bijak,
Kujelajahi doa para perenung.
Kupecahkan teori yang dulu mengurung,
Kulewati batas yang dipancang zaman.
Kuingin akhir berbeda dari mula,
Biarkan mereka tertawa saat aku ada,
Dan menari dalam riang saat aku tiada.
Dan senyum terakhirku menjadi melodi yang abadi.