“Sahabat, Aku Membawa Namamu ke Langit”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "Sahabat, Aku Membawa Namamu ke Langit": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-111 (Assisted by AI).
/1/
Sahabat, Aku Membawa Namamu ke Langit
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kau berbisik di dadaku,
seperti angin berbisik pada laut.
Aku membawa namamu ke langit,
agar bintang tahu kau pernah bersinar.
Jika esok aku menjadi debu,
jangan cari aku di tanah yang bisu,
carilah aku di napas pertama fajar,
di antara nyanyian angin yang jernih.
Karena sahabat bukan sekedar tubuh dan suara,
ia adalah jejak berani di bawah cakrawala.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/2/
Jika Kau Ingin Melihatku Kelak, Sahabatku
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Jika kau kelak ingin melihatku,
jangan cari dalam album, video atau catatan harianku.
Carilah aku di air yang mengalir,
di cahaya yang menerpa permukaan sungai,
di dedaunan yang berguguran dengan lembut.
Sebab jasadku mungkin sudah hilang saat itu,
tapi kau mungkin masiĥ bisa mendengar puisiku dari gema takdir,
bila Tuhan mengizinkanmu mendengarnya.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/3/
Tuhan Mencintai Kita
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Hari ini kita ada,
esok kita menghilang.
Tapi cahaya lilin tetap ada,
meski sumbunya telah padam.
Sahabat,
kita hanyalah bayangan,
yang berguguran di antara cahaya.
Tapi Tuhan mencintai kita,
maka kita tak akan benar-benar lenyap.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/4/
Kau Tak Sendiri Kawan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Jika kau merasa sendiri,
dengar bisikan angin di jendela,
ia membawa namamu ke langit.
Jika kau merasa gelap,
lihatlah bulan yang separuh,
ia tak sempurna,
tapi tetap bercahaya.
Kau tak sendiri, kawan,
ada tangan tak terlihat,
yang selalu menggenggammu,
akupun merasakan hal itu.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/5/
Aku dan Kau Berasal Dari Satu Cahaya
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kawan,
kau mencariku di bukit-bukit sepi,
aku mencarimu di dalam langit.
Tapi jiwa tak butuh mata,
ia hanya perlu merasa.
Aku dan kau, tak pernah dua,
kita hanya dua bayangan,
yang berasal dari satu cahaya,
Untuk apa kita tidak saling menyapa?
Padahal kita bisa saling menguatkan untuk berjuang bersama.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/6/
Kehilangan Bukan Perpisahan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Jangan menangis bila aku tiada,
sebab aku tak pernah pergi.
Lihatlah dedaunan yang gugur,
ia hanya pulang ke tanah yang mencintainya.
Sahabat, kau dan aku adalah angin,
tertiup ke arah berbeda,
tapi kelak kita akan bertemu,
di satu musim yang bersemi dengan caranya sendiri,
mengikuti ketetapan Tuhan, Sang Maha Pencipta alam semesta ini.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
/7/
Kau, Sahabatku yang Menanggung Waktu
Oleh Leni Marlina
Sahabatku,
kau datang seperti angin yang tak perlu diundang,
menerobos sunyi tanpa mengguncang,
menjadi cahaya yang tak menuntut mata
untuk selalu memandangnya.
Kau bukan sekadar nama yang terukir di pelipis kenangan,
kau adalah orbit yang tak pernah kusadari
telah lama mengitari langkahku—
tak mendahului,
tak tertinggal,
hanya ada, hanya setia.
Aku jatuh ke dalam jurang yang tak bernama,
menjadi bulan sabit tipis di langit kehilangan,
dan kau di sana,
bukan sebagai tangan yang menarikku kembali,
tapi sebagai cakrawala yang mengingatkan:
bahwa aku tak pernah benar-benar sendiri.
Kau berjalan di tepi malamku,
tak bertanya mengapa aku sunyi,
tak memaksa aku menjadi terang.
Kau hanya tetap di sana,
membiarkanku redup atau membesar,
seperti bulan yang memahami
bahwa cahayanya bukan miliknya sendiri,
melainkan milik semesta yang ingin diterangi.
Sahabatku,
jika suatu hari langkah kita harus berpencar,
aku tahu kau tak akan benar-benar hilang.
Seperti bulan yang terselubung awan,
kau tetap ada di sana—
menunggu malam membaik,
menjadi cahaya bagi gelap yang masih percaya pada pagi.
Baso, Agam, Sumbar, 2003
——————————–
Tentang Penulis dan Karyanya
Tak ada rencana besar ketika kata-kata itu pertama kali ditulis. Hanya sebaris kegelisahan yang mencari tempat, sepotong harapan yang ingin bernafas. Tahun 2003, sepulang perjalanan akademiknya memenangkan LKTM bidang pendidilan di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) bidang LKTM di Universitas Negeri Surakarta, Leni Marlina tanpa sadar menuliskan bait-bait kecil di antara catatan reflektifnya. Ia tidak mengira bahwa kelak, puisi-puisi itu akan kembali mengetuk hatinya, membawa kembali jejak langkah yang hampir terlupa.
Dua puluh dua tahun berlalu. Suatu hari, Leni Marlina menemukan kembali puisi-puisi lama itu, tersimpan dalam lembaran yang mulai menua. Ada yang terasa asing, seperti suara yang pernah dikenalnya namun kini berbicara dalam nada yang berbeda. Ada pula yang masih lekat di hati, seolah tak pernah pergi. Ia membacanya ulang, menyentuh tiap larik dengan hati-hati, merevisinya dengan kedewasaan yang kini dimilikinya, dan—dengan sedikit keberanian—memutuskan untuk membiarkannya hidup kembali. Tahun 2025 menjadi awal baru, tempat puisi-puisi itu diberi ruang untuk bernapas di dunia digital.
Menulis selalu menjadi rumah bagi Leni Marlina, tempatnya kembali setiap kali dunia terasa terlalu bising. Namun, seiring waktu, ia memahami bahwa sastra bukan hanya soal menulis. Sastra adalah tentang berbagi, tentang mendengarkan, tentang bertumbuh bersama. Kesadaran inilah yang menuntunnya lebih dalam ke dunia edukasi dan literasi, bukan sebagai seseorang yang telah ‘jadi’, tetapi sebagai seorang peziarah yang masih terus belajar.
Leni Marlina bergabung dengan Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA) cabang Sumatera Barat, yang diketuai oleh penyair dan mantan birokrat Sastri Bakry, sementara komunitas ini sendiri didirikan oleh Denny J.A. Melalui komunitas ini, ia melihat sastra Indonesia dari perspektif yang lebih luas, memahami dinamika yang selama ini hanya diketahuinya dalam bayangan. Pada tingkat internasional, ia menjadi bagian dari Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai dan dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, yang didirikan dan dipimpin oleh seniman sekaligus penyair Anna Keiko. Selama studinya di Australia pada 2012, ia juga pernah terhubung dengan Victoria’s Writer Association, belajar bagaimana sastra bisa menjadi jembatan bagi beragam budaya.
Namun, di antara semua hal yang telah ia jalani, satu hal yang paling Leni Marlina syukuri adalah kesempatan untuk berbagi. Sejak 2006, ia mengajar di Program Studi Sastra Inggri, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Mengajar baginya bukan sekadar profesi, tetapi sebuah jendela untuk memahami dunia dari sudut pandang para mahasiswa—mereka yang datang dengan semangat, kegelisahan, dan pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup.
Di luar kampus, Leni Marlina mencoba membangun ruang-ruang kecil bagi siapa saja yang ingin menjadikan bahasa dan sastra sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka. Beberapa komunitas yang ia dirikan dan kelola meliputi:
1. World Children’s Literature Community (WCLC) – tempat berbagi dan mencintai literasi dari ruang lingkup sastra anak dari berbagai belahan dunia. Beberapa karya/kegiatan dari komunitas ini bisa dilihat pada link: https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community – ruang berbagi bagi penyair lintas negara untuk menyuarakan kemanusian, keadilan, kepedulian lingkungan, indah-pahitnya kehidupan.
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat) – komunitas yang menjadikan puisi sebagai sarana berbagi inspirasi dan refleksi sosial. Beberapa bentuk karya/ kegiatan komunitas ini bisa dilihat pada link berikut: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – menghubungkan sastra, edukasi, dan kewirausahaan digital. Beberap kegiatan/karya komunitas ini bisa dilihat di link ini: https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community – ruang diskusi bagi para pecinta bahasa dan linguistik.
6. Literature Talk Community – komunitas bagi yang ingin mengeksplorasi dunia sastra lebih dalam.
7. Translation Practice Community – tempat belajar dan berbagi dalam seni penerjemahan, terutama bahasa Indonesia-Inggris dan sebaliknya.
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – komunitas yang menghubungkan edukasi, bahasa, literasi, dan sastra.
Semua ini bukan tentang pencapaian, melainkan tentang perjalanan—sebuah perjalanan yang masih akan terus ia jalani. Ia percaya bahwa sastra bukan hanya tentang menulis dan membaca, tetapi juga tentang mendengar, memahami, dan menemukan makna dalam setiap kata yang dibagikan. Jika ada satu hal yang ingin terus ia lakukan, itu adalah belajar dan berbagi, sebab di sanalah sastra menemukan kehidupannya yang sejati.
friend-i-lift-yo…ra-fsm-acc-shila/