April 16, 2026

“Sambutlah Sekeranjang Matahari”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

sambut1

"Sambutlah Sekeranjang Matahari": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks (Assisted by AI)

/1/

Sambutlah Sekeranjang Matahari

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Taman-taman itu dulu bernyanyi,
tapi kini suaranya hilang lenyap di udara,
seperti daun-daun yang rontok sebelum sempat
menuliskan namanya di musim semi.

Kita menggenggam cukup, tapi telapak tangan terbakar,
dalam genggaman kita, pasir waktu mengalir,
menjadi sungai yang melahap dirinya sendiri.
Lapar menjalar di sela jari-jari,
seperti akar menggali batu,
haus akan sesuatu yang bahkan tak pernah dijanjikan bumi.

Langit telah menulis kita dalam aksara cahaya,
tapi mata masih mengais bayang-bayang di tanah basah.
Kita takut esok menelan kita bulat-bulat,
padahal hari ini belum selesai berbicara.

Lihatlah, kecemasan menjelma badai yang mencabik akar harapan,
merobek lembutnya angin pagi,
mengoyak dedaunan sebelum sempat belajar hijau.
Ia mengunyah ketenangan dengan gigi baja,
menjilati tulang-tulang mimpi,
menjadikan jiwa kita padang perburuan hantu-hantu lapar.

Hari ini adalah tamu yang mengetuk pintu,
ia membawa sekeranjang matahari,
tapi kita terlalu sibuk menambal esok
hingga lupa membuka jendela.

Jangan biarkan ketakutan membangun sarangnya
di dadamu yang seharusnya menjadi taman.
Jangan biarkan suara-suara usang,
seperti anjing liar di gang sempit,
menyalak dan menggigit tulang semangatmu.

Mereka menertawakan langkahmu,
tapi tak pernah menapaki jurang yang kau daki.
Mereka menghitung luka di punggungmu,
tapi tak pernah mencium bau perihnya.

Bangkitlah.
Hujan telah turun, menghapus debu yang menempel di kulitmu.
Langit bukan lagi penjara,
ia adalah jendela yang menunggu kau dobrak.

Hari ini adalah arus yang akan membawamu entah ke mana,
tapi setidaknya, biarlah kau mengapung dengan kepala tegak,
bukan tenggelam dalam laut ketakutan.

Dan jika maut akhirnya mengetuk—karena ia pasti datang,
biarlah ia menemukanmu sedang hidup,
bukan sedang bersembunyi dari hidup.

Melbourne, Australia, 2012

/2/

Aku Bukan Daun yang Gugur

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku bukan daun yang gugur dan membiarkan angin menentukan ke mana aku harus pergi.

Aku adalah akar yang menembus batu,
menolak tunduk pada tanah yang ingin menelanku.
Aku menggenggam bumi,
bukan untuk bertahan,
tetapi untuk menumbuhkan hutan di tempat yang tak pernah mengenal hijau.

Aku bukan debu yang ditiup waktu,
bukan bayang-bayang yang patuh pada cahaya.
Aku adalah nyala
yang menolak dipadamkan oleh hujan.
Aku adalah embun
yang tetap turun,
bahkan ketika malam menutup semua jendela.

Jangan bicara padaku tentang kekalahan,
sebab aku telah melihat malam runtuh ke dalam fajar.
Aku telah menyaksikan benih
yang remuk di bawah tanah
menjadi pohon yang menantang langit.

Dan aku tahu—
bahkan yang rapuh pun bisa menjadi kekuatan,
bahkan yang kecil bisa menumbangkan gunung yang sudah lama bertahan.

Melbourne, Australia, 2013

/3/

Apa Kau Akan Menjadi Nyala Itu?

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Malam menajamkan taringnya,
mengunyah cahaya hingga berkeping.
Bulan merintih, remuk dalam cengkeraman angin,
dan bintang-bintang dipanggang
di tungku gelap semesta.

Tetapi lihatlah,
di sudut sunyi,
ada nyala kecil yang menolak tunduk.
Ia tertawa saat gelap menggertaknya,
mengangkat wajah saat bayang-bayang merayap.

“Tak semua cahaya butuh langit.
Tak semua nyala takut mati.”

Ia menyulut dirinya sendiri,
membakar dada yang dingin,
hingga pagi harus berlutut padanya.

Apa kau akan menjadi nyala itu?
Atau sekadar bayangan yang ikut terbakar?

Melbourne, Australia, 2013

/4/

Ketika Langit Tersangkut di Ubun-ubun Manusia

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Mereka berkata langit di atas,
tapi tidakkah kau merasa
ia tersangkut di ubun-ubun manusia?

Langit ini bukan atap dunia,
ia adalah cakram berkarat
yang berputar di kepala mereka
yang tak pernah mengangkat wajah.

Ada yang mencoba menghapus cakrawala
dengan ujung jarinya,
tapi angin mengunyahnya seperti roti basi.

Ada yang mencoba menulis ulang senja,
tapi matahari menertawakannya dari tepi jurang.

Langit bukan batas.
Langit adalah cermin
yang bertanya:
“Apa kau cukup tinggi untuk menyentuhku?”

Melbourne, Australia, 2013

/5/

Luka yang Berjuang Melawan Pedih dan Peri

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Bumi menggelinding tanpa peduli.
Laut menelan kapal seperti camilan sore.
Gunung mengepulkan napas terakhirnya
tanpa pamit kepada hutan.

Apa yang kau tunggu?
Dunia tampaknya sekarang tak belajar lagi mengasihani.

Maka aku memilih menantang ombak
alih-alih menjadi pasir yang diam.
Aku memilih menghancurkan batu
daripada berkarat di tepinya.

Takdir bukanlah palu
yang pasti membuatku menjadi debu.
Aku bukan tanah yang berlutut.
Aku adalah luka yang berjuang melawan pedih dan peri,
meski langit mencoba menamparku sekali lagi.

Melbourne, Australia, 2013

/6/

Mengapa Burung Itu Masih Terbang?

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Burung terakhir terbang melawan langit
yang pecah seperti kaca retak.
Sayapnya robek,
bulunya berkeping seperti kelopak musim gugur,
tetapi ia terus mengepak
di antara reruntuhan awan.

Langit memuntahkan geramnya:
“Mengapa kau tak menyerah?”

Burung itu menertawakannya.
“Karena menyerah adalah perbuatan awan,
bukan burung.”

Langit mencengkramnya,
menariknya ke bawah,
tetapi ia mengepak,
ia mengepak,
hingga bahkan malam pun kalah memahami
mengapa ia masih terbang.

Melbourne, Australia, 2013

/7/

Gedung yang Menolak Roboh

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kota ini mengunyah manusia
seperti asap yang melahap kaca.
Gedung-gedung tua batuk,
jendela-jendela mereka bergetar
seperti gigi yang menahan musim dingin.

Tetapi aku bukan salah satunya.
Aku adalah gedung yang menolak roboh,
dindingku retak, tapi tak akan runtuh.
Langit telah menjeratku dengan badai,
tetapi aku menatapnya dan berkata:
“Coba lebih keras lagi.”

Aku akan tetap berdiri,
bahkan jika kota ini tenggelam,
bahkan jika malam ini menjadi pemakaman terakhirnya.
Aku akan tetap berdiri,
takkan pernah takluk,
karena aku hanya tunduk kepada ketentuan Tuhan.

Melbourne, Australia, 2013

/8/

Aku, Jejak Dalam Dadamu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku bukan air yang mati di muara,
bukan nyanyian yang tenggelam di kerongkongan.
Aku adalah sungai
yang meski dihimpit batu,
tetap mencari jalan menuju laut.

Aku bukan malam
yang menyerah pada gelap.
Aku adalah bintang
yang menusuk pekat dengan tajamnya cahaya.

Jangan katakan padaku bahwa semuanya telah selesai.
Aku adalah detak yang tak rela berhenti,
adalah nafas yang terus menolak lupa.
Lihatlah—bahkan abu pun
bisa menjadi tanah yang menumbuhkan pohon.

Dan aku akan tetap ada, meski hanya sebagai jejak di dalam dadamu.

Melbourne, Australia, 2013

 

/9/

Kadar Manusia

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

I

Malam menguliti hari, mengelupas cahaya hingga hanya tersisa bayang-bayang.
Di antara debu dan doa yang tak sampai,
manusia berdiri, bertanya: Aku siapa?

Langit berkerut muram, menatap nama-nama
yang menguap seperti uap luka.
Tanah menggeliat lapar, menelan tubuh
tanpa mengunyah kenangan.

Sejarah adalah sungai tanpa muara,
menelan segala yang terapung di permukaannya.
Apakah kau ombak yang menciptakan riak,
atau sekadar percikan yang mati sebelum sempat menggenang?

Kau memilih apa, kawan?

II

Ada yang memilih menjadi angin
—ia menyusup di sela-sela dada yang dingin,
tanpa bertanya,
tanpa menuntut dikenang.

Ada yang memilih menjadi hujan
—ia jatuh, pecah, menghilang ke dalam tanah,
tak sempat berkata,
“Aku pernah ada.”

Ada yang memilih menjadi batu
—ia membatu, membisu, menunggu waktu
menghapusnya dari sejarah.

Namun, ada pula yang memilih menjadi api
—menyala meski diguyur hujan malam,
membakar dirinya agar dunia tetap terang.

Kau memilih apa, kawan?

III

Kadar manusia bukan berapa kali ia bernafas,
tapi seberapa ia menjadi udara bagi yang sesak.
Kadar manusia bukan berapa kali ia melangkah,
tapi seberapa ia menjadi jembatan bagi yang lumpuh.

Kau memilih apa, kawan?

IV

Langit tak menulis nama di awan,
tanah tak mengukir nama di batu,
hanya jejak yang menentukan—
apakah kau akan tinggal sebagai gema
atau lenyap sebagai debu.

Kadar emas ditakar dengan api,
kadar manusia ditakar dengan manfaat.
Kau memilih apa, kawan? Tapi ingat—bahkan pilihan pun bisa terlupakan.

Apakah kau akan tinggal sebagai gema?
Atau lenyap sebagai debu?
Alam tak menakar nama, hanya jejak yang tertinggal di pori-pori waktu.

Melbourne, Australia, 2013
—————————————-

Kumpulan puisi di atas (No.1-8) awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani masa akhhir program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)