April 22, 2026

Gulungan Rindu Untukmu Kawanku: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni2

Ilustrasi "Gulungan Rindu Untukmu Kawanku": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-102 (Assisted by AI).

/1/

Gulungan Rindu Untukmu Kawanku

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kawan,
kukirimkan gumpalan rindu
melalui angin yang mencabik malam,
kusisipkan namamu dalam kelopak bunga yang terluka,
agar ia mekar di bibirmu saat kau mengucap doa.

Hari ini ulang tahunmu,
dan aku bertanya pada rembulan,
apakah ia masih menyinari jalan yang pernah kita lalui?
Ataukah cahayanya telah patah
seperti kenangan yang tak sempat kita rajut kembali?

Di negeri asing sana,
empat musim berputar dalam pusaran waktu,
mengunyah jejakmu satu per satu.
Guguran daun di musim gugur adalah pesan-pesan yang kau abaikan,
salju pertama adalah surat yang membeku sebelum sempat kau baca,
angin musim semi adalah bisikan yang kau biarkan berlalu,
dan musim panas…
ia telah membakar sisa-sisa ingatan kita
hingga tak tersisa abu sekalipun.

Kawan,
apakah kau masih mengenal suara hujan di negeri ini?
Ia mengetuk jendela kamar dengan nada yang sama,
menyebut namamu dengan rintik yang panjang.
Tapi kau tak menjawab.

Aku tetap di sini,
menjahit rindu dengan benang waktu,
menyulam namamu dalam pusaran angin,
agar suatu hari,
saat dunia lelah berputar,
ia akan mengantarkanmu kembali—
walau hanya sebagai bayang-bayang
di kelopak mataku yang enggan terpejam.

Melbourne, Victoria, 2012

/2/

Kesetiaan Batu Untukmu Kawanku

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Untukmu kawanku,
yang menghilang di ujung waktu

Kau, kawanku,
aku menjadi batu di jalan sunyi,
tulang bumi yang menggigil dalam hening.
Aku menelan jejakmu, menyimpannya dalam nadi,
tapi lihatlah—
retakan di dadaku mulai menganga,
seperti luka yang tak mau dijahit.

Aku mencoba menghafal pijakan terakhirmu,
tapi angin liar menamparnya hingga hancur.
Aku ingin mencengkrammu lebih erat,
mencekal bayangmu dengan kesetiaan batu,
tapi aku hanya reruntuhan diam,
dan perpisahan ini adalah palu
yang memecah tubuhku sedikit demi sedikit.

Kau, kawanku,
aku tetap di sini,
mengeras dalam kehilangan.
Jika suatu hari kau kembali,
kau akan menemukanku telah menjadi pasir,
tertawa getir di genggaman waktu,
sebelum akhirnya terbang, lenyap,
tanpa pernah bisa kau genggam lagi.

Melbourne, Victoria
Australia, 2012

/3/

Angin Mengetuk Jendela Dengan Rindu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Untukmu kawanku,
yang menjadi bayangan retak di kaca

Kau, kawanku,
aku kini laksana jendela,
dulu memantulkan tubuhmu di dadaku,
merekam tatapanmu seperti mantra.
Tapi kini, kau pergi,
dan aku hanya bingkai kosong
dengan kaca yang menggigil di antara sepi.

Angin mengetukku dengan rindu,
jari-jarinya dingin seperti perpisahan.
Aku ingin membuka diri, ingin menyambutmu,
tapi aku hanya jendela yang terkunci,
dan engselku telah berkarat oleh waktu.

Kau, kawanku,
aku jendela yang lapar,
memakan bayangan dalam gelap,
mencabik-cabik udara dengan tatapan hampa.
Tapi kau tak kembali.
Kini kaca di tubuhku mulai retak,
sampai akhirnya pecah,
menghujani lantai dengan serpihan rindu
yang tak bisa lagi disatukan.

Melbourne, Victoria
Australia, 2012

/4/

Jalan yang Menjadi Sungai Hitam

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Untukmu kawanku,
yang dilarikan waktu ke ujung senyap.

Jalan ini pernah mendekap langkahmu,
tapi sekarang ia berubah jadi sungai hitam.
Aspalnya mencair,
menelan jejak,
mengunyah rindu dalam pusaran gelap.

Aku berlari, mengejarmu,
tapi aspal menjulur seperti lidah panjang,
menjilati rindu dengan nyeri yang membara.
Aku tergelincir ke dalam jurang sepi,
jatuh ke dalam keheningan tanpa dasar.

Kau, kawanku,
kau terus berjalan,
membelah waktu seperti pisau,
mengiris pertemuan dengan kepergian.
Sementara aku,
terjerembab dalam kesunyian yang menelan
namamu satu huruf demi satu huruf.

Melbourne, Victoria
Australia, 2012

/5/

Surat yang Terbakar dalam Paru-Paru Udara

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Untukmu kawanku,
yang kini seperti abu di antara nafas

Aku menulis namamu di asap,
menyisipkannya dalam paru-paru angin.
Semua huruf menyala merah,
membakar rinduku hingga habis.

Kau, kawanku,
seperticangin menghela dalam-dalam,
menyedot semua kata yang kubakar.
Aku mengepalkan abu suratku,
tapi ia hanya beterbangan,
berceceran sebelum menghilang.

Kini aku berbicara dengan kehampaan,
memanggilmu dalam kepulan sunyi.
Kata-kata telah hangus,
dan yang tersisa hanya jelaga rindu
di dasar dadaku,
sampai perpisahan ini berdamai dengan masa kini dan masa lalu.

Melbourne, Victoria
Australia, 2012

/6

Malam yang Seolah Memakan Tubuh Waktu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kau, kawanku,
seperti ditelan gelap,
sudah terlalu lama kau tak pulang.

Malam seolah tidak hanya mencuri namamu,
ia mengunyah tubuh waktu dengan rakus.
Detik-detik berguguran seperti daun kering,
hancur di dalam rahangnya yang kejam.

Aku mencarimu di kerangka langit,
di mana bintang-bintang bagaikan tercabut dari akarnya.
Tapi malam ini menelan semua yang bisa mengingatkanku padamu.

Untukmu kawanku,
aku coba merangkai suara,
menjahit gema dari kepingan waktu.
Tapi yang tersisa hanyalah denging kosong,
di dalam ingatan yang digenangi rindu.

Melbourne, Victoria
Australia, 2012

———————

Kumpulan puisi di atas (No.1 6) awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani masa pertengahan program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina merupakan anggota aktif Komunitas Penulis Indonesia SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)

scrolls-of-longi…ra-fsm-acc-shila

Gulungan Rindu Untukmu Kawanku: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)