Debu Kurindu
Yusuf Achmad
Debu suci menempel di sandal pengelana,
Langkah-langkahnya meninggalkan jejak di hamparan doa dan puja.
Hati pecinta, perindu, bahkan si durjana,
Bersatu dalam bahasa pengharapan, doa, dan rindu yang membara.
Langkah demi langkah, menapaki langit demi langit,
Entah di langit berapa langkahku terhenti.
Meninggi, menurun, ke kanan, kiri, atau menyamping,
Ka’bah berbalut kiswah hitam bertuliskan emas,
Berwibawa, beraura sang Maha.
Berputar-putar adalah hidupku,
Berganti langkah, berbalik, dan kembali lagi adalah jiwa nafasku.
Duhai debu suci yang berbaur rindu,
Takkan putus silih berganti,
Rinduku sejati takkan mati,
Seperti bintang gemerlap malam.
Debu-debu suci ini adalah saksi,
Perjalanan hati yang tak pernah usai.