Scroll, Joget, dan Diam: Gee Mayor Putera Biak Gugat ‘Anak Adat’ yang Bungkam Saat Tanah Papua Dirampas
Paulus Laratmase| Penulis
–
Gee Mayor, aktivis muda asal Biak, melontarkan kritik keras yang menampar kesadaran generasi muda Papua, khususnya mereka yang dengan bangga menyebut diri sebagai “anak adat”, namun memilih diam ketika tanah leluhur digusur, hutan dirampas, dan sungai diracuni oleh ekspansi sawit dan kepentingan oligarki.
Dalam pernyataannya yang beredar luas di media sosial, Gee Mayor menyoroti ironi besar: simbol adat dikenakan dengan bangga, identitas kultural dielu-elukan, tetapi nyali menguap saat alat berat perusahaan masuk ke kampung-kampung. “Kalian bangga menyebut diri anak adat, tapi ketika tanah ibu dijual murah, kalian sibuk scroll, joget, dan cari validasi di media sosial,” tegasnya.
Menurut Gee Mayor, sikap diam generasi muda Papua bukanlah posisi netral. Ia menyebut kebisuan itu sebagai bentuk keberpihakan pada penindas. Dalam konteks perampasan tanah dan kerusakan ekologis yang terus berlangsung, diam berarti memberi ruang aman bagi korporasi untuk terus melaju tanpa perlawanan berarti.
“Jangan bicara cinta Papua kalau suara kalian bisu saat tanah leluhur digusur. Jangan pakai simbol adat kalau nyali kalian kecut saat perusahaan datang,” lanjutnya. Kritik ini menyasar budaya aktivisme semu—lantang di simbol, namun rapuh dalam tindakan nyata.
Gee Mayor juga mengingatkan bahwa media sosial, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda, seharusnya tidak hanya digunakan untuk hiburan. Baginya, platform digital bisa menjadi senjata perlawanan, ruang konsolidasi, dan alat membangun kesadaran kolektif. Namun yang terjadi justru sebaliknya: media sosial berubah menjadi ruang pelarian dari realitas pahit yang sedang menghancurkan tanah Papua.
Ia mengingatkan konsekuensi jangka panjang dari sikap apatis tersebut. Ketika hutan habis, sawit tidak akan memberi identitas. Ketika tanah lenyap, perusahaan tidak akan mengakui siapa pun sebagai anak adat. Yang tersisa hanyalah penyesalan, hidup sebagai penonton di tanah sendiri, tanpa kuasa dan tanpa masa depan.
“Sejarah tidak akan mencatat kalian sebagai generasi keren, tapi sebagai generasi pengecut yang membiarkan tanahnya dirampok tanpa perlawanan,” ujar Gee Mayor, menutup pesannya dengan seruan tegas: bangun dan bersuara.
Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi generasi muda Papua. Di tengah masifnya ekspansi industri ekstraktif dan lemahnya perlindungan negara terhadap hak-hak masyarakat adat, Gee Mayor menegaskan satu hal: Papua tidak membutuhkan generasi penakut. Papua membutuhkan anak muda yang berani bersuara, berdiri, dan melawan demi tanah, hutan, dan martabatnya sendiri.