May 10, 2026

oleh Rizal Tanjung

Ia bukan sekadar hewan beban,
melainkan ikon zaman yang telah kehilangan rasa hausnya akan makna.
Seekor keledai berjalan melintasi padang wacana yang tandus—
punggungnya rak perpustakaan,
dadanya papan reklame gelar kehormatan.
Ia melangkah dengan anggun penuh kepasrahan,
mendengus mengikuti irama akademis,
dan setiap langkah bergema
dengan gema rapuh “cum laude.”

Di punggungnya bergelantungan buku-buku berat,
judul-judulnya berkilauan bagai bintang palsu:
Etika, Epistemologi, Eksistensialisme,
namun tak satu pun menerangi bilik jiwanya.
Ia salah mengartikan bobot kata sebagai kedalaman,
ketebalan halaman sebagai bukti kebijaksanaan.

“Saya seorang seniman,” katanya,
“pembawa inspirasi dari kata-kata yang tak pernah saya pahami.”

Ia berkarya bukan dari kesadaran melainkan dari kutipan,
melukis ketidaktahuan dengan pigmen teori,
menggubah simfoni seminar
dari suara dengusannya sendiri.
Di sekelilingnya tumbuh subur taman-taman pengakuan:
pohon sertifikat berdaun tanda tangan,
buah penghargaan sastra,
membusuk manis di tengah tepuk tangan.

Angin berlalu dan membaca puisi-puisinya,
namun sang seniman keledai hanya tahu
bagaimana menundukkan kepala
pada tepuk tangan yang terbuat dari kebisingan.

Di kota gelar dan simposium,
keledai menjadi pahlawan wacana.

Ia membuka sebuah pameran bertajuk “Karya yang Tak Pernah Kubaca,”
dihadiri oleh para profesor rumput kering
dan kritikus yang menulis ulasan di atas karung goni.

Mereka berdebat tentang bentuk dan teori,
namun lupa bahwa makna telah lenyap,
bersembunyi di antara sedotan kata-kata.

“Sangat modern!” kata seorang pejabat.
“Ia memanggul filsafat di punggungnya!”

“Lebih dari itu,” jawab yang lain,
“ia membawa peradaban dengan langkah seekor keledai!”

Dan malam pun tiba—
lampu-lampu galeri bersinar bagai metafora yang letih.
Keledai itu menatap bayangannya di kaca,
melihat seorang bijak tanpa kepala.
Ia tersenyum tipis—
mungkin itulah wajah kebijaksanaan saat ini:
diam, namun terdukung.

Lalu ia menulis sebuah manifesto:

“Seni adalah beban yang harus dipikul
hingga tulang punggungnya patah dan maknanya pun runtuh.”

Kalimat itu dikutip ribuan kali,
diterbitkan di jurnal internasional,
dibacakan di kongres sastra,
dilukis sebagai mural di dinding universitas.
Namun tak seorang pun tahu
ia menulisnya sambil mengunyah tesis-tesis busuk
dan menelan kata empati
tanpa mengetahui rasanya.

Di ranah politik yang lebih tenang,
keledai itu tampil sebagai seorang orator.
Ia mengajarkan kepada raja-raja tentang estetika Plato,
tentang moral yang dapat dijual melalui tender.
Para raja bertepuk tangan, seraya berkata:

“Kau keledai yang terpelajar!
Suaramu bagaikan buku,
pikiranmu bagaikan batu yang berkilauan di bawah cahaya media.”

Maka negeri itu pun dipenuhi para seniman keledai,
mengajari keledai-keledai lain
seni berbicara tanpa isi,
berpikir tanpa risiko.
Mereka mendirikan sebuah akademi bernama Institut Punggung Dunia,
tempat teori tumbuh dari rerumputan
dan ijazah mekar dari jerami.

Namun suatu malam,
di bawah cahaya bulan yang tulus,
sang seniman keledai duduk sendirian.
Buku-buku di punggungnya berbisik pelan,
seolah memohon untuk dibaca,
namun ia hanya menatap lumpur
dan bayangannya sendiri yang terbalik.

“Apakah seni mengenal tuannya?” bisiknya.
“Ataukah aku hanyalah kanvas yang bodoh?”

Rembulan menjawab dengan lembut,
bagaikan suara dari celah hati yang terluka:

“Keledai, pembawa teori,
seni bukanlah beban—
melainkan cahaya yang tak terlihat
karena kau dibutakan oleh ketidaktahuanmu sendiri.”

Pagi datang bagai festival penghargaan.
Orang-orang memadati pasar ide,
menjual kutipan, membeli reputasi.
Di tengah mereka, seniman keledai berdiri gagah—
punggungnya menua, kepalanya cekung.
Ia kini disebut maestro,
karena zaman telah mengubah
beban menjadi pencapaian,
dan keheningan menjadi cara berpikir modern.

“Lihat!” teriak massa,
“orang bijak lewat!”

Dan gema langkahnya terdengar bagai puisi mekanis:
tak ada makna, hanya derap kaki kuda di jalan teori.

Ketika hujan akademis turun dari langit,
membasahi tesis, manuskrip, disertasi,
buku-buku di punggungnya meleleh menjadi lumpur.
Huruf-huruf berserakan, mencari makna;
kalimat-kalimat menjerit, kehilangan struktur.
Keledai itu ambruk
di antara halaman-halaman basah—
dan untuk pertama kalinya dalam wacana panjangnya,
ia memahami:
bahwa seni tanpa kesadaran
adalah gurun pasir yang menenggak fatamorgananya sendiri.

Sekarang, jika kau pernah melihat seseorang
berbicara dengan bahasa yang sulit
tentang makna yang tak mereka pahami,
atau membawa buku-buku tebal seolah membawa Tuhan,
ingatlah kisah seniman keledai—
yang menanggung perpustakaan dunia
namun kehilangan jendela hatinya.

Karena zaman ini lebih memuja bunyi kutipan
daripada kebenaran,
dan lebih menghormati keledai yang fasih dalam teori
daripada penyair
yang berani haus akan makna.

Sumatera Barat, 2025