May 2, 2026
ririe sepi di ujung senja

Ilustrasi : Artificial Intelligence

Penulis : Ririe Aiko

Nak, Aku yang merapal doa-doa
Saat dulu kau terlelap
Menukar mimpi demi kau bisa berdiri
Tegak dengan gagah berani

Masih kudengar nyanyianmu saat bayi,
Rengekan yang meramaikan sunyi
Membangunkanku dari lelah jiwa dan hati
Tapi itu tak membuatku lantas membenci
Makhluk kecil yang ku cintai sepenuh hati

Nak, masih jelas dalam ingatanku
Getar kecil dalam genggamanku,
harum tubuhmu membaur dengan napasku
Aku yang selalu merapal doa di ubun-ubunmu,
menjahitkan harapan di tiap sujudku,

Lihatlah, Nak, tanganku yang kini mulai keriput,
dulu ia benteng yang menjagamu dari luka,
dadaku yang mulai tenggelam oleh usia,
pernah menjadi sandaran tempat kau berlindung.

Tapi kini,
Mengapa matamu memandangku seperti musuh?
suaramu menggelar seperti petir yang hendak menerkam bumi
kau bisikkan rencana untuk membuang ku,
Saling melempar tanggung jawabmu
Padahal meski satu, dua bahkan sepuluh dari kalian
Tak satupun ku buang pada pembantu
Ku besarkan kalian dengan tangan-tangan ku
Tangan yang kalian hempaskan ke sudut jalan

Biar aku pikun, biar aku hampir mati,
jangan renggut sisa cintaku yang masih tersisa,
Karena lebih dari sekadar tubuh
Yang kau titipkan ke panti,
hatiku sudah akan mati,
bukan termakan usia
tapi oleh kesepian di ujung senja.