Simfoni Padaido: Ziarah Jiwa ke Peraduan Laut dan Langit
(Terinspirasi dari tulisan: Paulus Laratmase)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di timur bumi, kala matahari masih menjahit cahaya
di lipatan awan dan lembayung pagi,
terhampar gugusan yang tak sekadar pulau—
melainkan serpihan surga yang jatuh perlahan
ke pangkuan Samudera Pasifik:
Padaido, nyanyian alam dari Biak Numfor.
Di sana, langit menulis puisi dengan kuas pelangi,
menoreh garis-garis biru di cakrawala,
dan laut menjadi kanvas tempat warna bersujud.
Pulau demi pulau, bagaikan anak-anak dewa
yang tertidur di selimut ombak lembut,
menganyam mimpi dari pasir putih dan desir angin suci.
Padaido Atas, memayungi nama-nama yang terdengar seperti mantra purba—
Padaidori Yeri, Meosmangguandi, Mbromsi, Workbundi—
gema dari zaman ketika bumi masih bersenandung
dalam bahasa burung dan desir angin yang bijak.
Sementara Padaido Bawah,
menyemburatkan sinar dari Owi, Auki, Wundi,
dan pulau-pulau kecil, mutiara kecil yang menari
di ujung jemari Tuhan.
Pakreki, sang penjaga,
berdiri sunyi seperti rahib samudera—
memisah, namun menyatukan;
menjaga rahasia keindahan dalam diam.
Di sini, waktu kehilangan maknanya.
Detik berdetak tak lagi sebagai pengingat,
melainkan nyanyian yang membawa jiwa larut
dalam pelukan ombak, dalam nyanyian camar,
dalam tenang yang merasuk tulang.
Rumi, pulau di barat yang menatap lautan tak berujung,
adalah altar sunyi bagi para perindu;
hamparan pasirnya bagai salju yang mencair di siang tropis,
dan langitnya adalah kitab langit
yang tak pernah selesai dibaca oleh pandang mata.
Namun, keindahan sejati bukan di permukaan,
melainkan di perut samudera yang hening.
Di sana, karang bukan sekadar batu,
melainkan lukisan hidup—
95 warna, empat simfoni bentuk:
pantai, penghalang, atol, dan gosong—
tempat cahaya dan bayang menari dalam kodratnya.
Menyelam di Padaido,
adalah seperti berjalan di antara bintang,
namun di bawah laut—
ikan-ikan bagai sajak yang berenang,
gurita menari dengan lengan waktu,
hiu berkelana seperti pengembara sunyi
mencari bait terakhir dalam puisi laut.
Di sinilah simfoni ekologis dinyanyikan,
oleh 155 jenis ikan dan tujuh lagu mangrove,
berkolaborasi dalam orkestra kehidupan
yang lebih murni dari simfoni Beethoven.
Kelapa menjulang di pulau-pulau,
seperti menara doa yang menghadap langit.
Dari tubuhnya mengalir air kehidupan,
dan dari pucuknya, doa para pelaut
terus mengalun, tak pernah putus.
Namun Padaido bukan hanya peraduan indah bagi jiwa,
ia adalah denyut ekonomi, nadi kebangsaan.
Di perairan ini, emas tak bersinar,
tetapi berenang dan bernafas,
menggeliat bersama jala nelayan dan cita-cita bangsa.
Ia adalah ladang biru yang tak menua,
warisan laut yang harus dijaga
dengan tangan yang penuh cinta,
dan mata yang melihat masa depan.
Markus Oktavianus Mansnembra,
bukan hanya menyebut, tetapi menanam harapan
di balik setiap gelombang dan semilir angin.
Padaido bukan sekadar destinasi,
ia adalah mercusuar untuk marwah negeri maritim,
tempat harga diri berkibar di tiang-tiang kelapa
dan janji bangsa mengalun di arus-arus bawah laut.
Melangkah ke Padaido,
adalah masuk ke kitab kehidupan yang dibuka perlahan.
Bumi bersatu dengan langit,
laut merangkul cakrawala,
dan manusia kembali menjadi bagian dari semesta.
Setiap sudutnya adalah bait,
setiap desirnya adalah sajak,
dan setiap napas mu adalah bagian dari nyanyian alam.
Padaido bukan tempat,
ia adalah rasa yang tumbuh dalam dada,
ketakjuban yang tak bisa didefinisikan,
dan cinta yang tak bisa diukur.
Datanglah.
Biarkan Padaido menuliskan namamu
di pantainya yang putih,
di bawah langitnya yang bening,
di antara bisik mangrove dan tarian ikan.
Jadikan ia bait dalam kisahmu,
tempat kau jatuh cinta—
pada laut, pada kehidupan, pada Papua,
dan pada Indonesia yang agung.
Sumatera Barat, 2025.
“Simfoni Laut Padaido: Goresan Keajaiban dari Timur Indonesia”