Suara Hati Anak Negeri yang Merindukan Kesejukan
Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro
Kepala MAN Kota Sawahlunto, Mahasiswa Program Doktoral Study Islam S3 UM Sumbar, dan Ketua 1 JATMI Sumbar
Di tengah gejolak zaman yang semakin bergelora, suara hati anak negeri seperti terpendam dalam sebuah lorong waktu yang sunyi. Di antara hiruk-pikuk dunia yang terkotak-kotak oleh ambisi dan keserakahan, ada bisikan lembut yang menggema dari dalam sanubari kita semua: sebuah kerinduan akan kesejukan. Kesejukan yang saat ini tersandera, entah terbawa angin zaman atau sengaja dibiarkan tersingkir oleh arus modernitas yang menuntut kita untuk terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
Sebagai bagian dari generasi yang menyaksikan Indonesia berkembang dengan segala potensi dan tantangannya, kita tak bisa mengabaikan realita yang ada. Negeri ini, dengan segala kekayaan budaya dan sejarah yang dimilikinya, sering kali terperangkap dalam pusaran kepentingan yang tak sejalan dengan semangat kolektivitas dan kedamaian yang dulu menjadi jati diri bangsa ini. Masyarakat kita, yang dulu bersatu padu dalam keberagaman, kini mulai terpecah-pecah oleh isu-isu yang sering kali lebih mengedepankan perbedaan daripada persatuan.
Di tengah derasnya arus pembangunan dan modernisasi, suara anak bangsa ini termasuk suara hati anak-anak negeri yang ada di daerah-daerah terpencil sering kali tertutup oleh hiruk-pikuk politik dan ekonomi yang kadang lebih mendahulukan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan bersama. Inilah yang membuat kita merindukan kesejukan, sebuah kondisi di mana setiap insan dapat hidup dalam damai dan harmonis, tanpa dihantui oleh kebisingan yang menyesakkan dada.
Namun, semakin kita menengok ke berbagai sudut negeri ini, semakin jelaslah gambaran betapa jauh Indonesia dari kesejukan yang kita idamkan. Saat ini, negeri ini tengah dilanda kegelisahan yang nyata. Demonstrasi besar-besaran yang kerap terjadi di berbagai kota, terutama yang berkaitan dengan isu-isu ketidakadilan sosial dan ekonomi, menunjukkan bahwa keresahan rakyat semakin menggelora. Seperti yang kita saksikan di Jakarta, Surabaya, dan berbagai wilayah lainnya, gelombang protes bukan hanya sekadar luapan emosi, tetapi juga tanda bahwa banyak kalangan merasa jauhnya keadilan Demonstrasi ini bukanlah aksi kekerasan tanpa sebab, tetapi merupakan cerminan dari suara hati yang terabaikan, yang meminta perhatian dan keadilan.
Bahkan, peristiwa tragis yang menimpa seorang tukang ojek online yang meninggal dunia dalam aksi demonstrasi menambah deretan panjang luka sosial yang belum sembuh. Kejadian tersebut bukan sekadar soal kehilangan nyawa, melainkan juga simbol dari betapa rapuhnya hubungan antara masyarakat dan aparat tertentu. Para pekerja informal, yang setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, sering kali menjadi korban dari ketidakadilan yang terjadi dalam struktur ekonomi kita. Mereka yang seharusnya mendapat perlindungan, justru sering kali terabaikan dalam kebijakan yang lebih fokus pada pertumbuhan sektor tertentu, sementara kebutuhan dasar rakyat terlupakan.
Belum lagi insiden kebakaran gedung DPRD Makassar yang baru-baru ini terjadi, sebuah simbol ketidak adanya kesejukan yang disuguhkan sebahagian wakil rakyat yang dianggap tidak mampu menanggapi dengan serius aspirasi rakyat. Kebakaran itu, meskipun dalam bentuk fisik, membawa pesan yang lebih dalam: rakyat merasa bahwa ruang-ruang politik yang seharusnya menjadi tempat untuk menyalurkan suara mereka justru telah tertutup rapat oleh politisasi yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok tertentu. Sehingga, jalan satu-satunya yang tersisa bagi mereka yang merasa tak didengar adalah aksi yang lebih radikal dan destruktif.
Dalam konteks ini, kita tidak bisa menutup mata terhadap realita politik yang terjadi saat ini. Pola politik yang semakin terpecah belah, pergeseran aliansi yang penuh kalkulasi menggambarkan betapa kompleksnya situasi negara kita. Dalam suasana seperti ini, politik bukan lagi tentang bagaimana mewujudkan kesejahteraan rakyat, tetapi lebih kepada bagaimana mempertahankan kekuasaan dan posisi masing-masing.
Berkaca pada sejarah perjuangan para pendiri bangsa, kita seharusnya sadar bahwa Indonesia dibangun atas dasar kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai. Namun, pada saat yang bersamaan, kita juga harus mengakui bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh dengan ketidakpastian memerlukan solusi yang lebih adaptif dan bijaksana. Inilah saatnya bagi kita untuk memperbarui kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang pernah menjadi landasan bangsa ini, dan menjadikannya sebagai panduan dalam menghadapi tantangan yang ada.
Sebagai seorang pendidik dan mahasiswa, saya sering teringat pada pesan para guru besar yang mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan karakter. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita untuk mengejar kesuksesan duniawi semata, tetapi juga mengajarkan kita untuk memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini sangat relevan dengan keadaan negara kita saat ini, di mana perpecahan dan ketidakadilan masih menghantui berbagai sektor kehidupan.
Kesejukan yang kita rindukan tidak hanya akan datang dari pemimpin yang bijaksana, tetapi juga dari setiap individu yang memiliki kesadaran akan pentingnya persatuan dan keadilan. Kesejukan ini bisa terwujud apabila kita semua, tanpa terkecuali, memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga moralitas, integritas, dan kejujuran dalam setiap langkah hidup kita. Pendidikan, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini, agar generasi penerus dapat tumbuh dengan jiwa yang penuh kedamaian dan kesadaran sosial.
Di tengah keragaman yang dimiliki oleh Indonesia, kita harus menyadari bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan sebuah kekayaan yang patut dijaga. Kita, sebagai bangsa, harus mampu menemukan titik temu di antara perbedaan-perbedaan tersebut, untuk menciptakan sebuah kehidupan yang lebih sejuk, damai, dan penuh dengan toleransi.
Melalui tulisan ini, saya berharap kita semua, sebagai bagian dari anak bangsa, dapat kembali merenungkan makna sesungguhnya dari kemerdekaan dan kebersamaan. Kita harus mengingat bahwa negeri ini dibangun oleh keberagaman, dan kesejukan yang kita rindukan hanya akan tercapai jika kita kembali pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Kesejukan itu, yang sempat hilang dihempas oleh derasnya arus modernitas dan politik, harus kita jaga bersama. Karena hanya dengan kesatuan, cinta, dan rasa saling menghargai, kita bisa mencapainya.
Semoga suara hati anak negeri ini dapat menggugah kita semua untuk merawat Indonesia dengan penuh kasih, agar negeri tercinta ini kembali merasakan kesejukan yang sesungguhnya.