Sujud Yang Tertinggal Dibawah Puing
Oleh : Ririe Aiko
(Pada 29 September 2025, Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, roboh saat para santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah. Bangunan musala yang baru selesai direnovasi itu runtuh seketika, menimpa ratusan santri di dalamnya.) [1]
—000—
Di Sidoarjo, tanah yang dulu retak karena lumpur, kini kembali bergetar. Bukan karena gempa, tapi karena sebuah bangunan yang menimpa suara-suara kecil yang belum sempat mengucap amin.
Atap yang dulu menaungi ayat-ayat kini runtuh, dan dinding yang menjadi saksi hafalan, kini hanya menyisakan debu dan serpihan harapan.
Anak-anak itu, semalam masih bersandar pada ayat-ayat suci. Suara mereka lembut, menembus malam:
“Ya Rahman, Ya Rahim…”
Tapi pagi itu, doa mereka terhenti, seolah malaikat menjemput di tengah bacaan yang belum tuntas.
Tak ada jerit. Hanya diam yang menyesak, seperti dzikir yang tertahan di tenggorokan. Lantunan yang semalam menenangkan jiwa, pagi ini berganti jadi siaran berita yang dibacakan dengan duka dan air mata.
Di bawah puing, ada mushaf terbuka, halamannya robek, tapi huruf-hurufnya tetap menyala, seperti bara kecil di tengah debu:”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi melainkan dengan kebenaran…”
Namun bumi pagi itu, seolah tak lagi kuat menahan kebenaran seperti malang yang tak bisa dielak.
Mengapa jiwa-jiwa kecil harus menjadi korban dari kelalaian tangan-tangan dewasa? [2]
Mengapa iman yang baru tumbuh harus patah di bawah beratnya kelengahan?
Lalu siapa yang akan menanggung air mata dari ibu-ibu yang kehilangan anaknya di tengah sujud?
—000—
Di antara reruntuhan, selembar Yasin tertiup angin. Huruf-hurufnya bergetar, seakan ikut berdoa, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Seratus tujuh puluh satu jiwa menjadi saksi, enam puluh tujuh di antaranya telah berpulang dalam keadaan tak utuh. [3]
Hanya potongan tubuh yang ditemukan, seperti potongan kisah yang tak sempat selesai.
Seorang ibu duduk di tanah yang basah, memeluk udara, mencari aroma anaknya di antara debu kapur. Tak ada satu pun orang tua yang siap mengkafani bagian kecil dari hidup yang ia lahirkan.
Tapi inilah takdir yang tak bisa digugat, garis sunyi yang hanya bisa diterima dengan pasrah.
Anak-anak itu, yang belum sempat memiliki KTP, telah Tuhan panggil lebih dulu, menjadi penghuni surga dengan hafalan di dadanya. Mereka tak sempat dewasa, tapi mereka pulang dengan ayat-ayat di bibirnya.
Mungkin Tuhan rindu suara mereka, rindu lantunan yang polos, rindu sujud yang belum ternoda dunia.
Di musala yang runtuh itu, ada sajadah yang masih hangat, ada sandal kecil yang menunggu pemiliknya pulang, ada doa yang tak sempat sampai ke langit.
Sore harinya, suara azan terdengar lebih lirih, seperti mengundang jiwa-jiwa kecil itu kembali.
Langit berwarna abu, dan angin membawa bau debu yang bercampur doa.
Lalu seseorang berbisik pelan: “Ya Allah, jika ini cara-Mu memeluk mereka, kami ikhlas, meski hati kami patah berkeping.”
Dan di antara reruntuhan itu, iman kembali tumbuh, pelan, tapi pasti, seperti bunga yang berani mekar di tanah luka. Sebab setiap sujud, tak pernah benar-benar tertimbun. Tuhan telah lebih dulu menyambutnya, menjadikan mereka ahli surga.
CATATAN:(1)https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8148799/rincian-korban-ponpes-al-khoziny-sidoarjo-67-meninggal-104-selamat
(2)https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250930082007-20-1279112/fakta-fakta-musala-ambruk-ponpes-di-sidoarjo-penyebab-hingga-korban?(3)https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251007120020-20-1281836/data-terakhir-korban-ambruk-ponpes-al-khoziny-67-tewas-104-selamat?