April 22, 2026

“SURAT NURANI KEMANUSIAN”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

/1/

SURAT NURANI KEMANUSIAN

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ia berangkat tanpa alamat,
karena alamat telah menjadi angin
yang berganti arah setiap hari.

Mereka yang seharusnya membaca,
tak pernah membuka lipatannya,
karena huruf-huruf terlalu tajam,
lebih tajam dari sunyi yang mereka ciptakan.

Di antara baris-barisnya,
tersembunyi malam tanpa fajar,
pintu yang terkunci dari luar,
suara yang bersembunyi di sela tulang rusuk
dan hanya berani bicara dalam diam.

Ia tak pernah benar-benar sampai,
tapi ia tak perlu sampai.
Sebab ia bukan sekadar surat,
ia adalah bisikan memperjuangkan keadilan yang terus hidup,
mencari ruang di setiap hati yang masih berani mendengar nurani kemanusian.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/2/

YANG LURUH YANG BERTAHAN

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Yang jatuh belum tentu hilang,
yang diam belum tentu menyerah.

Mereka pikir segalanya berakhir saat tubuh tenggelam dalam debu,
tetapi sesuatu tetap bernafas,
di antara serpihan yang tak mereka perhitungkan.

Langit kehilangan warnanya,
tanah enggan menumbuhkan apa pun.
Tapi di dalam retakan paling kecil,
ada akar yang berusaha menyelinap,
ada kata yang mencoba bertunas,
ada harapan yang tetap tumbuh
meski tanpa cahaya.

Luka ini tak hanya hidup dalam daging,
ia menjelma kisah yang menolak padam,
menulis ulang dirinya sendiri,
meski mereka terus menghapusnya,
yang hilang akan datang gantinya,
yang luruh akan bertahan.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/3/

KETIKA JAM MENGGANTUNG

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di kota ini,
jam menggantung seperti relik yang dilupakan,
tak berdetak,
tak berbisik,
hanya mengingatkan
bahwa waktu pernah ada sebelum semuanya runtuh.

Bayangan berhenti mengikuti tubuh,
matahari diam seperti janji yang tak ditepati,
bulan hanya menatap dengan mata yang tak lagi mengenal terang.

Udara seberat batu nisan tanpa tulisan,
jejak kaki hanya goresan samar di kulit bumi,
seakan bertanya apakah keberadaan masih perlu diingat.

Tak ada kata,
tak ada suara,
hanya keheningan yang tumbuh di dada,
mengakar dalam,
berbisik pelan,
mengingatkan bahwa malam
tak selalu menang atas fajar.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/4/

Bara yang Tertanam

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka datang membawa air,
tapi tak ada yang terbakar di sini—
hanya bara penderitaan berkepanjangan yang tertanam dalam dada,
hanya nyala yang lahir dari luka perang yang tak kunjung sembuh.

Mereka kira dengan menutup mata,
maka langit akan kehilangan cahaya.
Tapi nyala ini tak bergantung pada matahari,
ia lahir dari sesuatu yang lebih tua,
lebih purba dari siang dan malam.

Api keberanian ini tidak meminta izin untuk hidup.
Ia menyala karena ia harus,
karena udara yang mereka coba renggut,
hanya akan membuat api semakin lapar,
lapar akan keadilan,
lapar akan perdamaian.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/5/

Melihat Malam Dengan Luka

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menyulam malam di kelopak mata kita,
mengira gelap bisa menghapus ingatan.
Tapi bahkan dalam kegelapan,
mata tetap melihat dengan caranya sendiri—
bukan dengan cahaya,
tapi dengan luka,
bukan dengan warna,
tapi dengan kesunyian yang bercerita.

Mereka pikir,
jika mata tertutup,
maka yang pernah terjadi tak lagi ada.
Tapi kita menyaksikan dengan sesuatu yang lebih dalam dari penglihatan,
sesuatu yang tak bisa dicabut seperti bola mata yang dicengkram ketakutan.

Kita melihat tanpa perlu membuka mata,
karena kebenaran tidak perlu sinar
untuk tetap bersinar.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/6/

Ketika Mereka Memaku Awan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka memaku awan agar tak bergerak,
mengira angin bisa dikurung di dalam sangkar.
Tapi langit tidak bisa dijinakkan,
ia bukan milik siapa pun,
bukan sesuatu yang bisa diklaim atau dihapus.

Langit tidak peduli pada rantai,
ia merayap masuk ke dalam dada mereka,
membiarkan udara menjadi sesuatu
yang mereka takuti sendiri.

Mereka bisa membangun dinding setinggi apapun,
tapi mereka akan tetap bernafas,
dan selama ada udara,
langit tetap menang.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/7/

Luka yang Tidak Mati

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menulis ulang sejarah,
mengira tinta lebih kuat dari darah.
Tapi luka tidak membaca buku,
ia hanya mengingat—
dan ingatan lebih tajam dari pisau manapun.

Mereka mengira yang mati telah berakhir,
bahwa yang terkubur tak bisa bicara.
Tapi dengarlah,
tanah berbisik,
mengirimkan napas mereka yang tak sempat mengucapkan kata terakhir.

Tidak ada yang benar-benar mati,
selama masih ada seseorang yang ingat,
selama masih ada satu suara
yang menolak diam.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/8/

Bayangan yang Menjalar

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka memadamkan lampu,
mengira dengan menghapus cahaya,
mereka bisa meniadakan bayang.

Tapi bayangan tidak butuh cahaya,
ia hanya butuh sesuatu untuk berdiri.
Dan selama ada tubuh yang masih bertahan,
bayangan akan tetap menjalar,
melewati batas yang mereka buat sendiri.

Mereka bisa menghancurkan tubuh,
tapi tidak bayangan.
Ia akan tetap ada,
menempel di udara yang mereka hirup,
menjadi sesuatu yang tak bisa dihapus,
bahkan oleh malam paling pekat sekalipun.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/9/

Tanah yang Bicara Dengab Getar yang Merayap

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menutup mulut-mulut yang berbicara,
mengira keheningan berarti menyerah.
Tapi tanah tidak butuh suara,
ia berbicara melalui retakan,
melalui getar yang merayap di bawah kaki mereka.

Tanah ingat setiap jejak yang pernah menginjaknya,
setiap tangan yang pernah menggali harapan di dalamnya.
Ia menyimpan nama-nama yang mereka coba lupakan,
dan suatu saat,
ketika mereka berpikir segalanya telah tenang,
tanah akan bicara dengan cara yang tidak bisa dihindari.

Padang, Sumatera Barat, 2018

/10/

Jalan yang Tidak Akan Berakhir

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menghapus peta,
mencabut tanda,
mengira perjalanan bisa dihentikan dengan menghilangkan arah.

Tapi jalan tidak butuh tanda,
ia ada di setiap langkah yang menolak berhenti.
Ia hidup dalam ingatan mereka yang pernah melewatinya,
dalam bisikan mereka yang menolak untuk hilang.

Mereka pikir dengan menutup setiap persimpangan,
mereka bisa mengakhiri perjalanan.
Tapi selama ada seseorang yang berjalan,
jalan itu akan tetap ada.

Bahkan jika harus diciptakan dari awal.

Padang, Sumatera Barat, 2018

———————‐———————–
Kumpulan puisi “SURAT NURANI KEMANUSIAAN” (puisi no.1-10) ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2018. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
——————————————-
Pembaca yang budiman, silahkan baca juga kumpulan puisi “SURAT NURANI KEMANUSIAN” di atas dalam bahasa Inggris dengan meng-klik link official berikut:

“THE LETTER OF HUMANITY : The Poems Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)