April 18, 2026

Wahai Ayah, Aku Tak Akan Bilang Rindu, Aku Akan Hancur Tanpamu

Oleh: Rizal Tanjung

Ayah, aku tak akan bilang rindu, karena rindu hanyalah bisikan lemah di antara jerit hatiku yang kehilangan. Aku tak akan bilang sepi, karena sepi sudah menjadi jubah yang membungkus ragaku sejak kau pergi.

Aku melukismu lagi hari ini, tapi bukan dengan cat dan kuas, bukan dengan tangan yang lihai menggores warna, melainkan dengan air mata yang jatuh tanpa suara, menjadi lautan yang menenggelamkanku dalam bayangmu.

Ayah, kau adalah potret yang tak pernah selesai, wajahmu di kanvas selalu terasa kosong, karena tak ada yang bisa menggantikan tatapanmu yang dulu menghangatkanku. Setiap garis yang kutorehkan adalah luka baru, setiap warna yang kupilih terasa pudar, karena hidupku kehilangan cahaya sejak kau pergi.

Aku tak akan bilang rindu, tapi aku mencarimu di setiap hembusan angin, di setiap bias cahaya yang menyelinap di celah jendela, di setiap detik yang terasa tak bergerak. Aku memanggil namamu dalam diam, menunggu keajaiban yang tak akan pernah datang.

Ayah, malam-malamku adalah lorong tanpa ujung, bayangmu berkelebat seperti mimpi yang menolak pudar. Aku menutup mata, berharap menemukanmu di balik kelopak ini, tapi yang kudapat hanyalah kehampaan, sama seperti ruang kosong yang kau tinggalkan di hatiku.

Aku tak akan bilang rindu, kata itu terlalu kecil untuk rasa yang menyesakkan ini. Aku lebih dari sekadar rindu, Ayah, aku terjebak dalam pusaran kehilangan, tak tahu bagaimana cara melangkah tanpa bimbinganmu.

Aku ingin berbicara kepadamu, kembali mendengar suaramu yang menenangkan, tapi dunia hanya memberiku keheningan, yang menggema seperti lolongan sunyi di antara dinding-dinding kesedihan.

Ayah, bukankah kau bilang aku harus kuat? Tapi bagaimana caranya, jika setiap pagi terasa seperti kuburan, dan setiap malam adalah pengingat bahwa kau tak akan kembali? Aku menggenggam kuas, tapi tanganku gemetar, karena aku tahu, tak peduli seberapa banyak aku melukismu, yang ada di hadapanku tetaplah bayangan, bukan dirimu.

Aku tak akan bilang rindu, kali ini aku akan jujur, akulah reruntuhan tanpa pondasi, kapal yang karam tanpa nakhoda, dan aku hanya bisa menggores wajahmu berulang kali, hingga batas antara mimpi dan kenyataan menghilang, hingga aku bisa bertemu denganmu lagi, di kanvas keabadian yang tak mengenal perpisahan.

Alfatihah

Padang, 29 Maret 2025.