April 20, 2026
narasoma39

Oleh Anto Narasoma

TIDAK semua orang mampu menulis puisi yang kuat dan menata isi puisi secara estetik. Sebab selain harus mengungkap makna, secara tipografi uraiannya tidak berlebihan, sehingga kesannya mengabaikan makna yang disampaikan.
————

Apakah anda tahu penggunaan kata-kata yang indah dan tepat untuk membangun struktur puisi?

Meski anda sudah mengetahuinya, tapi tahu tidak bahwa fungsinya dalam merangkai kalimat sebagai format sajak?

Sebelum kita menulis puisi, kita harus menguasai suasananya dahulu. Dalam hubungan kepenulisan (puisi, misalnya), kaitan emosi penulisannya berkaitan dengan pendekatan kejiwaan.

Salain itu, kaitannya juga berkaitan dengan falasafah dan pendekatan ekstrinsik (fokus masalah) serta intrinsik yang bersentuhan dengan lapisan kejiwaan penulisnya.

Ekstrinsik adalah format ide penyair setelah ia menangkap pokok persoalan yang menarik perhatiannya. Persoalan akhirnya ia endap ke dalam pikiran dan perasaannya (feeling).

Dari sinilah proses kreatif itu terjadi. Pendekatan dikotomi semacam ini membuat para penyair harus kreatif memilih kata-kata (diksi) yang kuat dan tepat.

Diksi yang kita pilih, tak hanya mencari kata-kata indah saja. Sebab tujuan utamanya (intention) adalah menyampaikan maksud atau isi puisi.

Jika kita memilih kata yang tepat, maka rangkaian puisi kita tulis menjadi indah dan kuat.

Menulis puisi kemerdekaan, yang pertama kita memahami bahwa kemerdekaan itu apa? Apa kaitannya dengan upaya untuk meraih kemerdekaan (perjuangan) itu?

Lalu kata-kata apa yang berkaitan dengan kemerdekaan itu kita gunakan aebagai diksi pilihan.

Milsalnya dalam perjuangan ada api, senjata api, bambu runcing, perlawanan sengit para pahlawan, situasi pertempuran, atau kemarahan sosok seorang pahlawan. Ini harus menjadi pertimbangan kita.

Jadi menulis puisi itu tidak harus mencari-cari keindahan kata-kata, yang pada akhirnya mengabaikan isi yang akan kita sampaikan ke pembaca.

Apakah menulis puisi itu wajib memasukkan nilai alam sekitar kita? Saya katakan iya. Tapi kita fungsikan sebagai figuratif language. Artinya bukan alam menjadi ungkapan penuh. Misalnya.

Aku beriring-inginan bersama angin
Di antara gunung gemunung
yang sejuk bersama mega-mega di pucuk daun nan hijau…

Adakah isi yang paling prinsif dari puisi dengan kata seperti itu?
Menurut IA Richard, dalam puisi ada empat komponen. Komponen-komponen dalam puisi terdiri dari tema atau sense of poe, rasa atau feel, nada kata atau tone, dan tujuan puisi yang disebut intention.

Puisi yang akan kita tulis, barangkali temanya kemerdekaan. Apakah kemerdekaan dimaksud bisa kita raih begitu saja?

Tentu tidak. Kita membutuhkan perjuangan melawan penjajah. Makanya kita harus menyediakan kata-kata atau diksi yang berkaitan dengan perjuangan. Apa kata-katanya?

Seperti yang sudah saya katakan, ada pistol, kobaran api, kehancuran, kematian, serta semangat perjuangan dari para pejuang.

Bagi saya, menulis puisi itu harus ada rancangan yang terencana. Sebab dengan rancangan yang matang, kita bisa menulis puisi sesuai tema yang terencana. Seperti contoh puisi perjuangan yang saya tulis…

PERJUANGAN

Petang semakin tua
kobaran api sejak tadi
terkulai pada reruntuhan tank yang hancur
dalam pertempuran
kemarin

Meski kusut dan lelah
bendera merah putih pun
berkibar dalam kemenangan para pejuang

tak tahu lagi,
sudah berapa jauh jarak pertempuran itu pecah
karena tubuh- tubuh yang bergelimpangan berteriak ‘merdeka”
sebelum dipisahkan maut setelah kemerdekaan itu
berdetak di jantungnya

—-.

Meski tidak mencari-cari kata-kata indah, namun rangkaian kata yang kita hadirkan mengandung nilai keindahan yang estetika.

Meski demikian kita telah menyampaikan isi tentang perjuangan para pejuang untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. (*)

 

Palembang
2 Agustus 2021