April 24, 2026

“TANAH ASAL KITA”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni2

Ilustrasi "TANAH ASAL KITA": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-368 (Assisted by AI).

/1/

TANAH ASAL KITA

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Tanah ini dulu sebuah kitab,
menulis kita dalam akar yang merayap ke jantung bumi,
mencatat nasib dengan tinta hujan,
melagukan sejarah dalam serat-serat pohon
yang kini terkapar tanpa ingatan.

Tapi kita berjalan terlalu jauh,
melewati batas yang ditandai leluhur,
melupakan kidung burung,
merobek peta angin,
mengganti ladang dengan belati besi.

Kini, tanah menatap kita dari dasar luka,
ia mendesis di sela retakannya:
“Siapa kalian? Apa yang kalian cari di tubuhku?”

Gunung mengepalkan sunyi,
hutan menyembunyikan dongeng-dongengnya,
sungai menutup cermin yang dulu memberi kita wajah.

Kita menyebut diri pewaris,
tapi tanah tak lagi mengenal kita.
Ia tidak menolak,
tidak juga menerima,
hanya diam,
dan kita tahu: itu isyarat bagi yang telah disingkirkan.

Maka lihatlah,
kaki kita tak lagi menyentuh tanah ini,
ia hanya menggantung di udara yang semakin tipis,
di atas tanah yang telah menghapus nama kita
tanpa meneteskan air mata.

Padang, Sumatera Barat, 2013

/2/

AIR MATA TANAH

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kawan
Ramadhan ini
akhirnya engkau kembali ke kampung halaman
kembali ke pelukan tanah kelahiran

Dulu, tanah ini adalah lidah para leluhur,
menyampaikan rahasia angin pada akar,
menuliskan hikayat dalam aroma hujan,
membisikkan takdir di telinga rumput.

Tanah ini bukan sekadar beku dan diam,
ia bernapas di dada padi yang menguning,
menyimpan syair dalam lekuk sawah,
menunggu musim untuk mengisahkan kembali.

Kini, tanah ini terbungkam di bawah aspal,
tangannya diikat kabel-kabel bisu,
napasnya dirampas bangunan yang lupa
bahwa bumi adalah ibu,
dan anak yang melupakan ibu
akan kehilangan berkah dari tubuhnya sendiri.

Engkau bertanya pada tanah yang terkurung:
di mana suara para leluhur,
di mana doa yang menghidupkan akar?
Tanah menangis,
tetapi air matanya hanya menyelinap ke bawah,
tak lagi naik menjadi embun di pucuk daun.

Padang, Sumatera Barat
2013

/3/

SUNGAI DAN AIR MATA

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Usaplah air matamu di sana, kawan
sebab tangisanmu
dan rindu yang kirimkan ke kampung halaman,
telah menghidupkankan kembali sungai kenangan

Dulu, sungai ini menulis puisi di permukaannya,
gelombang kecilnya membelai waktu,
membawa rahasia perahu-perahu kecil
yang hilang di bawah jembatan tua.

Dulu, sungai ini bernyanyi,
suaranya menjalar di bawah bulan
seperti suara ibu yang menidurkan anaknya,
seperti rindu yang berenang di dalam darah.

Kini, sungai ini menanggung sepi—
airnya keruh, seperti ingatan yang mulai pudar,
seperti kisah yang tak selesai dituliskan.
Sampah mengapung seperti nisan-nisan kecil
untuk ikan yang telah lama tak kembali.

Sungai ini pernah menjadi urat nadi negeri,
tetapi siapa yang masih ingat arus dan getarannya?
Ia ingin menangis,
tetapi air matanya sendiri telah terkotori.

Sungai bertanya pada bintang-bintang:
dapatkah kau bersinar dalam kegelapan sungai?
Bintang menjawab dengan diam,
sebab mereka tahu:
beberapa kesedihan tak dapat disembuhkan
kecuali oleh waktu,
yang berjodoh dengan hati, yang ikhlas melepaskan
apa yang membelenggu pikiran.

Padang, Sumatera Barat
2013

/4/

SUARA SURAU

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Sudah lama engkau larut di rantau,
kini kau kembali ke kampung halaman,
mengunjungi surau teman mengaji dulu
dengan teman sepermainan

Dulu, surau ini adalah hati yang berdegup,
pintunya terbuka bagi gelisah dan rindu,
lantainya menyimpan jejak telapak kaki
yang datang dengan luka dan pulang dengan cahaya.

Dulu, setiap subuh adalah kelahiran,
setiap doa adalah napas baru,
setiap tasbih adalah ombak kecil
yang membawa manusia mendekat kepada Tuhan.

Kini, surau ini menjadi rumah tanpa penghuni.
Sajadahnya masih terhampar,
tetapi kaki-kaki tak lagi meraba jalannya.
Atapnya masih tegak,
tetapi suara azan tenggelam dalam kebisingan kota.

Surau ini ingin memanggil, tetapi kepada siapa?
Ia ingin menangis, tetapi suaranya tercekat.
Ia menunggu,
seperti kubur yang menanti pembacaan yasin.

Surau bertanya pada waktu:
apakah aku masih rumah bagi jiwa-jiwa yang mencari?
Atau hanya puing
yang menunggu dihapus dari ingatan?

Padang, Sumatera Barat
2013

/5/

Menanam Kembali Suara yang Hampir Mati

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di manakah alunan saluang itu?
Dulu ia melayang di pundak angin,
menyusup ke dada Bukit Barisan,
merambati sulur-sulur rimba,
menciumi embun di pucuk padi,
memetik nyeri dari desir waktu,
tetapi kini, ia patah di tengah lengking,
tenggelam dalam lengang yang purba,
seperti rintih malam yang dilupakan fajar.

Di manakah kaba yang menjalar di urat nagari?
Dulu ia mengalir bagai Batang Anai,
mendengung di lidah mamak,
menjelma petuah di ujung jari ninik,
menjadi suluh bagi kaki yang ragu—
tetapi kini, ia terkubur dalam lumpur sunyi,
tercecer di jalanan kota yang tak ingat asal,
tertimbun tanda baca yang mati di layar dingin.

Di manakah jejak anak-anak yang mengeja tanah?
Dulu mereka merayap di pematang,
mengunyah angin, menerkam senja,
membenamkan kaki dalam nyanyi lumpur—
tetapi kini, mereka membatu di sudut ruang,
ditelan layar yang lapar,
diserap cahaya yang menidurkan dunia,
lupa pada bau tanah yang melahirkan mereka.

Di manakah suara rabab yang bersedu?
Dulu ia jantung malam yang bergetar,
menangisi perantau yang menyulam jarak,
mengaduh pada bulan yang menggigil—
tetapi kini, ia terdampar di trotoar,
tergilas roda waktu yang tak peduli,
tercekik dengung kota yang kejam,
dan perlahan menjadi hening yang fana.

Di manakah adzan dari menara yang renta?
Dulu ia embun yang jatuh perlahan,
menyelinap ke jendela yang terbuka,
menyentuh ubun-ubun dengan kelembutan,
tetapi kini, ia hanyut dalam gelombang suara,
tertimpa notifikasi yang memanggil lebih nyaring,
tercekat di tenggorokan yang lelah berseru.

Wahai angin gunung Singgalang dan Marapi, katakanlah pada kami—
apakah semua ini hanya jejak di pasir
yang terhapus sebelum sempat dikenang?
Ataukah ada tangan yang masih ingin menggenggam,
memungut yang terserak,
menanam kembali suara yang hampir mati?

Padang, Sumatera Barat
2013

/6/

MENJADI LEBIH BIJAK
Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami kembali sebagai mereka yang kalah,
bukan dalam perang,
tapi dalam ingatan.

Kami menyusuri reruntuhan ladang,
menemukan nyanyian yang tersangkut di tenggorokan angin,
menemukan sungai yang berusaha menelan amarahnya sendiri,
menemukan tanah yang tak lagi percaya pada tangan manusia.

Gunung kini adalah luka terbuka,
menganga tanpa langit untuk menutupnya.
Hutan adalah tubuh tanpa jantung,
hanya sunyi yang berdetak di tulangnya.
Tanah, tubuh yang dulu bersandar pada kita,
kini merunduk,
seperti seorang ibu yang kelelahan menunggu anaknya kembali
dengan wajah yang ia kenal.

Kami menggali, bukan untuk mengambil,
tetapi untuk membaca.
Kami menelusuri setiap retakan,
mencari huruf-huruf yang belum dihapus sungai,
mencari kata-kata yang belum dikunyah angin.

Dan di bawah puing terakhir,
di tengah abu yang masih menghangatkan telapak tangan,
kami menemukan sebuah janji yang belum ditepati.

Tanah ini tak pernah berhenti menulis,
ia hanya menunggu tangan yang lebih sabar,
mata yang lebih jernih,
hati yang lebih tahu bagaimana membaca isyarat sebelum terlambat.

Kami pun mencengkeram benih terakhir,
menanamnya dalam kehancuran yang kami ciptakan sendiri,
dan tanah, yang hampir mengusir kami selamanya,
berbisik dengan suara paling lirih:
“Tulis aku lagi. Tapi kali ini, dengan lebih bijak.”

Padang, Sumatera Barat, 2013

——————————————
Kumpulan puisi “AIR MATA TANAH” di atas, yang terdiri dari puisi No. 1–4, awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina pada bulan Juli 2013, murni sebagai hobi pribadi dan koleksi pribadi. Saat itu, ia baru saja menyelesaikan program Master of Writing and Literature (dengan fokus pada Kajian Sastra, Penulisan Kreatif, dan Sastra Anak) di Australia, dengan dukungan beasiswa dari pemerintah Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, puisi-puisi ini ditinjau kembali, direvisi, dan untuk pertama kalinya secara bertahap diterbitkan melalui platform digital pada tahun 2025.

Leni aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komuitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia dengan penuh dedikasi mengajar sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Di luar bidang akademik dan sastra, Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:

✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra.
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan khususnya bahasa Inggris-Indonesia dan sebaliknya.
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi bahasa Inggris