May 2, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

di ujung kelopak yang renta,
sebutir embun menggantung tanpa kepastian,
seperti waktu yang meragu sebelum jatuh,
seperti cinta yang bimbang antara menghilang atau tetap abadi.

aku melihat dirimu dalam bulir bening itu,
refleksi semesta yang kecil namun luas,
segala rasa yang tak terucap,
tertampung dalam keheningan sekejap.

cintaku, apakah kita hanya tetes yang sebentar?
seperti embun yang berpulang pada angkasa,
atau mungkin kita adalah siklus tak terputus,
mengembara di antara surga dan fana?

kaulah titik keseimbangan di ujung kelopak,
tak runtuh oleh waktu, tak luruh oleh ragu.
kaulah rahasia hujan yang jatuh dengan doa,
seperti aku, yang mencintaimu dalam senyap dan cahaya.

jika cinta adalah setetes embun,
maka biarkan ia jatuh,
bukan untuk lenyap,
tapi untuk menyatu dengan tanah,
menumbuhkan akar yang tak mengenal akhir.

karena cinta sejati bukanlah tentang bertahan,
tetapi tentang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar,
seperti embun yang tak pernah mati,
hanya berpindah tempat dalam lingkaran abadi.

maka, biarkan kita mencintai tanpa takut kehilangan,
seperti embun yang jatuh bukan untuk berpisah,
tapi untuk kembali dalam bentuk lain,
menyapa pagi dengan keindahan yang baru.

Padang, 4 April 2025