May 4, 2026

Tokoh Inspirasi Anies Baswedan Bertemu Diaspora Indonesia di Jerman: Terpisahkan Jarak, tapi Hati dan Pikiran untuk Tanah Air Tercinta

Laporan: Tb Mhd Arief Hendrawan

JAKARTA, Suaraanaknegerinews.com,– Inisiator Aksi Bersama Anies Baswedan bertemu dengan Septi seorang Diaspora Indonesia asal Magelang yang bekerja di bidang kesehatan masyarakat (public health) di Frankfurt, di Jerman.

“Saya jumpa dengan nama Septi Universitas Duisburg-Essen pada saat diskusi dan hari ini di Frankfurt. Sekarang kegiatannya di Frankfurt, jelaskan apa kegiatan Septi?,” kata Anies di Jakarta, Sabtu, 1 November 2025.
Dengan Telekonferensi, pertemuan langsung dari lokasi berbeda menggunakan teknologi komunikasi seperti audio dan video.

Pertemuan ini disambut hangat oleh Anies, pasalnya Septi merupakan lulusan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung namun kini bekerja di bidang kesehatan di Frankfurt, Jerman.

“Luar biasa. Jadi kesehatan masyarakat di Jerman itu untuk siapa, di sini atau badan kesehatan masyarakat-nya?,” tanya Anies.

“Merawat atau mencegah atau mengobati, kita lebih ke promote kesehatan. Jadi, health promote ini kesehatan, kemudian juga bagaimana empowerment,” jawab Septi.

Lalu Anies mempertanyakan sistem kesehatan di Jerman, lebih fokus pada promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Dia juga menanyakan tentang lembaga yang menaungi kegiatan tersebut. “Di bawah badan apa? Kota atau pemerintah federal atau?,” tutur Anies.

Septi, lanjut Anies, tetap aktif berkontribusi untuk Indonesia, menjadi penggerak di Masjid Indonesia Frankfurt, PCI Muhammadiyah Jerman, dan komunitas Kharisma Woman and Education.

Anies pun menyoroti program Kharisma Woman and Education, apa yang dikerjakan saat ini. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku bangga, karena yang menarik itu dari pada Septi. Selain ekspatriat, Septi juga bekerja untuk Indonesia.

“Luar biasa,” ungkap Anies.

Menurut Anies pertemuan ini menjadi contoh nyata bahwa diaspora Indonesia dapat menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat dan negara.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu berharap lebih banyak lagi warga Indonesia di luar negeri yang dapat mengikuti jejak Septi dalam mengabdi kepada bangsa.

“Ini yang menarik. Jadi badannya jauh dari Tanah Air, tapi hati dan pikiran buat Indonesia. Terima kasih, Septi,” ucap Anies sebagai bentuk apresiasinya.

Sementara Septi mengatakan kegiatannya di Frankfurt selain bekerja. Dirinya selalu ingin tetap berkontribusi untuk Indonesia dan diaspora di Jerman.

“Saya punya aktivitas di Masjid Frankfurt satu. Kemudian yang kedua saya di Muhammadiyah E.V Deutschland. Kemudian saya di Kharisma Woman and Education. Jadi peran saya untuk bisa berkontribusi begitu ya,” ujar Septi.

Kemudian Septi menjelaskan bahwa, Jerman merupakan negara sosial yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

“Jadi pemerintah Jerman itu kan dia adalah negara yang sosial ya, negara sosialis gitu,” kata Septi.

Dia menambahkan bahwa, Jerman memiliki lembaga-lembaga sosial yang didanai dari uang pajak dan digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial dan kesehatan masyarakat.

“Jadi mereka punya lembaga-lembaga sosial gitu ya, yang dia berasal dari uang pajak, hasil pajak dan itu dikontribusikan untuk kegiatan-kegiatan sosial, kesehatan gitu untuk masyarakat,” ungkap Septi.

“Jadi lembaga itu Jerman seluruh Jerman, Varietisable wolfban gitu ya,” tambahnya.

Septi menjelaskan Kharisma Woman and Education merupakan sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 2001 oleh wanita Indonesia di Jerman, telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial untuk Indonesia.

Organisasi ini memiliki program Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA) yang bertujuan membantu anak-anak kurang mampu di Indonesia dengan mencari orang tua asuh dari Jerman dan Swiss.

“Kita punya kegiatan GOTA, gerakan orang tua asuh. Jadi kita membiayai adik-adik kita yang di Indonesia yang kurang mampu,” ungkap Septi.

Program GOTA ini sudah memiliki puluhan anak asuh. Di mana setiap bulan, mereka memberikan bantuan biaya pendidikan kepada anak-anak asal Indonesia yang dibiayai melalui program ini, bekerja sama dengan enam lembaga pendidikan di Indonesia.
“Ada, kalau enggak salah sekarang 80-an,” tutup Septi.