Tuhan-Tuhan Kecil di Halaman Sekolah
Penulis : Ririe Aiko
–
(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata ARO, siswa kelas 3 SD di Subang, Jawa Barat, yang meninggal dunia setelah mengalami perundungan oleh kakak kelasnya.)
Pagi menggantung di langit sekolah,
Seperti lonceng yang menunggu dibunyikan. Anak-anak berlarian,
Tawa mereka melompat di antara pohon-pohon tua,
tapi di sudut halaman,
seorang anak berdiri sendiri,
seperti bayang-bayang yang ditinggalkan matahari.
Ia kelas tiga, tubuhnya kecil,
suaranya lirih seperti daun kering yang jatuh.
Namun di mata mereka,
ia tak lebih dari tanah yang pantas diinjak.
“Minggir!”
Tangan besar mencengkeram kerah bajunya,
menariknya ke belakang seperti sampah yang tertiup angin.
Tasnya terlempar,
buku-buku berserakan di tanah,
huruf-hurufnya berlari ketakutan.
Tuhan-tuhan kecil tertawa.
Mereka berdiri melingkar,
menyaksikan pertunjukan tanpa tiket.
Ada yang bersorak,
ada yang merekam dengan ponsel ayah mereka,
seolah dunia tak butuh hati,
hanya butuh penonton.
Dan ia?
Ia hanya diam.
Karena tangis adalah tanda kekalahan,
dan di dunia kecil mereka,
yang kalah tak berhak memiliki suara.
—
Di rumah, ibunya bertanya:
“Nak, kenapa bajumu robek?”
Ia menggeleng.
“Kenapa wajahmu penuh luka?”
Ia tetap diam.
Bagaimana ia bisa berkata?
Ketika kata-kata tak lebih tajam dari tangan,
ketika air mata tak lebih kuat dari pukulan?
Ia memilih sunyi,
karena di sekolahnya,
diam adalah caranya terhindar dari bully.
Ibunya tak tahu,
bahwa di dunia anak-anak,
monster tidak selalu bersembunyi di bawah ranjang.
Terkadang, mereka duduk di bangku sekolah,
tertawa dengan gigi susu mereka yang belum tanggal.
—
Esok pagi, ia kembali datang.
Tuhan-tuhan kecil sudah menunggu.
Mereka haus hiburan,
dan ia adalah panggung yang tak pernah menolak.
“Mau ke mana?”
Tangan itu lagi, mendorongnya ke tanah.
Ia jatuh, debu menari di udara.
Bumi seakan berbisik di telinganya,
“Kau harus bangkit.”
Tapi kapan?
Ketika yang diam hanya menjadi latar,
ketika yang melawan akan dihancurkan?
Dan di antara tawa yang memekakkan,
di antara langkah kaki yang menjauh,
ia sadar,
bahwa dunia tidak berpihak pada yang lemah.
—
Di langit, matahari tetap bersinar,
seolah tak pernah tahu,
bahwa di bawahnya,
seorang anak menjadi korban
Kekerasan yang mengerikan
Dan di dalam kelas, pelajaran dimulai.
Guru berbicara tentang pahlawan,
tentang keberanian, tentang keadilan.
Tapi siapa yang akan menyelamatkan dia,
jika pahlawan hanya ada di buku-buku yang sudah koyak?
—-
*CATATAN:*
Puisi ini didramatisasi dari “Derita Anak Kelas 3 SD Di-bully hingga Meninggal di Subang, Ini 4 Faktanya,” https://www.detik.com/jabar/berita/d-7656833/derita-anak-kelas-3-sd-di-bully-hingga-meninggal-di-subang-ini-4-faktanya