February 11, 2026

Wamen ATR Ossy Dermawan Tekankan Pentingnya Penataan Akses untuk Kesejahteraan Rakyat

Oleh : joko

“Monev Penataan Agraria Semester I 2025, Wamen Ossy Dorong Akses Ekonomi Berbasis Reforma Agraria”

Wakil Menteri ATR/BPN menekankan pentingnya penataan akses sebagai bagian tak terpisahkan dari reforma agraria untuk membuka peluang ekonomi dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

http://suaraanaknegerinews.com | Jakarta, 1 Agustus 2025 — Dalam upaya mendorong percepatan Reforma Agraria yang inklusif dan berkelanjutan, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN) Ossy Dermawan membuka secara resmi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penataan Agraria Semester I Tahun Anggaran 2025, Kamis (31/7), di Jakarta.

Di hadapan peserta yang terdiri dari pejabat tinggi Kementerian ATR/BPN dan Kepala Bidang Penataan dan Pemberdayaan seluruh Indonesia, Wamen Ossy menekankan pentingnya keseimbangan antara Penataan Aset dan Penataan Akses.

“Penataan Aset seperti legalisasi tanah itu penting karena memberikan pengakuan hukum. Tapi itu baru separuh jalan. Tanpa Penataan Akses, masyarakat hanya pegang sertipikat, tapi tak punya peluang meningkatkan taraf hidup,” tegas Ossy.

Model Penataan Akses: Dari Sertifikat ke Kesejahteraan

Penataan Akses dimaknai sebagai langkah strategis membuka jalan bagi masyarakat untuk memanfaatkan lahan secara produktif, baik melalui kemitraan usaha, pelatihan, maupun koneksi dengan pasar. Wamen Ossy mencontohkan keberhasilan program budidaya pisang Cavendish di Jembrana, Bali, yang mempertemukan petani dengan off-taker atau pembeli hasil tani secara langsung.

“Kita mulai dari siapa pembelinya, cocokkan dengan kebutuhan lahan, lalu pertemukan dengan masyarakat. Ini butuh pemetaan sosial dan pendekatan karakter wilayah,” ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Penataan Agraria Yulia Jaya Nirmawati menambahkan bahwa strategi yang diterapkan kini mengacu pada Model Closed Loop, yakni pola bisnis berkelanjutan dari hulu ke hilir yang melibatkan multi-pihak.

“Model ini menjamin proses dari produksi hingga pemasaran. Tanpa off-taker, saat panen harga bisa anjlok. Kehadiran off-taker adalah jaminan agar hasil petani tidak jatuh ke tengkulak,” ungkap Yulia.

Apresiasi dan Kolaborasi Lintas Daerah

Dalam kegiatan ini, Wamen Ossy turut menyerahkan penghargaan kepada Heri Mulianto, Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM ATR/BPN, atas kontribusinya menciptakan lagu Mars Reforma Agraria yang menjadi simbol semangat transformasi pertanahan nasional.

Acara Monev ini juga menjadi wadah berbagi praktik baik antar daerah, dengan harapan agar model-model sukses penataan akses dapat direplikasi sesuai karakteristik lokal masing-masing.

Menuju Reforma Agraria yang Berkeadilan dan Produktif

Melalui kombinasi penataan aset dan akses, Kementerian ATR/BPN ingin memastikan bahwa Reforma Agraria bukan sekadar program redistribusi lahan, tapi juga gerakan peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis kepastian hukum, pemberdayaan, dan keberlanjutan ekonomi.

“Kami ingin tanah bukan hanya dilegalkan, tapi juga dimanfaatkan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Itulah semangat Reforma Agraria yang sesungguhnya,” pungkas Wamen Ossy.