“DAMAI DI AKAR WAKTU”: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA)
/1/
DAMAI DI AKAR WAKTU
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebelum senjata tahu cara bicara,
sebelum tanah mengenal rasa takut,
ada sehelai bayang
yang melingkar di urat bumi:
itulah damai—
belum bernama,
belum dipuja,
belum diperdagangkan.
Ia tinggal di kening embun
dan napas bayi yang baru lahir,
di mana setiap denyut
masih bisa mengampuni.
Kami menulis bukan dari bahasa,
melainkan dari luka yang menolak membenci.
Dari tulang-tulang yang pernah retak
dan memilih tak membalas.
Kami membawa suara
yang tak memekakkan,
tapi membangun jembatan
antara satu duka dengan duka lainnya.
Ini bukan sekadar puisi.
Ini adalah sayap
yang tumbuh dari reruntuhan.
Ini adalah pelukan
yang ditulis dalam aksara tak kasat mata
oleh ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya
dan masih memilih menanam pohon
daripada bom.
Padang, Sumatera Barat, 2023
/2/
DAMAI BUKAN DI SUARA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku temukan damai bukan di langit,
melainkan di celah retak bumi yang menahan tangisnya sendiri.
Bukan di antara tepuk tangan perdamaian,
tapi di dinding yang menuliskan luka dengan debu.
Damai bukan suara,
ia adalah hening
yang disayat waktu
dan masih memilih tidak berteriak.
Aku mendengar damai,
sewaktu batu terakhir
menyebut nama anak yang tak sempat diberi nama.
Ia tidak bicara,
tapi tanah mengerti
bahasa tubuh yang sudah tak punya tubuh.
Damai adalah ibu—
yang menyalakan api di tungku
bukan untuk memasak,
melainkan untuk menghangatkan bayangan
dari anaknya yang tak pulang.
Damai adalah anak—
yang menggambar matahari dengan arang
di dinding pengungsian,
dan percaya itu cukup
untuk membangunkan pagi.
Ia bukan perjanjian,
tapi puasa dari dendam.
Ia bukan panji-panji,
melainkan napas yang menolak menjadi abu.
Jika kau mencari damai di peta,
kau akan menemukannya
di tempat yang dikeluarkan dari legenda.
Di antara tulang dan tanah,
ia duduk,
menulis ulang kitab
dengan tinta dari airmata yang tidak jadi jatuh.
Dan jika tak seorang pun mengingat,
biarlah batu yang mengingat.
Batu tak butuh alasan untuk setia.
Tanah tak pernah menolak rahasia.
Langit tak pernah menyela duka.
Damai,
adalah yang tetap kita jaga
meski tahu dunia tak akan pernah memeluknya.
Padang, Sumatera Barat, 2007
/3/
DAMAI BUKAN DI PERMUKAAN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Air—
bukan sekadar cairan yang mengalir,
tapi penuntun yang menembus
dinding hati yang terkunci rapat.
Ia bukan hanya sungai,
tapi rahim yang melahirkan luka
dan menghapusnya tanpa peduli.
Damai bukan di permukaan
yang hanya mencerminkan bayang-bayang.
Damai ada di kedalaman,
di mana air menghapus nama-nama yang terucap,
membawa mereka dalam pelukan sunyi
yang tidak akan berbicara.
Aku minum air,
bukan untuk menghapus dahaga,
tapi untuk mengingat kembali
apa yang hilang dari diri yang sudah lama hilang.
Di dalamnya ada arus yang tidak kita sebutkan,
ada riak yang lebih banyak dari kata.
Air adalah ingatan yang mengalir
di sepanjang batu-batu yang dilupakan.
Ia tidak bertanya mengapa,
ia hanya berjalan
ke mana pun ia diizinkan
tanpa membawa kebencian.
Damai—
bukan di antara riak dan ombak yang bergemuruh,
tapi di dalam tenangnya permukaan
yang menyembunyikan seluruh dunia.
Ia bukan kesunyian,
tapi suara yang hilang
di balik gerakan halus
yang menenangkan.
Air,
kau menyembuhkan luka yang tak tampak
di dalam dada manusia.
Kau bukan untuk disimpan,
tapi untuk mengalirkan
yang telah lama terhenti—
kesedihan, kegembiraan,
semuanya kau terima
sebelum kau menghilang
ke laut yang tak terjamah.
Dan jika suatu hari air berhenti,
jangan heran—
karena yang telah dipenuhi
akan kosong lagi,
dan damai tak akan lagi ditemukan
di dunia yang memilih lupa.
Padang, Sumatera Barat, 2007
/4/
Damai Bukan di Langit yang Tinggi
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit—
bukan sekadar biru yang terbentang,
tapi jendela bagi jiwa yang tak lagi mengenal batas.
Ia bukan hanya ruang,
melainkan tempat di mana waktu
menanggalkan tubuhnya dan menghilang.
Damai—
bukan di antara awan yang mengambang,
tapi di ruang kosong di atasnya,
di mana tidak ada suara,
hanya bisikan angin yang tahu
betapa dunia tak butuh dipahami,
hanya diterima.
Langit, kau tidak pernah menanyakan
dari mana kami datang atau kemana kami pergi.
Kau hanya menatap dengan mata yang tidak lelah,
mengamati segalanya tanpa menghakimi.
Di tanganmu, tak ada hukum—
hanya gerak, hanya perubahan.
Aku melihat langit,
bukan untuk mencari,
tapi untuk menerima
apa yang telah lama terbuang.
Di balik awan-awan,
aku tahu—
sesuatu yang jauh lebih besar
dari sekadar pencarian.
Damai bukan di langit yang tinggi,
tapi di kedalamannya yang tak terjamah.
Damai ada di sana,
di mana bumi dan bintang-bintang
berpelukan tanpa saling menanyakan.
Langit, kau bukan hanya tempat
untuk memandang,
tapi ruang bagi jiwa yang ingin terbang
tanpa tubuh, tanpa beban.
Di antara garis-garis yang tak terlihat,
kami hanyalah titik-titik yang lupa
mengapa mereka pernah ada.
Dan jika kami hilang,
biarlah langit yang mengingat.
Biarlah langit yang menjaga
seluruh cerita yang belum selesai,
sebab ia tak pernah berhenti
menjaga apa yang tak tampak,
dan mencintai yang tak bisa dicapai.
Padang, Sumatera Barat, 2007
/5/
DAMAI BUKAN HADIAH
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, Penyala Literasi, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jika dunia harus hancur
karena terlalu sering memelihara amarah,
biarlah puisi ini
menjadi bara terakhir
yang tak ikut padam.
Kami tak menyimpan dendam
di antara bait-bait ini.
Kami menyimpan benih—
yang suatu saat
akan tumbuh menjadi pelukan
meski disemai di tanah yang pernah berdarah.
Kami tahu:
perdamaian bukan hadiah,
tapi kerja keras hati yang mau memahami,
bukan menundukkan.
Dan jika suara kami tak sampai ke telinga dunia,
biarlah tanah menyampaikannya pada akar.
Biarlah langit menuliskannya di cahaya pagi.
Biarlah air menyanyikannya
di sela gemercik paling sunyi.
Karena kami percaya:
damai tak selalu berteriak.
Kadang, ia tumbuh dalam diam.
Kadang, ia hadir
sebagai sepasang tangan
yang memilih untuk tidak melepaskan.
Padang, Sumatera Barat, 2007
————————————-
Info Singkat Tentang Penulis:
Kumpulan puisi “DAMAI DI AKAR WAKTU” awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2007 dalam bentuk bilingual (Inggris-Indonesia), belum pernah dipublikasikan dimanapun sebelumnya, sampai kembali direvisi dan diterbitkan pertama kali di platform digital suaraanaknegerinews.com tahun 2025.
Leni Marlina merupakn seorang penulis, penyair, akademis asal Sumatera Barat. Ia merupakan anggota aktif Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan Leni di luar kampus adalah sebagai Tim Redaktur Media suaraanaknegerinews.com dan aktif menulis di beberapa media online lainnya.
Sejumlah kumpulan puisi Leni Marlina dapat diakses oleh publik di link: https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/page/3/.
Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)