Menjadi Pemuka Agama: Belum Tentu Menjadikan Manusia Berkemanusiaan
SuaraAnakNegeri May 16, 2025Oleh Paulus Laratmase
–
Dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad, sebuah pernyataan yang merendahkan sosok publik Rina Nose mengundang gelak tawa dari jemaah yang hadir. Ustaz Somad menyebutkan, “Rina Nose itu siapa? Itu hidungnya pesek? Saya kalau artis-artis jelek kurang minat membahasanya, apa kelebihan dia?” Pernyataan ini disambut dengan tawa dari para jemaah.
Reaksi Rina Nose
Menanggapi pernyataan tersebut, Rina Nose memberikan jawaban yang penuh kedewasaan dan kebijaksanaan. Ia mengakui kekurangannya dengan mengatakan, “Saya memang jelek, pesek, buruk, dan tidak memiliki kelebihan apa-apa. Dan saya tahu itu sebelum anda mengatakannya.” Namun, ia menekankan bahwa meskipun memiliki keterbatasan, ia tidak sampai hati untuk mengatakan hal buruk tentang orang lain.
Kemanusiaan dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, setiap individu dihormati sebagai ciptaan Allah yang mulia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam.”
(QS. Al-Isra: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang tinggi di sisi Allah, tanpa memandang fisik, status sosial, atau latar belakang mereka. Oleh karena itu, merendahkan atau menghina sesama manusia bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling menghormati dan menghargai.
Pemuka Agama dan Tanggung Jawabnya
Seorang pemuka agama, seperti ustaz atau ulama, memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat. Mereka seharusnya menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, menunjukkan akhlak yang mulia, dan mengedepankan kasih sayang serta penghormatan terhadap sesama. Namun, jika seorang pemuka agama justru merendahkan martabat orang lain, maka hal tersebut mencerminkan ketidaksesuaian antara status keagamaan dan perilaku yang seharusnya.
Kesimpulan
Kejadian yang melibatkan Ustaz Abdul Somad dan Rina Nose mengingatkan kita bahwa menjadi seorang pemuka agama tidak otomatis menjadikan seseorang berperilaku manusiawi. Kemanusiaan sejati tercermin dalam sikap saling menghormati, menghargai, dan tidak merendahkan martabat orang lain. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjaga akhlak dan menunjukkan sikap yang baik terhadap sesama, tanpa memandang fisik atau status sosial mereka.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh penampilan fisik atau status sosial. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga sikap dan perilaku kita agar mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam Islam.
Sebagai umat nasrani, dapat dibaca dalam Injil Matius, 5-7: Mengasihi Tuhan dan sesama adalah hukum utama. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal dan kekuatan murupakan fondasi, sedangkan mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah penerapan praksis dari hukum “Kasih”.