JIWA BESAR TAK MEMINTA PANGGILAN
Puisi: Leni Marlina
–
Ada nama yang terjatuh di antara halaman waktu,
ada panggilan yang terhenti di ujung bibir.
Namun jiwa besar—
tidak menagih,
tidak merintih,
tidak menuntut.
Jiwa besar adalah doa yang datang tanpa kaki,
restu yang berjalan tanpa layar,
dukungan yang melampaui jarak,
menembus dimensi waktu.
Kita masih muda:
akar belum menyentuh nadi bumi,
tenaga belum setangguh rimba purba.
Maka wajar bila ada yang terselip,
ada yang terlupa.
Namun ingatlah pesan literasi:
kekhilafan adalah guru,
dan yang arif adalah jiwa yang memaafkan,
seperti mata air purba
yang mengalir,
mengalir,
mengalir—
tidak mengenal henti,
tidak mengenal sedu sedan.
Kami melihat engkau bekerja,
panitia yang bermandikan peluh dan debu tanpa mencicipi madu.
Kami melihat engkau bekerja,
relawan yang menambatkan langkah demi langkah.
Kami melihat engkau bekerja,
mitra yang mengulurkan tangan.
Dan dari ruang bersahaja—
lahir pelita sederhana,
yang menyala bersama fajar peradaban bangsa.
Salam takzim—
bagi engkau yang ikhlas mengabdi tanpa berharap mahkota.
Salam takzim—
bagi mereka yang menyalakan api mula perjuangan tanpa tanda jasa.
Salam takzim—
bagi engkau dan peserta yang datang
dengan hati penuh cahaya.
Jika ada luka—kita jahit dengan rendah hati.
Jika ada kebaikan—biarlah menjelma teladan.
Jika ada batu sandungan—kita hadapi dengan sabar.
Namun yang paling kita tunggu
adalah jiwa besar!
Jiwa besar melahirkan teladan.
Teladan melahirkan bangsa.
Bangsa melahirkan peradaban.
Dan peradaban—
melahirkan cahaya bagi kemanusiaan.
Pohon kelapa menjulang,
badai mengguncang batangnya.
Pohon jagung rimbun,
angin lembut menyapa daunnya.
Kita pun belajar darinya:
tegak dalam badai,
tunduk dalam sepoi.
Sebab literasi—
bukan sekadar huruf, bukan sekadar buku.
Literasi adalah wajah bangsa.
Dan wajah itu—
tidak boleh suram!
Tidak boleh suram!
Tidak boleh suram!
Sebab literasi—
bukan sekadar kemampuan, bukan sekadar ahli.
Literasi adalah cahaya peradaban.
Dan cahaya itu—
tidak boleh padam!
Tidak boleh padam!
Tidak boleh padam!
Jiwa besar…
itulah pusaka.
Jiwa besar…
itulah teladan.
PPIPM-Indonesia & PPIC, NKRI, 2025
Ket: Puisi di atas adalah salah satu puisi dari antologi “BELAJAR DAN BERJUANG UNTUK BERJIWA BESAR” (LM PPIPM-Indonesia, PPIC. WCLC, Starcom Indonesia)