Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

Bencana alam kembali mengguncang tanah Sumatra. Air bah dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bukan hanya meruntuhkan rumah dan jembatan, tetapi juga merenggut ratusan nyawa serta meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana duka itu, penyair dan jurnalis Anto Narasoma menuliskan refleksi penuh keharuan. Ia mengisahkan keterpukulannya setelah menyaksikan tragedi melalui rekaman video dan kabar yang beredar, sembari mengaitkan peristiwa tersebut dengan renungan tentang sikap manusia terhadap alam.

Anto Narasoma :
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

SETELAH memberikan pengajaran kepada sejumlah penulis pemula dalam pendidikan sastra di ruang belajar Komunitas Sastra Wanita Sumatra Selatan, saya kaget setengah mati. Ada apa?
——–

Wuih, ada tiga wilayah, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang luluh-lantak banjir bandang dan tanah longsor.

Meski saya seorang laki-laki, ketika menyaksikan peristiwa memilukan itu melalui beberapa video dan gambar menyedihkan, saya sempat menitikkan air mata.

Ya Allah Mahaperkasa, kemarahan apa yang Kau limpahkan ke pada tiga wilayah itu?

Peristiwa yang meluluhlantakkan segala sesuatu yang diterjang banjir, telah melenyapkan nyawa dan harta benda warga yang bermukim di sekitar kejadian. Ya Allah ya Rabb !

Dari berbagai informasi yang saya peroleh, banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, disebabkan sikap buruk manusia.

Bisa jadi, faktor cuaca buruk yang terjadi, hanya memberikan sinyal keleluasaan dalam situasi yang menghancurkan harta benda dan menewaskan sekitar 442 orang, 402 orang dinyatakan hilang, serta 646 warga mengalami luka-luka.

Dalam peristiwa banjir bandang tersebut, Sumatra Utara mengalami korban nyawa terbanyak –sekitar 217 orang yang tewas. Innalillahi wa Innalillahi Roji’un…

Dari kehancuran infrastruktur yang terjadi di tiga daerah itu, jiwaku benar-benar terpukul. Sebab di Padang Panjang ada kerabat kami, meski belum saya ketahui kondisi mereka.

Dari kejadian itu kreativitas saya tergetar. Bisa jadi di sana ada keterharuan hati, kemarahan, dan ungkapan emosi lainnya. Inilah puisinya…

Tulisan ini bukan sekadar catatan duka, melainkan juga sebuah seruan moral. Anto Narasoma mengingatkan bahwa bencana bukan hanya soal cuaca ekstrem, melainkan juga akibat dari kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan alam. Puisi yang lahir dari keterharuan dan kemarahan ini menjadi saksi betapa tragedi mampu mengguncang kreativitas, sekaligus meneguhkan doa agar kita lebih bijak dalam memperlakukan bumi. Semoga suara kepedihan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik lumpur dan air bah, ada pesan yang harus direnungkan bersama.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/writeΒ 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly