TIGA SAJAK TENTANG PEREMPUAN:PENGHAMPIRAN KEMBARA KATA
–
Sajak bertema perempuan sering kali berangkat dari pengalaman tubuh dan bahasa. Selain itu, sajak-sajak tentang perempuan sering menjadi ruang ekspresi tentang tubuh, suara, dan pengalaman batin perempuan.
Dua karya penting yang bisa dijadikan rujukan untuk apresiasi wawasan resepsi estetik atas tema itu.
Misal tubuh perempuan, sebagaimana dibahas Naomi Wolf, bukan hanya wadah biologis tetapi juga pusat kesadaran yang memengaruhi keberanian dan kreativitas.
Naomi Wolf(64), dalam Vagina: A New Biography (2012) menyoroti hubungan antara tubuh perempuan, kreativitas, dan kesadaran.
Wolf menekankan bahwa pengalaman tubuh perempuan bukan sekadar biologis, tetapi juga memengaruhi keberanian, identitas, dan daya cipta.
Dalam sajak, tubuh menjadi simbol kekuatan sekaligus rentan terhadap konstruksi sosial.
Di sisi lain, Larry Dossey(84) menekankan bahwa kata-kata memiliki kekuatan penyembuhan. Bukunya, Healing Words(1993), telah meneliti kekuatan doa dan bahasa dalam penyembuhan.
Ia menunjukkan bahwa kata-kata, doa, dan keyakinan dapat memengaruhi kesehatan, menegaskan bahwa bahasa memiliki dimensi terapeutik
Sajak perempuan, dengan bahasa yang intim dan reflektif, dapat menjadi bentuk doa atau mantra yang menguatkan.
Kata-kata dalam sajak bukan sekadar estetika, melainkan energi yang memulihkan luka batin akibat tekanan sosial atau pengalaman traumatis.
Dengan merujuk pada Wolf dan Dossey, sajak perempuan dapat dipahami sebagai pertemuan antara tubuh dan bahasa: tubuh yang menjadi sumber kesadaran dan bahasa yang menjadi medium penyembuhan.
Sajak-sajak ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk mendefinisikan dirinya sendiri melalui tubuh dan kata-kata, melawan reduksi yang sering diberikan oleh budaya patriarki.
Sajak bertema perempuan adalah ruang perlawanan sekaligus penyembuhan.
Naomi Wolf menekankan tubuh sebagai pusat kesadaran.Sementara, Larry Dossey menekankan bahasa sebagai medium penyembuhan.
Keduanya menunjukkan bahwa sajak perempuan bukan hanya seni, tetapi juga strategi untuk merebut kembali suara dan kesehatan batin.
—-
NIKEN KINTANI, PEREMPUAN PEMUJA SUDRA
oleh Reiner Emyot Ointoe
–
Wajah bulan
Bukanlah pesonamu
Melati menyelip di antara rambut
Dan telinga
Yang mengirim asap dupa
Dan bau bunga
Niken Kintani
Gadis yang selalu menaruh
Sesajen
Di depan ruko dan pura
la menunjuk sebentar
Memandang ke janur kecil
Seperti laras gamalen
Suara Sudra selalu tiba
Di waktu petang
Jelang malam berpantang
Dan dari kejauhan
Tampak Siring
Niken Kintani menembang
Janger 1897 Saka
Jangi janger
Sengsengin sengseng janger
Sengsengin sengseng janger
Serere nyoman ngeyorin
Kelap – kelap ngalap bunga
Langsing lanjar pamulune nyandat gading
Jaman edan mejangeran
Sariang ngentu rota roti(1)
Wajah bulan
Di atas patung Hanoman
Tubuh Niken Kintani
Berbaju abaya
Legam
Sintal penuh kencana
Sudra telah lama melarungnya
Bersama sisa-sisa tubuh
Remuk
Meledak
Di Legian Kuta(2)
Catatan:
(1) Lagu Janger 1897 Saka(Guruh Gypsi, 1975)
(2) Peristiwa Bom Bali I terjadi pada malam hari, 12 Oktober 2002 di Jalan Legian, Kuta, Bali.
Ledakan bom menewaskan sekitar 202 orang dan melukai lebih dari 209 orang, sebagian besar wisatawan asing.
GADIS MANIS DI BANGSAL RUMAH SAKIT
oleh Reiner Emyot Ointoe
–
Gadis manis
Di bangsal rumah sakit
la bersandar di dinding putih
Selang kecil melingkar di jari-jari
Meneteskan cairan bening
Gadis manis
Di bangsal rumah sakit
Sudah tujuh purnama
Ia di situ
Menerima kurnia ilahi
Dalam ingatan
Raga sakitnya
Terbaring sempurna
Tapi tanpa derita
Sakit dilulur tubuhnya
Hanya dokter perawat
Dan keluarga melihat seperti itu
Nafasnya halus dan wangi
Selang cairan ke tubuhnya jernih
Bening tak henti menetes
Bagai airmata
Wajahnya polos
Dan manis
Bagai bayi pulas
Rona merah melas
Gadis manis
Di bangsal rumah sakit
Tujuh purnama
Menanggung cahaya
Teduh dan hangat
Gadis manis
Di bangsal rumah sakit
Purnama dan cahaya
Hidupnya bagai rongga ilahi
Kedap tiada terkira
—-
PEREMPUAN YANG MERAMPAS VAGINANYA SEORANG DIRI
oleh Reiner Emyot Ointoe
–
Perempuan itu
Tak pernah ingat
Beberapa lelaki datang
Memuja tubuhnya
la bukan perempuan lacur
Menjual tubuhnya untuk dihayati
la perempuan yang setiap waktu
Menghadiri misa
Dan ia duduk di mezbah
Dengan tubuh wangi
Dupa dan rosario menyerupai tasbih
Mulutnya komat-kamit
Menggumamkan gaung ilahi
Bagai lebah mengaum
Dari rahim penuh harum
Perempuan itu merampas vaginanya seorang diri
Menaruhnya cukup di dada
Yang tiap saat disusui
Banyak bayi dikandungnya
Sebelum ia mengkafankan Seorang diri vaginanya
Yang telah pula melahirkan dirinya.
*Ketiga sajak berikut dikutip dan mengalami sedikit perubahan, termasuk bentuk penulisannya dari buku saya, 30 Esai Hari Pernikahan & 66 Puisi Eulogia Usia(2024) dan satunya, Niken Kintani Perempuan Pemuja Sudra dibacakan dalam Webinar Satupena Baca Puisi Edisi 9, Perempuan Merdeka Seutuhnya, pada Kamis, 30 April 2026, pkl
19.00-21.00.
#coverlagu:
Dwiki Dharmawan(59), pianis dan komposer Indonesia. Karyanya “Janger” adalah adaptasi jazz-fusion dari tarian tradisional Bali, dirilis sebagai bagian dari eksplorasi musik Nusantara dalam proyek internasionalnya.
#credit foto diunggah dari Youtube Senja Bali Melali
@senjabalimelali; @sirunfamily; Buku Vagina: Kuasa
dan Kesadaran – Naomi Wolf Gemilang Buku dan Keranda Geser di Bangsal Rumah Sakit
@catatanhitam.