May 3, 2026

Pendekatan Pembelajaran Mulai dari Nabi Adam Hingga Era Digital Dalam Memanusiakan Manusia

IMG-20260307-WA0001(6)

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar

Pendahuluan : Krisis Pendidikan dan Kehilangan Makna Manusia

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus digitalisasi, pendidikan modern menghadapi paradoks besar: semakin canggih sistemnya, semakin berisiko kehilangan ruh kemanusiaannya. Pendidikan sering terjebak pada transfer pengetahuan, bukan transformasi nilai. Padahal, hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia—mengangkat martabat, membangun akhlak, dan menumbuhkan kesadaran eksistensial.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar proses kognitif, tetapi juga spiritual dan moral. Pendidikan harus menyentuh keseluruhan dimensi manusia: akal, hati.

Nabi Adam: Awal Pendidikan Berbasis Ilmu dan Kesadaran

Sejarah pendidikan dimulai sejak manusia pertama, Nabi Adam AS. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 31). Ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berbasis wahyu dan kesadaran.

Ayat ini menegaskan bahwa manusia dimuliakan melalui ilmu, bukan sekadar keberadaan biologis. Pendidikan sejak awal sudah bersifat transformatif—mengubah manusia dari makhluk biasa menjadi khalifah yang berilmu.

Pendidikan Nabi Muhammad SAW : Humanisasi dan Keteladanan

Puncak model pendidikan dalam Islam adalah pada Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya pengajar, tetapi pendidik yang membangun karakter dengan kasih sayang, keteladanan, dan kebijaksanaan.

Hadis Nabi:

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” �

Ruangguru

“Barangsiapa menginginkan dunia dan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.”

Hadis-hadis ini menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan kemuliaan manusia, baik secara duniawi maupun ukhrawi.

Model pendidikan Nabi menekankan :

– Kasih sayang dalam mengajar

– Penyesuaian dengan kondisi peserta didik

– Keteladanan sebagai metode utama

Ini selaras dengan temuan ilmiah bahwa pendidikan humanis dalam Islam bertujuan mengembangkan fitrah manusia secara utuh—spiritual, intelektual, dan sosial.

Perspektif Ulama dan Pemikir Dunia :

Integrasi Humanisme Pendidikan

Dalam dunia Islam, tokoh seperti Al-Ghazali menekankan bahwa pendidikan harus mengintegrasikan ilmu dan moral. Tujuan pendidikan bukan hanya kecerdasan, tetapi kedekatan kepada Tuhan dan kebahagiaan hakiki.

Wi

Pemikir Arab modern seperti Amin al-Khuli menekankan pendekatan kritis dan kontekstual dalam memahami teks, termasuk dalam pendidikan—menjadikan peserta didik aktif dan reflektif.

Di Barat, tokoh seperti John Dewey menegaskan bahwa pendidikan adalah proses pengalaman hidup yang harus relevan dengan realitas sosial dan kebutuhan manusia.

Sementara di Indonesia, Harun Nasution mengembangkan pendekatan rasional dan humanis dalam pendidikan Islam, menekankan pentingnya integrasi ilmu, akal, dan nilai kemanusiaan.

Keseluruhan pemikiran ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang memanusiakan manusia—bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk insan beradab.

Era Digital : Tantangan dan Peluang Humanisasi Pendidikan

Era digital menghadirkan peluang luar biasa dalam akses ilmu, tetapi juga ancaman dehumanisasi. Teknologi dapat menjadikan manusia kehilangan empati, interaksi sosial, dan nilai spiritual.

Dalam konteks ini, pendidikan harus:

Mengintegrasikan teknologi dengan nilai

Menanamkan literasi digital berbasis etika

Menumbuhkan kecerdasan spiritual di tengah kecerdasan buatan

Pendidikan tidak boleh tunduk pada teknologi, tetapi harus mengendalikan teknologi demi kemanusiaan.

Memanusiakan Manusia : Sintesis Pendekatan Pendidikan

Dari Nabi Adam hingga era digital, terdapat benang merah yang jelas: pendidikan adalah proses memuliakan manusia.

Pendekatan pembelajaran yang memanusiakan manusia meliputi:

Transendensi:

Menghubungkan manusia dengan Tuhan

Humanisasi : Mengembangkan empati dan akhlak

Liberasi : Membebaskan manusia dari kebodohan dan ketertinggalan

Transformasi: Mengubah ilmu menjadi amal

Pendidikan dalam Islam dan perspektif global sama-sama menekankan bahwa manusia bukan objek, tetapi subjek yang harus dikembangkan secara utuh.

Penutup: Pendidikan sebagai Jalan Peradaban

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi momentum refleksi. Sudahkah pendidikan kita memanusiakan manusia? Ataukah justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya?

Jika pendidikan kembali kepada nilai wahyu, teladan Nabi, dan pemikiran ilmiah yang humanis, maka pendidikan akan menjadi jalan peradaban—bukan sekadar sistem, tetapi gerakan membangun manusia seutuhnya.

Sebagaimana pesan luhur Islam:

“Belajarlah, mengajarlah, dan hormatilah guru-gurumu.”

Maka pendidikan sejati adalah pendidikan yang membangun ilmu, membentuk akhlak, dan memuliakan manusia.