April 24, 2026

AKBP Fredrickus Williamson Agusthinus Maclarimboen,  Putera Tanimbar dalam Pengabdian, Pelayanan dan Pemberdayaan Papua

Laporan Paulus Laratmase

Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Fredrickus Williamson Agusthinus Maclarimboen adalah sosok perwira menengah Polri asal Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku yang dikenal tidak hanya karena dedikasinya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga karena semangat kemanusiaan dan kepeduliannya terhadap pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Papua. Lahir di Jayapura Selatan, Provinsi Papua, pada 11 Maret 1980, Fredrickus membawa semangat Karakteristik Papua yang keras dan hangat ke dalam setiap penugasan yang diembannya.

Awal Karier: Dari Papua ke Tanah Minahasa

Fredrickus Maclarimboen memulai kiprah kepolisiannya setelah lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 2002. Penempatan pertamanya adalah di Kepolisian Resor (Polres) Minahasa dan kemudian di Polresta Manado, wilayah hukum Polda Sulawesi Utara. Di sanalah Fredrickus mulai menapaki jenjang kariernya, belajar langsung dari lapangan dan bersentuhan dengan dinamika masyarakat dari berbagai latar belakang.

Keinginan kuat untuk meningkatkan kapasitas dirinya membuat Fredrickus melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), yang menjadi batu loncatan untuk penugasan di wilayah Papua tempat kelahirannya.

Menapaki Tanah Papua: Dari Sorong ke Nabire

Setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan di PTIK, Fredrickus mendapat penugasan ke beberapa wilayah di Papua seperti Polres Nabire, Polres Sorong Kota, hingga Polres Manokwari. Ia juga sempat bertugas di Polda Papua Barat yang pada saat itu sudah resmi terpisah dari Polda Papua. Pengalamannya bertugas di daerah dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks membuatnya semakin memahami pentingnya pendekatan yang manusiawi dan inklusif dalam menjalankan tugas kepolisian.

Pada tahun 2010, Fredrickus menjabat sebagai Kapolsek Sorong Barat, dan di tahun 2011 dipercaya menjadi Kasat Lantas Polres Sorong Kota. Dua jabatan ini mempertemukannya langsung dengan denyut kehidupan masyarakat di wilayah pesisir dan kota perbatasan, yang menjadi bekal penting dalam kepemimpinannya.

Kembali ke Jawa: Penguatan Kapasitas di Polda Jabar

Sebelum kembali ke Papua, Fredrickus juga sempat menduduki sejumlah posisi strategis di Polda Jawa Barat. Ia menjabat sebagai Pamen Polda Jabar tahun 2018, kemudian menjadi Penyidik Madya di Ditresnarkoba (2019) dan Direskrimum (2020). Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Kasat PJR Ditlantas Polda Jabar. Pengalaman ini memperluas cakrawala kepemimpinannya dalam penegakan hukum, intelijen, dan pembinaan lalu lintas.

Menjadi Kapolres Jayapura dan Menggagas Perubahan

Kariernya kembali ke tanah Papua setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri di Lembang, Jawa Barat. Pada 16 Juni 2021, Fredrickus resmi menjabat sebagai Kapolres Jayapura, menggantikan Kombes Pol Victor Dean Mackbon. Penugasannya ini menjadi salah satu tonggak penting dalam kiprah pengabdiannya.

Di Kabupaten Jayapura, Fredrickus tak hanya dikenal sebagai Kapolres, tetapi juga sebagai inisiator program-program kemanusiaan yang menyentuh akar permasalahan masyarakat. Ia mencetuskan Gerakan Baca Tulis (Gabus) dan Colo (Celup) Sagu, dua program unggulan yang menjadi bagian dari Program Binmas Noken Polda Papua.

Gabus: Memberantas Buta Aksara di Bumi Khenambay Umbay

Melalui Gerakan Baca Tulis, Fredrickus bersama jajarannya aktif mengajak para pemuda, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengatasi masalah buta huruf yang masih banyak dijumpai di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. Gabus bukan sekadar program, melainkan gerakan literasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.

Di bawah kepemimpinannya, Bhabinkamtibmas dan Polisi Wanita (Polwan) dilibatkan aktif dalam mengajar membaca, menulis, dan berhitung kepada mama-mama Papua. Program ini bahkan berhasil mencetak lulusan yang memperoleh sertifikat bebas buta aksara, membuktikan bahwa pendekatan humanis dalam kepolisian bisa berdampak luas dan nyata.

Colo Sagu: Pelestarian dan Edukasi Budaya Lokal

Program Colo Sagu, yang juga diinisiasi Fredrickus, adalah bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Kegiatan ini menyentuh nilai-nilai budaya dan memperkuat ketahanan pangan lokal, sekaligus menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk mencintai dan menjaga tradisi leluhur.

Wadir Intelkam dan Kapolresta Jayapura Kota

Tahun 2024, Fredrickus ditugaskan sebagai Wakil Direktur Intelkam Polda Papua. Jabatan ini menunjukkan kepercayaan tinggi institusi terhadap kapasitasnya dalam bidang intelijen dan stabilitas keamanan.

Puncak kariernya tercapai pada 12 April 2025 ketika ia resmi dilantik sebagai Kapolresta Jayapura Kota, menggantikan Kombes Pol Victor Dean Mackbon. Serah terima jabatan ini dipimpin langsung oleh Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige Rudolf Renwarin, yang menekankan pentingnya keteladanan dan kepemimpinan yang adaptif serta inklusif dalam konteks Papua.

Prinsip dan Filosofi Kepemimpinan

Fredrickus adalah sosok pemimpin yang menjadikan pelayanan kepada masyarakat sebagai panggilan hidup. Ia menanamkan nilai disiplin, profesionalisme, dan integritas kepada seluruh anggota Polresta Jayapura Kota.

“Perbanyak hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pelaksanaan tugas di masyarakat. Setiap kata dan kalimat yang kita ucapkan adalah doa, untuk itu terapkanlah banyak-banyak kata-kata dan kalimat positif,” tegasnya dalam salah satu arahannya.

Ia juga selalu mengingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan. Menurutnya, yang abadi adalah keteladanan, nilai-nilai, dan karya nyata yang ditinggalkan.

Warisan dan Harapan

Sebagai putera asli Tanimbar, Fredrickus Maclarimboen telah menunjukkan bahwa anak daerah dari wilayah kepulauan bisa menjadi pemimpin yang membumi dan berdampak nasional. Ia bukan hanya menjadi inspirasi bagi generasi muda di  Papua, tetapi juga teladan bagi anggota Polri di seluruh Indonesia.

Program Gabus dan Colo Sagu adalah bukti nyata bahwa aparat keamanan bisa menjadi agen perubahan sosial. Di tangan Fredrickus, polisi tidak sekadar menegakkan hukum, tapi juga menjadi pendidik, motivator, dan pelindung dalam arti yang sesungguhnya.

Melalui perjalanan panjangnya hingga menjadi Kapolresta Jayapura, Fredrickus telah menuliskan kisah pengabdian yang layak diapresiasi. Ia menempatkan hati di setiap langkah tugasnya, menjadikan masyarakat sebagai sahabat, dan menjadikan pendidikan serta budaya sebagai senjata utama membangun keamanan dan kepercayaan.

Dan seperti yang selalu ia katakan:”Biar sisanya nanti Tuhan Yang Maha Esa yang mengaturnya.”