“Kekasih Dalam Senja”
Oleh: Rizal Tanjung
–
I
Dalam senyap senja, wajahmu datang bagai cahaya,
Kupeluk angin—namun hatiku mendekap bayang cahaya.
Di antara gelombang laut yang sujud memuji langit,
Kutemukan zikir tersembunyi di balik nyala cahaya.
Cinta ini bukan milik dunia yang fana dan bisu,
Ia seperti mawar—berdarah, namun bersinar cahaya.
Wahai Kekasih, aku bukan hanya rindu padamu,
Aku rindu pada Tuhan yang sembunyi dalam cahaya.
Setiap helai rambutmu memintal malam dalam diam,
Dan aku pun mabuk, menari dalam pusaran cahaya.
Matamu bukan sekadar telaga tempat duka berlayar,
Ia adalah rahasia yang dalamnya mengandung cahaya.
Kita bukan dua, kita satu, kita bayang dalam bayang,
Dalam fana ini, hanya cinta yang tinggal sebagai cahaya.
Ruhku kini tak butuh tubuh, tak ingin dunia yang semu,
Cukup kau dan Nama-Nya—itulah seluruh cahaya.
Dan jika hidup adalah perpisahan, maka matiku adalah pertemuan,
Di mana tak ada lagi hijab antara kekasih dan cahaya.
II
Wahai kekasih, di pelipismu langit menggantung sunyi,
Dan di setiap hembusan napasmu, kutemukan lautan cahaya.
Cinta bukan sekadar pertemuan raga yang lekas binasa,
Cinta adalah fana yang indah, jalan menuju cahaya.
Aku bukan siapa-siapa, hanya debu di ujung malam,
Namun engkau menjadikanku langit, penuh dengan cahaya.
Tatkala kupejam mata, kulihat wajahmu bersinar dalam kalbu,
Seperti mihrab suci, tempat jiwa bersujud pada cahaya.
Lidah tak lagi sanggup mengucap rindu,
Karena setiap huruf yang kututur, terbakar oleh cahaya.
Ku pelajari rahasia semesta dari senyum bibirmu yang lirih,
Karena di sanalah Tuhan menyulam makna dalam cahaya.
Kekasih, engkau bukan hanya sosok yang kusebut dalam doa,
Engkau adalah doa itu sendiri, berwujud dari cahaya.
Jika dunia ini hanyalah bayang, maka engkau adalah hakikat,
Sumber segala mimpi, dan penjelmaan cahaya.
III
Tak kutahu lagi di mana aku berakhir dan Engkau bermula,
Karena aku telah luluh, hilang dalam pelukan cahaya.
Maka biarlah aku jadi angin yang menyusup di antara sujud mu,
Atau debur ombak yang membisikkan cinta dalam cahaya.
Aku tidak ingin surga jika tanpamu di sana,
Karena bagiku, surga adalah mencintaimu dalam cahaya.
Dan bila maut datang mencium keningku dengan lembut,
Ku titipkan namamu pada-Nya, sang Pemilik Cahaya.
Sumatera Barat, 16 April 2025.