January 15, 2026

Oleh: Key Kumbara Jiwa

Aku pernah mencoba mencacimu dengan sisa amarah, menyebut namamu seperti kutukan yang diludah keluar dari rongga kecewa. Tapi setiap kali kulakukan itu, yang muncul justru ingatan tentang luka-lukamu yang pernah kau ceritakan sambil menunduk di dadaku.

Aku lupa bagaimana caranya membenci. Mungkin karena aku lebih sibuk mengingat; air matamu yang kau telan agar aku tidak ikut sedih, tulang-belakangmu yang kau patahkan agar aku bisa tetap berdiri.

Kau bukan tanpa cela, tapi cacatmu justru kubingkai seperti lukisan yang tak selesai. Karena dalam ketidaksempurnaan itu, aku merasa paling dicintai.

Dan kini, ketika kita hanya saling diam dari jarak yang sukar dipetakan. Aku tak punya alasan untuk marah, hanya sepotong ingatan tentang betapa luka yang dulu kau bawa, pernah membuatku ingin tinggal dan menjadi perban yang tak ingin sembuh.

Surabaya, 24 Juni 2025