Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Aluisius Edi Widodo: IKDKI Papua Barat Gelar Seminar Nasional, Akademisi Katolik Papua Menggugah Aksi Nyata untuk SDGs

Laporan: Paulus Laratmase

Menjelang perhelatan Seminar Nasional Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI) Wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya pada Sabtu, 15 November 2025, denyut akademik di Tanah Papua terasa semakin menghangat. Dalam suasana yang menyerupai fajar yang perlahan menyingkap gunung dan lautnya, para akademisi Katolik bersiap menegaskan peran mereka dalam merawat harapan pembangunan berkelanjutan. Seminar yang diadakan bertepatan dengan HUT IKDKI ke-6 ini seakan menjadi altar intelektual, tempat ilmu pengetahuan, iman, dan panggilan moral saling bertaut. Ketua IKDKI Pusat, Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, dijadwalkan  membuka kegiatan ini sebagai simbol kuatnya komitmen nasional.

Para peserta memberi perhatian penuh pada hadirnya para guru besar dengan wacana yang tajam dan relevan. Di antaranya, Prof. Dr. Roberth Kurniawan Ruslak Hammar, S.H., M.Hum., MM, Guru Besar Universitas Caritas Indoneisa Manokwari, yang akan membawakan materi bertajuk “Korupsi dan Tata Kelola Hukum dalam Konteks TPB/SDG 16: Menilai Efektivitas Hukum Anti-Korupsi di Indonesia.” Tema ini dirasakan begitu dekat dengan urat nadi kehidupan publik di Papua, sebuah wilayah yang terus berjuang menegakkan akuntabilitas, integritas, serta mekanisme hukum yang mampu menahan laju ketidakadilan.

Kontribusi akademisi Universitas Negeri Papua (UNIPA) turut memberi warna yang kaya. Prof. Zita Sarungallo akan membahas potensi pangan lokal sebagai sumber kedaulatan gizi Papua dengan pendekatan teknologi pangan berkelanjutan. Dari dapur pengetahuan inilah masa depan gizi masyarakat Papua dapat dirumuskan kembali dengan memanfaatkan kekuatan alamnya sendiri. Sementara itu, Prof. Rudi Maturbongs akan membawa peserta menyusuri hutan dan pesisir Papua melalui kajiannya tentang konservasi biodiversitas sebagai sumbu kesejahteraan ekologis bagi dua provinsi ujung timur Indonesia ini.

Tidak kalah penting, Prof. Agustinus Murjoko akan mengupas tata kelola kawasan hutan serta pemanfaatan sumber daya hayati yang arif dan berjangka panjang. Di tengah isu degradasi lingkungan dan perubahan iklim, pemaparannya menjadi semacam peta etis yang mengingatkan peserta bahwa masa depan Papua tidak bisa dipisahkan dari semesta hijau yang memeliharanya. Menguatkan dimensi spiritual perjumpaan ilmiah ini, Prof. Benedictus Tanujaya akan mengajak peserta melihat pendidikan melalui lensa iman Katolik, di mana keutuhan ciptaan menjadi dasar pembelajaran yang membentuk karakter dan kesadaran kosmik generasi muda.

Kehadiran Prof. Dr. Ridwan Sala sebagai salah satu pemateri semakin mengukuhkan posisi IKDKI sebagai penggerak perubahan. Melalui materinya, ia menekankan peran strategis para dosen Katolik dalam mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama di wilayah yang tengah mencari arah baru pembangunan seperti Papua. Para peserta berharap seminar ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi melahirkan rekomendasi konkret yang berpijak pada kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan etika pelayanan.

Ketua Panitia Seminar Nasional IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Dr. Aluisius Edi Widodo, S.Pt., M.Sc.Ag, ketika dihubungi melalui WhatsApp, menegaskan bahwa seminar ini bukanlah kegiatan seremoni belaka, melainkan panggilan moral untuk menghadirkan perubahan. “Kami ingin memastikan bahwa suara dan kontribusi akademisi Katolik benar-benar hadir dalam upaya pembangunan Papua yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan. Seminar ini menjadi ruang untuk menyatukan pikiran, iman, dan aksi nyata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sinergi antara kampus, Gereja, pemerintah, dan masyarakat sipil merupakan fondasi yang tak dapat ditawar untuk memastikan keberlanjutan agenda SDGs di Papua.

Dengan kekuatan gagasan yang dibawa para pemateri terkemuka, seminar ini diharapkan menjadi lahan tumbuhnya rekomendasi strategis, memperluas jejaring kolaboratif, serta memperkokoh komitmen IKDKI dalam memperjuangkan transformasi sosial dan ekologis di Tanah Papua. “Kehadiran sekitar 300-an akademisi Katolik, mahasiswa pascasarjana, serta mitra lembaga pendidikan Katolik memberi gambaran bahwa harapan bagi Papua tidak pernah padam. Ia hanya menunggu semakin banyak aksi nyata dari dunia Pendidikan, aksi yang lahir dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi terang bagi bumi yang dikasihi,” tutup Dr. Aluisius Edi Widodo.