Antara Bumi dan Cinta Ilahi: Sebuah Esai Dari Leni Marlina Mengenai Puisi “To Heaven” (2025) Karya Rizal Tanjung
Oleh Leni Marlina
[FBS UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, Littalk-C, WPM-Indonesia, ACC SHILA]
–
Ada puisi yang hanya dibaca, dan ada yang dialami. “To Heaven” karya Rizal Tanjung adalah yang kedua—sebuah ziarah dalam bait, sebuah doa dalam sunyi kata. Ini bukan sekadar puisi; ia adalah napas yang dihembuskan dari luka terdalam menuju cahaya yang tak tampak.
Judulnya seolah sederhana: ‘To Heaven” : “Ke Surga.” Tapi bagi pembaca yang peka, ini adalah petunjuk arah batin, bukan peta geografis. Ia menandai perjalanan ke dalam diri, ke ruang sunyi di mana Tuhan bersemayam lebih dekat dari urat leher. Dalam tiga bagian—Perjuangan, Pengorbanan, dan Cinta—puisi ini membangun tapak kaki jiwa menuju keridhaan Ilahi.
I. Peta Rohani: Tiga Gerak Jiwa
Puisi ini dibangun seperti tangga ruhani. Dari gelap menuju cahaya. Dari getir menuju pasrah. Dari luka menuju cinta. Tiga segmen puisinya mencerminkan jalan sufi: mujahadah (perjuangan), tazkiyah (penyucian), dan mahabba (cinta Ilahi).
Bait pembuka:
“Di tepi hari yang gemetar, di bawah langit yang menyimpan luka dan doa…”
Kata-kata ini adalah pintu. Kita melangkah masuk ke dunia yang liminal—antara dunia yang nyata dan yang gaib. Di sinilah puisi membuka ruang spiritual, tempat jiwa tak hanya melangkah, tapi juga berlutut.
II. Bahasa yang Sunyi, Tapi Tak Bisu
Gaya Rizal Tanjung dalam puisi ini nyaris tanpa ornamen. Ia menolak gemerlap kata, memilih keheningan sebagai estetika. Tapi justru di situlah kekuatannya. Sebab puisi spiritual bukan untuk mengesankan, melainkan untuk menundukkan.
“Membawa yang tak terlihat: hati yang pernah patah… dan bekas perang batin yang tak disiarkan televisi.”
Kalimat ini menghentak dengan lirih. Dalam dunia yang riuh oleh pengakuan, Tanjung justru mengangkat kesunyian sebagai tempat paling suci. Iman tak harus diumumkan. Ia cukup terasa, di dada yang gentar, di napas yang lirih.
III. Perjuangan yang Tak Mengangkat Pedang
Segmen pertama—Perjuangan—menampilkan jihad batin. Lawannya bukan orang lain, melainkan diri sendiri.
“Melawan nafsu yang menyamar sebagai nikmat.”
Sebuah kalimat yang singkat tapi sarat makna. Tanjung tidak berteriak. Ia hanya menyingkap tabir. Bahwa dosa tak datang dengan wajah mengerikan, tapi seringnya dalam bentuk kelezatan yang menggoda.
Dan senjatanya?
“Tak ada pedang di genggamannya, hanya sabar yang menetes dari keringat sunyi.”
Begitulah jihad sejati: tak berdarah, tapi melelahkan. Tidak gemilang, tapi menyucikan.
IV. Pengorbanan: Ketika Sunyi Menjadi Doa
Bagian kedua—Pengorbanan—mengajak kita melihat makna zuhud dalam bahasa yang puitis.
“Menyerahkan tawa kepada diam, menenun lapar menjadi doa.”
Dalam dunia yang lapar akan kesenangan, puisi ini memuliakan kelaparan sebagai bentuk penghambaan. Setiap penyangkalan diri adalah jembatan menuju Tuhan. Bahkan pemaafan pun bukan sekadar etika, tapi teologi:
“Memaafkan yang tak termaafkan—demi Yang Maha Pemaaf.”
Ini bukan tentang moral. Ini tentang meneladani sifat Ilahi. Tentang menjadi bayangan dari cahaya-Nya.
V. Cinta: Saat Air Mata Menjadi Bahasa
Bagian ketiga—Cinta—adalah klimaks. Tapi ini bukan cinta sentimental. Ini cinta yang tak terucap, karena ia telah menyatu.
“Cinta yang tak bisa dijelaskan—yang membawa air mata ke sajadah tanpa alasan yang bisa dijelaskan pikiran.”
Kita tak lagi membaca puisi. Kita sedang tersungkur. Di titik ini, puisi tidak lagi menjelaskan Tuhan. Ia hanya menghadirkan rasa. Hadir, diam, dan menggetarkan.
Dan akhirnya:
“Kekasihku tak butuh bunga, hanya hati yang menyala.”
Tuhan tidak butuh persembahan lahiriah. Ia menanti cahaya dalam dada. Itulah cinta Ilahi: tidak dipaksakan, tapi menghanguskan.
VI. Rahmat: Akhir yang Membuka
Di ujung puisi, Rizal Tanjung tidak mengklaim surga sebagai hasil amal. Ia memilih kerendahan hati:
“Bukan karena kita layak, tapi karena Dia Maha Pengasih.”
Inilah akhir yang jujur. Di tengah usaha dan pengorbanan, kita tetap menggantungkan diri pada kasih Tuhan. Ini adalah titik sujud puisi. Tempat di mana kata-kata berhenti, dan rahmat mengambil alih.
Kesimpulan
“To Heaven” bukan puisi untuk dijelaskan, tapi untuk diresapi. Ia membuka ruang bagi kita semua—yang remuk, yang lelah, yang rindu pulang. Dalam keheningan bait-baitnya, Rizal Tanjung tidak berkhotbah. Ia hanya mengajak kita untuk berjalan, perlahan, dari bumi yang penuh luka menuju langit yang dipenuhi cinta.
Dan di sana, mungkin, kita tak akan menemukan jawaban. Tapi kita akan menemukan pelukan.
Untuk membaca puisi “To Heaven” lebih lengkap, publik dapat mengaksesnya secara, gratis melalui link official berikut:
Padang, Juni 2025
———————————-
Info Mengenai Leni Marlina
Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan dosen asal Sumatera Barat. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.
Sejak tahun 2022, Leni bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.
Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.
Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.
Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.
Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.
Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.
Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/
Sebagai bagian dari niat untuk berbagi, merangakul dan menjangkau lebih banyak hati, Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)
Melalui puisi, tulisan, dan kegiatan bersama, Leni berusaha untuk terus belajar, berbagi, dan menginspirasi—dengan keyakinan bahwa dari hal-hal kecil, makna besar bisa tumbuh. Ia melangkah tak sendiri, tapi bersama para guru, mentor, tutor, motivator, sahabat, komunitas dan pembaca budiman, Leni turut serta menyalakan lentera literasi dan sastra dari ranah Minang, Nusantara, menuju dunia.
Between Earth and Divine Love: Leni Marlina’s Essay on Rizal Tanjung’s Poem “To Heaven” (2025)