April 16, 2026

(tentang perjuangan, pengorbanan, dan cinta)

Oleh: Rizal Tanjung

Di ujung hari yang gemetar,
di bawah langit yang menampung luka dan doa,
ada jiwa berjalan dengan langkah patah—
menuju rumah yang tak beralamat di peta dunia,
tapi tertulis dalam ingatan cahaya:
Syurga.

Ia tak berjalan sendiri,
angin mengiringi zikir di bibirnya,
matahari menghapus debu air matanya.
Ia membawa sesuatu yang tak tampak:
sebuah hati yang pernah hancur,
sebuah cinta yang tak bisa dibeli,
dan bekas-bekas luka dari perang batin
yang tak disiarkan televisi.

“Aku ingin pulang,” katanya,
bukan ke tanah,
bukan ke rumah,
tapi ke langit yang pernah dijanjikan
oleh bisik sunyi dalam sujud paling dalam.

Perjuangan.

Ia bertarung dengan kesepian yang meracun malam,
melawan syahwat yang menyamar jadi kebahagiaan,
menepis tangan dunia yang menggoda,
sambil menggenggam erat seutas tali tak terlihat—
iman.

Tak ada pedang di tangannya,
yang ada hanya sabar,
yang terus menetes dari peluh diamnya
ketika semua memilih jalan singkat,
ia tetap menyusuri lorong gelap dengan zikir
yang menggores dinding jiwanya:
“La ilaha illallah.”

Pengorbanan.

Ia menyerahkan tawanya kepada keheningan,
menyulam lapar menjadi doa,
dan mematahkan hasrat demi harap
yang tak bisa disentuh dunia.

Ia melepaskan cinta yang salah,
demi cinta yang tak akan mati.
Ia memaafkan orang yang tak layak dimaafkan,
demi Allah yang Maha Pemaaf.

> “Ya Rabb, ambillah segalanya,
asalkan Kau tak ambil Engkau dari aku.”

Cinta.

Bukan cinta pada dunia yang cepat bosan,
bukan cinta pada manusia yang cepat berubah,
tapi cinta yang menggigilkan tulang,
cinta yang tak bisa dilukiskan,
yang membuat air mata jatuh di atas sajadah
tanpa sebab yang bisa dijelaskan.

Cinta yang membuatnya tersenyum dalam kesendirian,
karena ia tahu: Tuhannya melihat.

> “Kekasihku tak butuh bunga,
tapi hati yang dipenuhi cahaya.”

Lalu ia tiba di sebuah malam,
di mana dunia seperti diam sejenak,
dan malaikat menggulung waktu.

Ia rebah dalam sujud yang panjang,
tanpa kata, tanpa permintaan,
hanya sebuah harapan sederhana:
“Ijinkan aku pulang, ya Rabb,
ke rumah yang Kau janjikan sejak sebelum aku lahir.”

Di sanalah:

tiada perang,
tiada air mata,
tiada kehilangan,
tiada takut akan kehilangan cinta.

Hanya taman abadi,
dan wajah-Nya
yang membuat segala perjuangan,
pengorbanan,
dan cinta—
menjadi sempurna.

Itulah Syurga.

Bukan karena kita layak,
tapi karena Dia Maha Pengasih.

Sumatera Barat,2025

Baca juga: 去往天堂/

Menuju Syurga

To Heaven