April 21, 2026
tami5

Dilaporkan oleh: Swary Utami Dewi

Tulisan ini merupakan hasil diskusi publik yang digagas oleh Institut Dialog Antar Iman di Indonesia/ Interfidei, Selasa19 November 2024.

Frederika Korain SH.,MAAPD seorang pengacara dan aktivis HAM Papua/ Anggota KKPKC Keuskupan Jayapura dengan gambalang memaparkan  “Apa dan Bagaiman Cara Terbaik untuk Papua Damai, dipandu Pendeta A. Elga J. Sarapung, Direktur Institut DIAN/Interfidei yang diikuti berbagai participant di seluruh Indonesia.

Papua, tanah yang kaya akan keindahan alam dan budaya, selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu berbagai dinamika yang penuh dengan ketegangan. Namun, ada sebuah harapan besar yang menyatukan seluruh hati, baik orang asli Papua maupun para pendatang yang sudah lama bermukim di Tanah Papua. Harapan itu adalah untuk hidup dalam kedamaian, dengan cara yang manusiawi, bermartabat, dan dihargai, baik di Tanah Papua itu sendiri maupun di seluruh Indonesia.

Tidak hanya orang asli Papua yang memimpikan hidup damai, tetapi juga mereka yang datang dari luar Papua, yang sudah lama menetap dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sana. Bahkan, masyarakat Indonesia di berbagai daerah pun ikut merindukan kedamaian di Papua, mereka yang selalu mengikuti perkembangan situasi di sana dan memahami betul kondisi yang sebenarnya terjadi. Di balik setiap berita, ada harapan besar untuk melihat Papua berdamai dan menjadi tanah yang lebih manusiawi, dengan kehidupan yang dihargai, beradab, dan penuh martabat.

Mimpi atau Realitas?

Pertanyaan yang muncul adalah, apakah harapan dan impian ini hanya sebuah ilusi atau benar-benar bisa terwujud? Apakah kehidupan yang layak, dengan hak-hak dasar yang dihargai—seperti pendidikan yang baik, kesehatan yang layak, dan lingkungan yang bebas dari kerusakan akibat eksploitasi—hanya sekadar mimpi? Orang Papua, yang memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan alam, berharap agar hutan, air, dan laut mereka tetap lestari, jauh dari tangan-tangan serakah yang merusak alam dan mengancam kehidupan mereka.

Bagi orang Papua, alam bukan hanya tempat hidup, tetapi juga bagian dari makna kehidupan mereka. Mereka memiliki ikatan yang dalam dengan tanah, hutan, laut, dan segala bentuk kehidupan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, merusak alam adalah sama dengan merusak kehidupan itu sendiri. Dalam konteks ini, kedamaian sejati tidak hanya soal menghentikan konflik, tetapi juga menghargai kehidupan yang saling menghidupkan antara manusia dan alam.

Dialog, Bukan Kekerasan

Sebagai umat beriman yang percaya pada Sang Pencipta, orang Papua dan seluruh bangsa Indonesia yang mendambakan kedamaian, tetap optimis bahwa Papua bisa menjadi tanah yang damai. Namun, syarat utama untuk mewujudkan kedamaian ini adalah adanya pendekatan yang berbasis pada dialog, bukan kekerasan. Pendekatan keamanan yang selama ini digunakan oleh pemerintah dan aparat keamanan terbukti tidak efektif. Kekerasan hanya akan memperburuk situasi, menambah ketegangan, dan memicu siklus balas dendam yang tidak pernah berujung.

Pendekatan keamanan, meski sering dipandang sebagai solusi untuk menjaga ketertiban, pada kenyataannya lebih sering memperburuk keadaan. Kekerasan tidak hanya menambah luka, tetapi juga menghilangkan kesempatan untuk membangun kehidupan yang saling menghargai antara masyarakat sipil dan aparat. Pendekatan ini juga sangat berisiko melegitimasi tindakan kekerasan yang menghilangkan akal sehat dan hati nurani. Sebagai gantinya, pendekatan yang berbasis pada dialog, saling pengertian, dan saling menghargai adalah jalan yang lebih masuk akal untuk membangun perdamaian.

Tantangan Pengembangan Wilayah

Namun, tantangan besar lainnya juga muncul terkait dengan kebijakan pemerintah yang melibatkan pengerahan TNI, transmigrasi, dan perluasan wilayah untuk pengembangan produksi pangan. Kebijakan-kebijakan ini, meskipun dimaksudkan untuk memajukan Papua, justru seringkali dirasakan tidak seimbang dengan upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat orang asli Papua. Perlu ada perhatian serius terhadap kebutuhan mendasar orang Papua, seperti pendidikan yang layak, kesehatan yang benar-benar terjamin, dan kebebasan dari stigmatisasi.

Pembangunan yang tidak memperhatikan kebutuhan dan hak-hak orang asli Papua akan menciptakan ketimpangan yang lebih dalam. Selain itu, kebijakan yang tidak berbasis pada pemahaman yang mendalam tentang budaya dan cara hidup orang Papua justru berpotensi merusak hubungan mereka dengan alam dan tradisi yang sudah ada sejak lama. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan orang asli Papua dalam setiap proses pengambilan keputusan yang terkait dengan pembangunan di Tanah Papua.

Peran Masyarakat dan Aktivis

Seorang tokoh penting dalam perjuangan hak asasi manusia di Papua, Frederika Korain, yang juga seorang advokat, mengajak semua pihak untuk berfokus pada dialog sebagai jalan menuju perdamaian. Ia percaya bahwa membangun kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan adalah kunci untuk mencapai Papua yang damai, bermartabat, dan manusiawi. Dengan memperkuat martabat orang asli Papua, memberikan mereka akses pendidikan dan kesehatan yang layak, serta melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka, diharapkan kedamaian di Papua bisa terwujud.

Penting untuk diingat bahwa Papua adalah rumah bagi orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan alam. Untuk itu, segala upaya untuk mewujudkan Papua yang damai harus mempertimbangkan nilai-nilai lokal dan budaya yang sudah lama tumbuh di sana. Hanya dengan pendekatan yang menghargai keunikan dan kekayaan budaya Papua, serta dengan melibatkan orang asli Papua dalam setiap keputusan yang diambil, kedamaian yang sejati dapat tercapai.

Harapan untuk Papua

Dalam doa dan harapan banyak orang, baik orang asli Papua, pendatang, maupun masyarakat Indonesia secara umum, tersemat satu harapan besar: agar Papua bisa menjadi Tanah Damai, tempat di mana orang asli Papua bisa hidup dengan bermartabat, dihargai, dan bahagia di Tanah mereka sendiri. Harapan ini bukanlah hal yang mustahil, namun memerlukan usaha dan komitmen yang nyata dari semua pihak—pemerintah, masyarakat, dan aparat keamanan—untuk mewujudkan Papua yang damai, adil, dan sejahtera, bagi semua warganya.