Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

APAKAH SALAHKU DAN APAKAH DOSAKU

🏝Butir Butir Pasir Di Laut
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

Kabut pagi masih menggantung di lereng Bukit Barisan ketika Veemaniz berdiri di halaman rumah gadang keluarganya di sebuah nagari kecil di Kabupaten Tanah Datar.
Udara dingin menusuk kulitnya, seakan ikut merasakan getir yang memenuhi dadanya dengan tangis dukalara.

Sejak kecil, Veemaniz dibesarkan dengan ajaran adat: “Alam Takambang Jadi Guru”. Namun hari itu, alam seakan tidak memberinya jawaban apa pun.
Ia memeluk lengannya sendiri, mencoba menahan guncangan yang sejak kemarin terus menggoyahkan hatinya. Di nagari itu, orang-orang sudah mulai berbisik tentang dirinya. Tentang fitnah yang menimpanya. Tentang kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

“Apakah salahku… apakah dosaku sampai aku diperlakukan begini?” rintihnya sambil menatap sawah yang menguning.
Veemaniz bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor pemerintah di Padang. Orang tuanya sangat bangga; seorang anak kemenakan dari Rumah Gadang bisa meraih pekerjaan baik adalah kemuliaan bagi kaum.

Namun kebanggaan itu tiba-tiba berubah jadi aib ketika sebuah laporan keuangan kantor dinyatakan “diacak-acak” oleh seseorang dan nama Veemaniz tiba-tiba menjadi tersangka.

“Vee yang kelola datanya kan? Siapa lagi?” kata seorang rekan kerja sambil mengangkat bahu.
Padahal ia tahu persis, bukan Vee yang terakhir memegang data itu. Tetapi kesalahan butuh kambing hitam, dan Vee adalah pilihan paling mudah.

Ia pendiam, tidak punya kedekatan dengan atasan, dan bukan tipe yang suka membela diri.
Hari itu, atasan memanggilnya.
“Kami sangat kecewa. Untuk sementara kamu diberhentikan dari tugas.”
Kalimat itu seperti petir pecah di telinga. Veemaniz berdiri terpaku, kakinya lemas. Ia pulang ke nagari malam itu juga, naik travel dengan mata bengkak.

Sepanjang perjalanan dari Padang menuju kampung, ia hanya mampu menahan tangis. Lampu-lampu kota, jembatan Siti Nurbaya yang biasanya indah, tak lagi berarti apa-apa.
Di rumah gadang, ibunya menangis memeluknya.
“Anak ambo… maafkan awak ndak bisa bantu banyak,” katanya lirih.

Tapi Veemaniz hanya tersenyum hambar.
“Indak apa-apa, Mak. Vee kuat.”
Meski kata itu ia ucapkan, hatinya remuk.
Beberapa hari berikutnya, bisik-bisik mulai terdengar di surau, di lapau, di warung nasi kapau.

“Kasihan, anak Mak Ita itu… dibilang salah urus ke kantor.”
“Padahal anak tu baik bana. Tapi kalau ado asap, pasti ado api.”

Veemaniz menahan semuanya. Ia memilih menenangkan diri di pinggir batang air dekat rumah gadang. Sungai kecil itu mengalir tenang, diapit pepohonan bambu yang berdesir ketika angin datang.

“Ya Allah… Apakah salahku? Apa dosaku sampai dipermalukan begini?”
Air matanya mengalir lagi. Kali ini lebih deras.

Namun hidup selalu punya cara menunjukkan pelan-pelan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar hilang.
Suatu sore, saat ia baru selesai menjemur pakaian, ponselnya berdering.Nomor kantor.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

“Vee… kami sudah temukan data audit terbaru. Kesalahan bukan pada kamu. Ada oknum lain yang memindahkan file. Kamu benar selamat kini.”
Vee terdiam. Hanya suara angin yang terdengar, meniup daun waru di halaman.

“Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Kamu diharapkan kembali bekerja besok.”
Setelah telepon ditutup, Veemaniz terduduk di tangga rumah gadang.
Ia menangis—bukan karena sedih, tetapi karena lega setelah berbulan-bulan dihujat tanpa bukti.
Ibunya duduk di sampingnya, memeluk bahu putrinya.

“Nah… jan ditangisi lai. Kalau urang salah sangko, Allah ndak salah sangko. Kebenaran itu lambek, tapi manang juo di akhir.”

Vee mengangguk. Kata-kata ibunya bagai embun penyejuk bagi jiwanya.

Malam itu, di dalam kamar kecil berukir ukiran Minang, ia menulis di buku hariannya:
“Tak semua luka adalah hukuman. Tak semua fitnah berarti dosa. Kadang, Allah hanya ingin memperlihatkan siapa yang benar dan siapa yang berpura-pura.
Aku tidak salah, tidak berdosa. Aku hanya diuji—agar saat bangkit nanti, aku berdiri lebih tinggi daripada rasa sakitku.”

Dan ketika lampu dimatikan, Vee tidur dengan hati yang lebih ringan.
Ia tahu besok, langkahnya kembali menapaki Padang.
Bukan sebagai orang yang dipersalahkan…
Tetapi sebagai orang yang akhirnya dibenarkan.