Autopsi Kebudayaan yang Dibunuh Perlahan: DKSB, Seniman yang Tertidur
Oleh: Rizal Tanjung| Sastrawan dan Budayawan Sumbar
–
Di Sumatera Barat, kebudayaan hari ini tidak mati karena kekurangan seniman.
Ia mati karena kelebihan kepura-puraan.
Kita hidup di sebuah teater besar bernama “pelestarian budaya”, tempat bangkai legitimasi dipoles bedak seremoni, disorot lampu festival, lalu dipertontonkan seolah masih bernapas. Penonton bertepuk tangan. Pejabat berpidato. Seniman tersenyum.
Dan tak satu pun bertanya: mengapa mayat ini belum dikubur?
DKSB adalah mayat itu.
Sudah lama mati.
Tapi terlalu memalukan untuk diakui.
Maka ia dipertahankan dalam bentuk zombie kelembagaan: bergerak tanpa mandat, berbicara tanpa hak, eksis tanpa legitimasi.
Seniman: Dari Nurani Peradaban Menjadi Aksesoris Proposal
Dahulu, seniman adalah penyalak kesadaran sejarah.
Kini, sebagian besar hanya penjaga panggung seremonial.
Ketika mandat DKSB berakhir, seharusnya seniman bangkit seperti badai:
— menuntut pertanggungjawaban
— membongkar kebusukan prosedural
— menggelar musyawarah besar
— membersihkan sistem
Yang terjadi?
Mereka memilih tidur panjang seperti Putri Legitimasi yang dikutuk malas berpikir.
Sepuluh tahun lebih bukan lupa.
Itu disengaja.
Karena menggugat berarti ribut.
Ribut berarti kehilangan akses proyek.
Kehilangan akses berarti kehilangan uang saku kebudayaan.
Maka diam menjadi ideologi.
Diam adalah mata uang kebudayaan Sumatera Barat.
Dan dari diam itulah kebusukan tumbuh subur.
Negara: Bandar Pesta di Pemakaman Budaya
Sementara itu pemerintah berperan sempurna sebagai:
MC pemakaman kebudayaan yang berpura-pura pesta.
Setiap tahun:
festival baru
foto baru
pidato baru
spanduk baru
Tapi:
tulang punggung kelembagaan dibiarkan hancur
Negara tidak bodoh.
Negara tahu DKSB mati.
Tapi bangkai lebih mudah dikendalikan daripada komunitas yang hidup.
Lembaga mati tidak menggugat anggaran.
Tidak ribut kebijakan.
Tidak mengganggu narasi sukses pembangunan.
Mayat kebudayaan adalah mitra ideal kekuasaan.
Legitimasi ala Dukun Birokrasi
Kini muncul ide jenius:
biar pemerintah saja membentuk DKSB.
Ini seperti memanggil dukun administrasi untuk menghidupkan jenazah demokrasi kebudayaan.
Mantra stempel.
Jimat SK.
Ritual rapat.
Tadaaa — lembaga baru lahir tanpa komunitas.
Inilah puncak degradasi seni:
ketika mandat budaya digantikan sihir birokrasi.
Besok mungkin legitimasi adat juga bisa dicetak di printer kantor.
Sumatera Barat: Museum Hidup yang Tak Tahu Ia Sudah Mati
Yang sedang dibangun hari ini bukan kebudayaan.
Yang dibangun adalah industri nostalgia.
Tradisi dipajang seperti fosil.
Seniman dijadikan dekorasi event.
Budaya dikomodifikasi untuk brosur wisata.
Tak ada ekosistem.
Tak ada regenerasi.
Tak ada demokrasi seni.
Hanya pertunjukan masa lalu yang diulang tanpa masa depan.
Sumatera Barat perlahan berubah dari peradaban menjadi etalase.
Kebenaran yang Tidak Enak Didengar
Mari jujur brutal:
DKSB mati karena seniman malas menggugat
Sistem busuk karena negara senang mengendalikan
Kebudayaan stagnan karena semua nyaman dalam kepura-puraan
Tidak ada konspirasi besar.
Hanya kemalasan kolektif yang dibiarkan menjadi tradisi.
—
Manifesto Pedas Terakhir
Kalau ingin terus jujur pada kebusukan, lakukan sekalian:
Ganti visi kebudayaan Sumbar menjadi:
> “Pelestarian Bangkai Legitimasi Berbasis Event Tahunan.”
Bentuk lembaga budaya lewat dinas.
Angkat seniman lewat proposal.
Rawat tradisi lewat festival.
Dan jangan lagi bicara peradaban.
Karena peradaban butuh keberanian.
Sementara yang kita punya hanyalah kenyamanan dalam kebohongan.
—
Atau Hadapi Kenyataan Pahit
Kalau masih ingin menyelamatkan kebudayaan:
Seniman harus menggugat sejarahnya sendiri
Membersihkan kepengurusan basi
Menggelar mubes sejati
Negara hanya memfasilitasi, bukan menciptakan legitimasi
Selain itu?
Semua hanya sandiwara.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.