Yusufachmad Bilintention
Bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari luka yang kita buat sendiri. Di Sumatra, badai bandang yang menyapu ribuan rumah, merendam sawah, dan merenggut nyawa, lahir dari hutan yang digunduli, tanah yang digali, dan sungai yang dipaksa menanggung beban rakus manusia. Puisi Anto Narasoma ini lahir dari kemarahan, dari kekecewaan, dan dari ketidakpercayaan atas tragedi yang seharusnya bisa dicegah. Ia bukan sekadar kata, melainkan jeritan yang menuntut kita untuk melihat lebih dalam: siapa yang sesungguhnya bersalah, dan siapa yang paling menderita.
anto narasoma
BADAI SUMATRA
di sepanjang kesenyapan,
daun-daun pun mengering,
suara pembabat hutan yang membawa cerita busuk menumbangkan kematian dalam diam
tak ada gelagat perlawanan,
karena pistol dan tajamnya kebijakan itu mati sebelum mati
ribuan batang
dan pepohonan yang terseret tumbang,
menitikkan air bah
ke sela-sela kampung
lumpur dan tanah merah yang menerbitkan serpihan tanah kuburan,
menjadi pemakaman paling panjang di dalam diam
akhirnya,
badai kemarin
seperti paket informasi
setelah kayu-kayu hutan menjadi penghuni kubur di antara emosiku
sebab,
kemarahan itu tiba dalam keheningan
yang mencabut nyawa orang-orang tak berdosa
o, kemana polisi hutan, kejaksaan, dan penegak hukum yang memiliki pistol tak berpeluru?
Palembang
1 November 2025
Puisi ini tercetus begitu saja. Ada beberapa saat saya merilis tiap kalimat yang menjelaskan tentang metapora kemarahan, kekecewaan, dan ketidakpercayaan atas ratusan kematian akibat tabrakan air bah bercampur tanah liat merah.
Dari kejadian selama beberapa waktu, jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah. Bahkan fasilitas publik terdampak sangat berat. Di Sumatra Barat terdapat 1000 lebih rumah rusak, serta tujuh jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan total.
Dari catatan yang saya peroleh, ada lebih dari 79.000 warga Sumatra Barat yang mengungai ke kawasan aman. Sedangkan sebagian besar kembali ke tinggalnya, dan membersihkan rumahnya dari lumpur merah serta serpihan batang kayu yang mengotori halaman hingga ke ruang dalam rumah penduduk.
Meski rumah mereka sudah dibersihkan namun demi keamanan, banyak warga yang tetap bermalam di posko pengungsian.
Dalam peristiwa itu, di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, 6.259 dari jumlah total 7.466 hektare lahan padi terancam gagal panen. Sebab lahan seluas itu hingga hari ini masih terendam air lumpur.
Yang saya kagum, pemerintah pusat dan daerah telah menetapkan status tanggap darurat. Dari upaya yang dilakukan, tim gabungan terus berusaha membuka akses jalan di wilayah yang terisolasi. Sedangkan distribusi logistik bagi warga yang masih bertahan dalam kondisi sulit masih tetap bertahan.
Jika diperhatikan, bajir bandang yang luar biasa besarnya ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan, termasuk erosi tanah dan sedimentasi di sungai-sungai yang ada. Apabila tak segera ditangani secara signifikan, maka situasi ini akan memperburuk kondisi lingkungan setempat.
Saya heran, kok kondisi buruk seperti ini sebelum banjir bandang tiba, tidak kita ketahui kerusakan hutan dan lingkungan karena pembabatan batang dan pepohonan, serta penggalian berat akibat adanya pertambangan ilegal.
Dari penelusuran tim yang diturunkan ke lapangan, warga sudah mengetahui kondisi buruk di sekitarnya, meskipun mereka mungkin tidak selalu terlibat langsung dalam aktivitas haram tersebut.
Sebenarnya, dari pengakuan warga sendiri, mereka seringkali mengetahui aktivitas ilegal yang terjadi di wilayah mereka. Terutama ketika keadaannya berdampak langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Seperti terjadinya pencemaran air dan kerusakan lingkungan yang meresahkan. Kondisi ini tentu saja akan menyengsarakan mereka. Terbukti, setelah banjir bandang datang, brak, harta benda dan nyawa mereka lenyap seketika ditimbun lumpur tanah merah.
Bisa jadi, warga merasa terpaksa untuk terlibat dalam aktivitas ilegal karena kebutuhan ekonomi akibat kekurangan alternatif mata pencarian di wilayah kehidupan mereka.
Sebenarnya mereka sadar apa yang dilakukan itu sangat berisiko tidak baik bagi masa mendatang. Misalnya terjadi penggundulan hutan dan penggalian tambang ilegal terhadap lingkungan, sehingga sangat berdampak buruk bagi kesehatan mereka.
Namun warga merasa tidak berdaya menghadapi kebutuhan hidup bagi anak, istri, dan kerabat mereka untuk mengubah keadaan yang memaksa mereka dalam kondisi sulit. (*)
Badai Sumatra bukan hanya kisah tentang banjir bandang, lumpur merah, dan rumah yang hancur. Ia adalah peringatan keras bahwa alam yang dirusak akan menagih balasannya dengan cara paling kejam. Puisi ini adalah suara solidaritas, suara perlawanan, dan suara pengingat bahwa hukum tanpa peluru, kebijakan tanpa keberanian, hanya akan melahirkan kematian dalam diam. Semoga dari luka ini lahir kesadaran, dari kehilangan ini lahir keberanian, dan dari puisi ini lahir tekad untuk menjaga bumi agar tragedi serupa tak lagi menjadi pemakaman panjang bagi generasi mendatang.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly