BARANGNYA MANA?
๐๐ญ๐ฆ๐ฉ: ๐๐ฆ๐ณ๐ณ๐บ ๐๐ซ๐ข๐ฉ๐ซ๐ฐ๐ฏ๐ฐ
–
Suara Anak Negeri News.Com โย Ada jenis keraguan yang bukan lagi bernuansa pencarian, melainkan menjadi profesi. Kita menyaksikan satu sosokโyang dulunya pernah diberi kepercayaan publik, meski tak hafal lagu kebangsaan, mantan pejabatโnamun kini menjelma menjadi โmantan yang tak mau selesai.โ
Ketika kebenaran telah diumumkan oleh otoritas resmiโBareskrim Polri, bahwa ijazah Jokowi asli โ orang ini masih saja waton ngeyel bertanya dengan nada setengah nyinyir:
“Barangnya mana?”
Bukan ingin tahu, tapi ingin menyangkal.
๐ฃ๐๐ถ๐ธ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐๐ธ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฎ๐ธ ๐ ๐ฎ๐ ๐ฆ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ต
Psikologi sosial menyebut ini sebagai cognitive dissonance (Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance).
Teori ketegangan batin saat realitas menghantam keras dinding keyakinan pribadi. Dalam keadaan ini, banyak orang memilih menyangkal kebenaran daripada membongkar ulang bangunan keyakinan yang telah lama dihuni.
Namun dalam dosis kronis, disonansi ini bisa melahirkan delusional persistence (Albert Ellis secara tidak langsung membahas bentuk irasionalitas ini)โketika seseorang mempercayai sesuatu begitu kuat, hingga seluruh fakta yang berlawanan dianggap sebagai bagian dari konspirasi.
Di sinilah muncul apa yang bisa kita sebut sebagai โpenyebar kabutโโmereka yang tak hanya tersesat, tapi ingin orang lain ikut tersesat bersamanya.
Ditambah lagi dengan confirmation bias (Ray Nickerson)โkecenderungan menyerap hanya informasi yang cocok dengan narasi pribadiโmaka kebenaran bukan lagi soal bukti, melainkan soal loyalitas pada versi yang sudah terlanjur diyakini.
Dan ketika emosi menjadi bahan bakar: dendam, kekecewaan, gengsi yang mengeras, maka disonansi itu bisa menjadi epidemi sosial.
๐ ๐ฒ๐ป๐๐น๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ ๐๐บ๐ผ๐๐ถ
Semua fenomena tersebut berbahaya, sekaligus menular. Dalam dunia digital, satu suara sumbang bisa menjadi simfoni kebingungan.
Bukan karena kebenarannya kuat, tapi karena nadanya terus diulangโhingga menggoyahkan mereka yang rapuh, ragu, atau tak sempat mencerna.
Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai moral panic (Stanley Cohen, Folk Devils and Moral Panics: The Creation of the Mods and Rockers): keresahan yang dibentuk oleh hasutan kolektif, bukan oleh kebenaran.
Media sosial mempercepatnya. Suara-suara sinis saling menyambut dalam gema algoritma, menjelma jadi orkestrasi ke(curiga)an.
Yang awalnya hanya satu pertanyaan retorisโ”Barangnya mana, atau Mana Barangnya?”โberubah menjadi insinuasi yang menyulut, seolah kecurigaan itu adalah bentuk kecerdasan.
Padahal, yang sedang dimainkan bukanlah logika, melainkan ilusi kendali atas narasi yang telah lepas dari genggaman.
๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฅ๐ฎ๐๐ฎ ๐ ๐ฎ๐น๐ ๐ง๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ด๐ถ ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐ฒ๐บ ๐ฆ๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น
Dalam tradisi Timur, ada etika bernama tahu diri. Nilai ini mengajarkan bahwa ada saatnya seseorang memilih diam, bukan karena tak punya suara, tetapi karena suara yang akan keluar hanya akan menambah kebisingan.
Namun kini, rasa malu telah digantikan oleh ego yang lapar akan relevansi. Semakin tak punya isi, semakin keras bicara.
Orang yang kehilangan rasa malu bisa menjadi “bahaya yang menyebar dengan diam-diam”. Seperti asap dari api yang tak terlihat, ia masuk ke celah logika masyarakatโdan perlahan-lahan, membuat kebenaran tampak seperti opini belaka.
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด
Kadang, kita tidak sedang berhadapan dengan argumen, tapi dengan luka yang belum selesai. Dan luka yang dipelihara terlalu lama, akan berubah jadi identitas.
Dalam keadaan seperti itu, mengajak bicara pun menjadi tugas sunyi: karena logika tak lagi berfungsi, dan setiap fakta dianggap ancaman.
Apa yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah lebih banyak penggugat, tapi lebih banyak penjernih. Bukan mereka yang mempertanyakan segalanya demi sorotan, tapi mereka yang berani diam demi integritas.
Dan jika masih ada yang bertanya: “Barangnya mana?”
Barangkali kita tak perlu lagi menunjukkan dokumenโcukup kita sodorkan cermin.
Agar siapa pun yang melihat,
tak hanya melihat kebenaran,
tapi juga melihat dirinya sendiri.
Dan seperti yang diajarkan oleh sejarah dan para pendidik batin:
kadangโkita tidak bisa menyembuhkan orang yang menolak disembuhkan.
Tapi kita bisa menjaga agar tidak ikut tertular. Kita bisa menjadi ruang bening, tempat orang lain bisa melihat cermin.